Monday, May 24, 2010

Usefull Words In Daily Life For Muslim

Assalaamu Álaykum (Peace be upon you) - by way of greetings

Wa alaykumus salaam (peace be upon you) - in reply to the greetings

Bismillah (in the name of Allah) - before making a beginning

Jazakallah (may Allah reward you) - for expression of thanks

Fi Amanullah (may Allah protect you) - by way of saying good-bye

Subhaanallah (glory be to Allah) - for praising something

Insha Allah (if Allah wishes) - for expressing a desire to do something

Astaghfirullah (I beg Allah for forgiveness) - repenting for sins before Allah

Maa shaa Allah (as Allah has willed) - for expressing appreciation of something good

Alhamdulillah (praise be to Allah) - for showing gratitude to Allah after success or even after completing anything

Yaa Allah (Oh Allah) - when in pain or distress, calling upon Allah and none else

Aameen (may it be so) - the end of a Dua or prayer
Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji'oon (to Allah we belong and to Him is our return) - this is uttered as an expression of sympathy of the news of some loss or some one's death

As salamu aleiykum wa rahmatullahi wa barakatuh -Peace and mercy and blessings of Allah be upon you

Waleiykum assalam wa rahmatullahi wa barakatuh-And peace and mercy and blessings of Allah be upon you

Bismillah - before making a beginning In the name of Allah

May Allah reward you - JazakAllahu khair for _expression of thanks May Allah reward you for the good

BarakAllahu feekum - responding to someone's thanks May Allah bless you

Astaghfirullah - repenting for sins before Allah I beg Allah for forgiveness

Aameen - the end of a Dua or prayer May it be so

Sal allahu aleihi wasallam - whenever say the name of Prophet Muhammad Peace be upon him (S.A.W.)

Alaihi salaam - whenever say the name of a prophet Peace be upon him (A.S.)

Radi Allah Anhu - whenever say name of male companion of the Prophet (Sahabi) May Allah be pleased with him (R.A.)

Radi Allah Anha - whenever say name of female companion of the Prophet May Allah be pleased with her (R.A.)

Radi Allah Anhum - Plural form of saying companions of the Prophet May Allah be pleased with them (R.A.)

La hawla wala quwata illah billah - during the time of troubles There is no strength nor power except Allah

Fi sabi lillah - giving charity For the sake of Allah

"Tawakkal-tu-Allah - rely on Allah) to solve a problem

Tawkkalna-Alai-Allah - we have put our trust in Allah) when you wait for a problem to be solved.

Rahmah Allah - Allah have Mercy on him) when you see someone in distress.

Na'uzhu-bi-Allah - when we seek refuge in Allah) to show your dislike.

Inna Lillah - we are for Allah - when you hear about a death

Atqaa Allah -fear Allah - when you see someone doing a bad deed.

Allahu Yahdika - may Allah guide you - to forbid somebody to do something indecent.

Hayyak Allah - (Allah maintain your life) when you greet someone.

Allah Aalam - (Allah knows best) when you say something you are not sure of.

Tabarak Allah - (blessed be Allah) when you hear a good news

Hasbi Allah - (Allah will suffice me) when you are in a difficult situation.

Azhak Allah Sinnaka - (May Allah keep you cheerful) when you seek another Muslim with cheerful countenance.

Saturday, May 22, 2010

Al thoifah al mansuroh?

[1]- Thaifah Manshurah : siapakah mereka ?



Mayoritas ulama salaf ----seperti imam Ali bin Madini, Al Bukhari dan Ahmad--- menyatakan bahwa thaifah manshurah adalah ashabul hadits. Namun ada sebuah kebingungan dan kesulitan dalam pemahaman ketika mendapatkan hadits-hadits tentang thaifah manshurah menyebutkan salah satu sifat utama thaifah manshurah adalah jihad fi sabilillah, sebagaimana diriwayatkan oleh shahabat Jabir bin Abdullah, Imran bin Hushain, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Uqbah bin Amir rhadiyallahu anhu. Bahkan sebab disabdakannya hadits tentang thaifah manshurah adalah untuk menunjukkan tetap berlangsungnya jihad sampai hari kiamat dan bahwa Islam akan menang melalui jihad ;



عَنْ سَلَمَةَ بْنِ نُفَيْلٍ الكِنْدِي، قَالَ: كُنْتُ جَالِساً عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ r، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَذَالَ النَّاسُ الْخَيْلَ، وَوَضَعُوا السِّلاَحَ، وَقَالُوا: لاَ جِهَادَ، قَدْ وَضَعَتِ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ‍‍! فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ r بِوَجْهِهِ وَقَالَ : كَذَبُوا! اَلْآنَ، اَلْآنَ جَاءَ اْلقِتَالُ، وَلاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ يُقَاتِلُوْنَ عَلىَ الْحَقِّ، وَيُزِيْغُ اللهُ لَهُمْ قُلُوْبَ أَقْوَامٍ وَيَرْزُقُهُمْ مِنْهُمْ، حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ، وَحَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللهِ، وَالْخَيْلُ مَعْقُودٌ فِي نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ



Dari Salamah bin Nufail Al Kindi ia berkata,’ Saya duduk di sisi Nabi, maka seorang laki-laki berkata,” Ya Rasulullah, manusia telah meninggalkan kuda perang dan menaruh senjata. Mereka mengatakan,” Tidak ada jihad lagi, perang telah selesai.” Maka Rasulullah menghadapkan wajahnya dan besabda,” Mereka berdusta !!! Sekarang, sekarang, perang telah tiba. Akan senantiasa ada dari umatku, umat yang berperang di atas kebenaran. Allah menyesatkan hati-hati sebagian manusia dan memberi rizki umat tersebut dari hamba-hambanya yang tersesat (ghanimah). Begitulah sampai tegaknya kiyamat, dan sampai datangya janji Allah. Kebaikan senantiasa tertambat dalam ubun-ubun kuda perang sampai hari kiamat.”[1]

لَنْ يَبْرَحَ هَذَا الدِّيْنُ قَائِماً يُقَاتِلُ عَلَيْهِ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِيْنَ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ

“ Dien ini akan senantiasa tegak, sekelompok umat Islam berperang di atas dien ini sampai tegaknya hari kiamat.”[2]

Maka, thaifah manshurah adalah kelompok ilmu dan jihad : kelompok yang berada di atas manhaj salafu sholih, berdasar ilmu yang shahih dan menegakkan Islam dengan jalan jihad fi sabilillah. Oleh karena itu, setelah menyebutkan pendapat imam Bukhari dan Ahmad yang menyatakan bahwa thaifah manshurah adalah ashabu hadits, imam An Nawawi berkata :

وَيَحْتَمِلُ أَنَّ هَذِهِ الطَّائِفَةَ مُفَرَّقَةً بَيْنَ أَنْوَاعِ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُمْ شُجْعَانٌ مُقَاتِلُونَ وَمِنْهُمْ فُقَهَاءُ وَمِنْهُمْ مُحَدِّثُونَ وَمِنْهُمْ زُهَّادٌ وَآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَناَهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَمِنْهُمْ أََهْلُ أَنْوَاعٍ أُخْرَى مِنَ الْخَيْرِ وَلاَ يَلْزَمُ أَنْ يَكُونُوا مُجْتَمِعِيْنَ، بَلْ قَدْ يَكُونُونَ مُتَفَرَّقِيْنَ فِي أَقْطَارِ اْلأَرْضِ

“ Boleh jadi thaifah manshurah ini tersebar di antara banyak golongan kaum muskmin ; di antara mereka ada para pemberani yang berperang, para fuqaha’, para ahli hadits, orang-orang yang zuhud, orang-orang yang beramar makruf nahi mungkar, dan juga para pelaku kebaikan lainnya dari kalangan kaum mukin. Mereka tidak harus berkumpul di satu daerah, namun bisa saja mereka berpencar di penjuru dunia.”[3]

Demikian juga imam Syaikhul Islam imam Ibnu Taimiyah, beliau menyatakan kelompok yang paling berhak mendapat sebutan thaifah manshurah adalah kelompok yang berjihad. Ketika berbicara tentang umat Islam di Syam dan Mesir yang berjihad melawan tentara Tartar yang beragam Islam namun berhukum dengan hukum Ilyasiq (hukum positif rancangan Jengish Khan), beliau berkata :

أَمَّا الطَّائِفَةُ باِلشَّامِ وَمِصْرَ وَنَحْوُهُمُا، فَهُمْ فِي هَذَا الْوَقْتِ الْمُقَاتِلُونَ عَنْ دِيْنِ اْلإِسْلاَمِ، وَهُمْ مِنْ أَحَقِّ النَّاسِ دُخُولاً فِي الطَّائِفَةِ الْمَنْصُوْرَةِ الَّتِي ذَكَرَهَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِقَوْلِهِ فِي اْلأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ الْمُسْتَفِيْضَةِ عَنْهُ:«لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلَحَقِّ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ وَلاَ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ» وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: «لاَ يَزَالُ أَهْلُ اْلَغْرِبِ»

“ Adapun kelompok umat Islam di Syam, Mesir dan wilayah lain yang saat ini berperang demi membela Islam, mereka adalah manusia yang paling berhak masuk dalam golongan thaifah manshurah yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits shahih yang sangat terkenal…”[4]

Maka tak diragukan lagi, para ulama yang berjihad adalah kelompok muslim yang paling berhak disebut sebagai thaifah manshurah. Bahkan syaikhul Islam imam Ibnu Taimiyah menyatakan, kelompok umat Islam ---sekalipun mereka adalah para ulama besar--- yang tidak berjihad ketika jihad telah menjadi fardhu ‘ain adalah kelompok penggembos (thaifah mukhadzilah), bukan thaifah manshurah. Pada tahun 699 H tentara Tartar yang beragama Islam namun berhukum dengan hukum Ilyasiq, bergerak akan menyerang kota Halb (Syiria), pasukan Islam dari Mesir mundur sehingga hanya tersisa pasukan Islam Syam yang akan berjihad melawan Tartar. Saat itu beliau menulis surat kepada kaum muslimin dan menyatakan bahwa umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok ;

فَهِذِهِ الْفِتْنَةُ قَدْ تَفَرَّقَ النَّاسُ فِيْهَا ثَلاَثَ فِرَقٍ :

اَلطَّائِفَةُ الْمَنْصُوْرَةُ وَهُمُ الْمُجَاهِدُوْنَ لِهَؤُلاَءِ اْلقَوْمِ الْمُفْسِدِيْنَ.

وَ الطَّائِفَةُ الْمُخَالِفَةُ وَهُمْ هَؤُلاَءِ الْقَوْمُ وَمَنْ تَحَيَّزَ إِلَيْهِمْ مِنْ خَبَالَةِ الْمُنْتَسِبِيْنَ إِلَى اْلإِسْلاَمِ

وَ الطَّائِفَةُ الْمُخَذِّلَةُ وَهُمُ الْقَاعِدُوْنَ عَنْ جِهَادِهِمْ وَ إِنْ كَانُوا صَحِيْحِي اْلإِسْلاَمِ.

فَلْيَنْظُرِ الرَّجُلُ أَيَكُونُ مِنَ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ أَمْ مِنَ الْخَاذِلَةِ أَمْ مِنَ الْمُخَالِفَةِ, فَمَا بَقِيَ قِسْمٌ رَابِعٌ.



“ Dalam menghadapi fitnah ini, manusia telah terpecah menjadi tiga kelompok :

Thaifah Manshurah ; yaitu kaum mukmin yang berjihad melawan kaum yang merusak (tartar).

Thaifah mukhalifah (kelompok musuh) ; yaitu kaum perusak (tartar) dan “sampah-sampah” kaum muslimin yang bergabung (memihak) kepada mereka.

Thaifah mukhadzilah : yaitu umat Islam yang tidak berjihad melawan mereka,s sekalipun keislaman mereka benar.

Maka hendaklah setiap orang melihat, termasuk kelompok manakah dirinya ; Thaifah Manshurah, Thaifah mukhadzilah ataukah Thaifah mukhalifah, karena tidak ada kelompok keempat !!!?”[5]

Ya. Thaifah manshurah adalah kelompok umat Islam yang tidak malu bila dituduh menegakkan Islam lewat jalan kekerasan senjata, karena Islam hanya bisa tegak dengan kokoh ketika Al Qur’an ditopang oleh pedang, sebagaimana firman Allah Ta’ala [QS. Al Hadid : 25] dan sabda Rasulullah ;

عَنِ ابْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا ( بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ تَعَالَى وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذِّلُّ وَ الصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ).

Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah bersabda,” Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat, supaya hanya Allah semata saja yang diibadahi tanpa disekutukan dengan sesuatu apapun selain-Nya, dan dijadikan rizkiku berada di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan rendah dan hina orang yang menyelisihi urusanku. Dan barang siapa meniru-niru sebuah kaum maka ia termasuk kaum tersebut.”[6]



Inilah yang dipahami dengan baik oleh salaful ummah. Bahwa untuk menegakkan Islam, dibutuhkan kekuatan, besi dan jihad. Tanpa jihad, Islam tak lebih dari sekedar teori-teori yang dihafal dan diujikan untuk mendapat gelar, atau sekedar syiar-syiar yang hanya dinikmati oleh individu-individu semata. Tanpa adanya jihad, kehinaan dan kerendahan akan senantiasa menyertai umat Islam. Tanpa jihad, Islam tak akan pernah tegak, tak akan pernah menjadi rahmatan lil ‘almien.

Syaikhul Islam menyatakan :

( فَالدِّيْنُ الْحَقُّ لاَ بُدَّ فِيْهِ مِنَ الْكِتَابِ الْهَادِي وَالسَّيْفِ النَّاصِرِ. كما قال تعالى لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعَ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ الحديد } فَالْكِتَابُ يُبَيِّنُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَمَا نَهَى عَنْهُ وَ السَّيْفُ يَنْصُرُ ذَلِكَ وَيُؤَيُِّدُه. وَ أَبُو بَكْرٍ ثَبَتَ بِالْكِتَابِ وَ السُّنَةِ أَنَّ اللهَ أَمَرَ بِمُبَايَعَتِهِ وَ الَّذِيْنَ بَايَعُوْهُ كَانُوا أَهْلَ السَّيْفِ الْمُطِيْعِيْنَ لِلَّهِ فِي ذَلِكَ فَانْعَقَدَتْ خِلاَفَةُ النُّبُوَّةِ فِي حَقِّهِ بِالْكِتَابِ وَ اْلحَدِيْدِ).

“ Dien yang haq harus ada di dalamnya kitab yang memberi petunjuk dan pedang yang menolong. Sebagaimana firman Allah [QS. Al Hadid :25]. Al Kitab menerangkan perintah dan larangan Allah, sedang pedang menolong Al Kitab dan mendukungnya. Telah tegas berdasar Al Kitab dan As Sunah perintah untuk membaiat Abu Bakar. Orang-orang yang membaiat Abu Bakar adalah para ahli pedang (mujahidin) yang taat kepada Allah. Maka khilafah nubuwah disematkan kepada Abu Bakar dengan Al Kitab dan besi.”[7]

Tanpa jihad, sudah tentu Islam akan rontok pada masa khilafah Abu Bakar, di saat seluruh bangsa arab murtad kecuali penduduk tiga kota : Makah, Madinah dan Bahrain. Tanpa jihad, dakwah Islam tak akan pernah sampai kepada bangsa Persia dan Romawi. Tanpa jihad, dakwah Islam tak akan sampai ke Eropa dan Afrika.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sekali lagi menegaskan hal ini :

( وَلَنْ يَقُوْمَ الدِّيْنُ إِلاَّ بِالْكِتَابِ وَ الْمِيْزَانِ وَ اْلَحَدِيْدِ, كِتَابٌ يَهْدِي بِهِ وَحَدِيْدٌ يَنْصُرُهُ كما قال تعالى (لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ...) فَالْكِتَابُ بِهِ يَقُوْمُ الْعِلْمُ وَ الدِّيْنُ. وَ الْمِيْزَانُ بِهِ تَقُومُ الْحُقُوقُ فِي الْعُقُودِ الْمَالِيَةِ وَ الْقُبُوضِ. وَالْحَدِيْدُ بِهِ تَقُوْمُ الْحُدُوْدُ).

“ Dien sekali-kali tidak mungkin tegak kecuali dengan Al Kitab, Al mizan dan Al hadid. Kitab yang memberi petunjuk dan besi yang menolongnya, sebagaimana firman Allah [QS. Al Hadid :25]. Dengan Al Kitab, tegaklah ilmu dan dien. Dengan al mizan, hak-hak harta akan tegak. Dan dengan hadid, hudud (hukuman pidana Islam) bisa tegak.“8

( وَسُيُوْفُ الْمُسْلِمِيْنَ تَنْصُرُ هَذَا الشَّرْعَ وَ هُوَ الْكِتَابُ وَ السُّنَةُ كَمَا قَالَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ ( أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنْ نَضْرِبَ بِهَذَا – السَّيْفِ- مَنْ خَرَجَ عَنْ هَذَا – الْمُصْحَفِ)

“ Pedang-pedang kaum muslimin menolong syariah ini, yaitu Al Kitab dan As Sunah, sebagaimana dikatakan shahabat Jabir,” Rasulullah memerintahkan kami untuk menebas dengan ini –pedang—orang yang keluar (menyeleweng) dari ini –mushaf--.“9

( فَإِنَّ قِوَامَ الدِّيْنِ بِالْكِتَابِ اْلهَادِي وَ السَّيْفِ النَّاصِرِ كَمَا ذَكَرَهُ اللهُ تعالى).

“ Tegaknya dien adalah dengan Al Kitab yang memberi petunjuk dan pedang yang menolong, sebagaimana firman Allah .” 10

Yang mendorong para ulama salaf menyatakan bahwa thaifah manshurah adalah para ulama (terutama lagi ulama hadist) adalah kondisi zaman mereka, ketika itu semua orang sudah memahami jihad, jihad yang saat itu hukumnya fardhu kifayah telah tertangani dengan baik. Para khalifah setiap tahun mengirim pasukan jihad ke negara-negara kafir demi mendakwahkan Islam. Daerah-daerah perbatasan juga telah dipenuhi dengan kaum muslimin yang melaksanakan ribath. Problem terbesar justru adanya berbagai kelompok sesat dan bid’ah. Maka yang terlihat paling besar peranannya dalam menghadapi kelompok sesat dan bid’ah tersebut adalah para ulama.

Adapun hari ini, ketika jihad telah menjadi fardhu ‘ain, jihad terbengkalai dan berbagai kelompok sesat / bid’ah semakin merajalela ; maka baik ulama maupun mujahidin dituntut untuk bekerja secara serius menangani bidang garap yang menjadi tanggung jawabnya. Maka tak diragukan lagi kelompok ulama yang berjihad adalah barisan terdepan thaifah manshurah. Maka boleh dikatakan bahwa thaifah manshurah adalah thaifah yang berjihad di atas manhaj salafu sholih, manhaj ahlu sunah wal jama’ah. Wallahu A’lam bish Shawab.



[2]- Beberapa Penjelasan Sifat Jihad Thaifah Manshurah :

[a]- Thaifah manshurah akan tetap ada dan eksis sampai hari kiamat.

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى اْلحَقِّ ... حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ ".

Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang menang di atas kebenaran…sampai datangnya keputusan Allah Ta’ala.

وفي رواية : لَنْ يَزَالَ قَوْمٌ، مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ ... حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ.

Akan senantiasa ada sebuah kaum dari umatku yang menang di atas kebenaran…sampai datang kepada mereka keputusan Allah Ta’ala.

وفي رواية: لَنْ يَزَالَ قَوْمٌ، مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ... حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ.

وفي رواية: حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ.

وفي رواية: حَتَّى يُقَاتِلَ آخِرُهُمُ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ.

Sampai terjadinya kiamat…sampai hari kiamat…sampai kelompok terakhir mereka memerangi Al Masih Dajjal

قوله r: لاَ يَزَالُ اللهُ يَغْرِسُ فِي هَذَا الدِّيْنِ غَرْساً يَسْتَعْمِلُهُمْ فِي طَاعَتِهِ.

Allah Ta’ala akan senantiasa menanam untuk dien ini seseorang yang Allah pekerhjakan dalam rangka ketaatan kepada-Nya.

[b]- Jihad akan tetap berlangsung sampai hari kiamat. Baik bersama pemimpin Islam yang adil maupun dzalim, baik ada khalifah maupun tidak ada khalifah.

قال r: اَلْخَيْلُ مَعْقُودٌ بِنَوَاصِيْهَا اْلخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ؛ اْلأَجْرُ وَالْغَنِيْمَةُ.

وقال r: إِنَّ الْهِجْرَةَ لاَ تَنْقَطِعُ مَا كَانَ اْلجِهَادُ.

وفي رواية: لاَ تَنْقَطِعُ اْلهِجْرَةُ مَا جُوْهِدَ الْعَدُوُّ.

قال: لاَ تَنْقَطِعَ الْهِجْرَةُ حَتىَّ تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ، وَلاَ تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Pada ubun-ubun kuda tertambat kebaikan sampai hari kiamat ; pahala dan ghanimah.

Hijrah tidak akan terputus selama masih ada jihad.[8]

Hijrah tidak akan terputus selama masih ada musuh yang diperangi.

Hijrah tidak akan terputus sampai terputusnya taubat, sedang taubat tidak akan terputus sampai matahari terbit dari arah barat.[9]

[c]- Selalu beri’dad mempersiapkan kekuatan semaksimal mungkin.

[d]- Jihad yang ikhlas demi menegakkan kalimat Allah Ta’ala semata.

[e]- Taat menjalankan perintah Allah Ta’ala, beramar makruf dan nahi mungkar.



وقال r: إِنَّ اْلإِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْباً، وَسَيَعُودُ غَرِيْباً كَمَا بَدَأَ، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ" قِيْلَ: مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاسَ.

و في رواية: نَاسٌ صَالِحُوْنَ قَلِيْلٌ فِي نَاسٍ سُوْءٍ كَثِيْرٍ، وَمَنْ يَعْصِيْهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيْعُهُمْ

“ Islam itu berawal dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti awal kehadirannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing. Para shahabat bertanya,” Siapakah mereka, wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab,” Orang-orang yang tetap baik ketika masyarakat sudah rusak.” Dalam riwayat lain,” Orang-orang sholih yang jumlahnya sedikit di tengah masyarakat yang rusak. Orang yang bermaksiat di antara mereka lebih banyak dari orang-orang yang taat.”[10]

[f]- Selalu meraih kemenangan atas musuh-musuhnya. Di antara mereka ada yang meraih kemenangan yang terlihat secara indrawi seperti kemenangan telak di medan perang, atau meraih kekuasaan. Di antara mereka ada juga yang meraih kemenangan mental, meski ia tertawan musuh namun mentalnya menunjukkan ketegaran dan keistiqamahan di atas kebenaran yang diperjuangkan.

[g]- Berjihad melalui tandzim jihad yang rapi.

Memang operasi jihad yang dilakukan seorang diri itu tergolong jihad yang dibenarkan dan sah yang mengantarkan pelakunya kepada mati syahid, namun bukan berarti mengabaikan manajement sebuah peperangan yang telah dikendalikan oleh sebuah organisasi. Karena Allah pun telah menyebutkan pentingnya pasukan jihad yang teratur dan terkendali. Dalam firmannya;



" إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ “



“ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” [QS. Ash Shaf :4].

Urgensi dan tuntutan berjihad melalui tandzim yang rapi (termasuk melakukan operasi jihad dengan izin pemimpin tandzim—ed) ini bisa dilihat dari dua sisi;

Pertama, Realitas kontemporer : karena tuntutan kondisi kaum muslimien yang mengharuskan untuk mengambil semua sebab timbulnya kekuatan, kekokohan dan keteguhan.

Sesungguhnya kekuatan musuh-musuh Islam hari ini --– baik skala nasional, regional maupun internasional--- telah secara maksimal menghadapi kaum muslimien dengan membekali dirinya dengan berbagai sebab kekuatan ; organisasi yang rapi dan terprogram, persiapan militer yang tangguh, persiapan politik, ekonomi, media massa dan segala persiapan lain yang mendukung kemenangan mereka dalam memerangi mujahidin.

Mereka bahu membahu dalam menyatukan langkah memerangi mujahidin dengan sandi operasi “perang melawan terorisme”. Sebagaimana dilansir harian Republika (Sabtu, 12/1/2002) Komite Anti Terorisme PBB (CTC PBB) telah menerima komitmen 117 negara anggota yang bersedia dan berusaha memerangi segala bentuk terorisme internasional di negara masing-masing. Menurut ketua CTC PBB, Duta Besar Inggris untuk PBB, Jeremy Greenstock, pasca serangan jihad mubaraok 11 September di New York dan Washington, PBB telah melakukan berbagai upaya untuk memformat komitmen internasional untuk memerangi terorisme. Dalam waktu 90 hari, 95 % negara anggota PBB telah menyatakan dirinya siap dalam aksi penumpasan terhadap terorisme internasional ini.

Siapapun tentu bisa dengan jelas membaca ; perang yang mereka lancarkan ini sebenarnya adalah perang melawan kekuatan Islam (mujahidin), terbukti dengan praktek nyata yang membidik kekuatan mujidihin di seluruh dunia. Undang-undang anti terorisme, perjanjian ekstradisi internasional, agresi militer ke Afghanistan, pemburuan mujahidin di seluruh dunia dan bukti-bukti konkrit lainnya dengan jelas menunjukkan kerja sama dan konspirasi kekuatan kafir global ; yahudi, nasrani, musyrikin dan komunis untuk menghancurkan kekuatan mujahidin.

Sangat disayangkan bila kaum muslimien justru menghadapi persekutuan musuh yang sangat kuat ini dengan sebab-sebab yang lemah dan kalah; gerakan yang cenderung sendiri-sendiri tanpa organisasi dan perencanaan matang, atau mental sufistis yang salah dalam tawakkal !!! Kekuatan hanya bisa dihadapi oleh kekuatan, tandzim hanya bisa dihadapi oleh tandzim dan besi hanya dikalahkan oleh besi. Karena itu, tandzim jihad merupakan sebuah kewajiban demi menghadapi musuh yang tertata rapi dan tangguh, dan kaedah ushuliyah menyatakan :

مَالاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“ Kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sarana, maka sarana tersebut hukumnya juga wajib.”


Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“ Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagian yang lain. JIka kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” [QS. Al Anfaal : 73].

وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“ Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan (berpecah belah), yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” [QS. Al Anfaal :46].

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [QS. Al Maidah ;2].

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعاً وَلاَ تَفَرَّقُوا
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَ إِيَّاكُمْ وَ اْلفُرْقَةَ, فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَ هُوَ مِنَ اْلإِثْنَيْنِ أَبْعَدُ وَمَنْ أَرَادَ بُحْبُوْحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيُلْزِمِ الْجَمَاعَةَ

وقال : يَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ.

وقال r: اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَاْلفُرْقَةُ عَذَابٌ.

“ Sesungguhnya Allah ridha jika kalian berpegang teguh dengan tali-Nya dan tidak berpecah belah.”[11]

“ Hendaknya kalian mengikuti Aljama’ah dan jauhilah perpecahan, karena sesungguhnya syaithon itu bersama satu orang, dan dia lebih jauh dari dua orang. Barang siapa yang menginginkan intinya surga hendaknya mengikuti Al jama’ah.”[12]

“ Tangan Allah Ta’ala bersama jama’ah.”[13]

“ Jama’ah adalah rahmat dan berpecah belah adalah adzab.”[14]

Kedua : perintah syar’i. Allah Ta’ala telah memerintahkan kaum muslimin agar bersiap-siap dan menempuh segala sebab datangnya kekuatan untuk memberikan rasa takut pada orang-orang kafir, murtad dan munafik.

[*]- Allah berfirman ;

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّااسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لاَتَعْلَمُونَهُمُ اللهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَاتُنْفِقُوا مِن شَىْءٍ فِي سَبِيلِ اللهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَتُظْلَمُونَ



“ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (61) Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawwakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al Anfal :60].

Berdasar ayat ini, wajib kepada kaum muslimien untuk menempuh semua sebab kekuatan dan kemenangan baik materi maupun ruhani (mental, maknawi), sehingga dapat menakuti musuh-musuh kaum muslimin. Di antara sebab kekuatan dan kemenangan adalah ; terorganisir, perencanaan, kepemimpinan dan ketaatan, yang mana jihad tidak berjalan dengan benar tanpa ada unsure tersebut dan unsure tersebut termasuk permulaan yang dlorury untuk I’dad yang sesuai dengan syar’i.



[*]- Allah Ta’ala juga berfirman :



يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنْكُمْ.



“ Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu.” [QS. An Nisa’ :59].



وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوْ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ.



“ Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).” [QS. An Nisa’ :83].

Allah Ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati para pemegang urusan mereka, baik ulama ---urusan syar’I--- maupun umara’ ---urusan dunia, perang-. Perintah ini berarti juga perintah untuk mengangkat pemimpin dan mentaati mereka. Dalam disiplin ilmu ushul fiqih, hal ini disebut dengan isyaratu nash. Maka urusan jihad sebagai sebuah urusan penting dalam dien juga harus dikerjakan lewat kepemimpinan seorang imam (khlaifah saat khilafah masih tegak) atau amir (pimpinan) organisasi jihad ketika khilafah tidak ada.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :

وَكُلُّ مَنْ كَانَ مَتْبُوعًا فَإِنَّهُ مِنْ أُولِي اْلأَمْرِ، وَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَؤُلاَءِ أَنْ يَأْمُرَ بِمَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَيَنْهَى عَمَّا نَهَى عَنْهُ، وَعَلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِمَّنْ عَلَيْهِ طَاعَتُهُ أَنْ يُطِيْعَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ، وَلاَ يُطِيْعُهُ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ

“ Setiap orang yang diikuti adalah ulil amri. Maka hendaklah setiap ulil amri memerintahkan dengan apa yang diperintahkan Allah Ta’ala dan melarang dari apa yang dilarang Allah Ta’ala. Hendaknya setiap orang yang wajib taat kepada ulil amri tersebut untuk mentaatinya selama dalam ketaatan kepada Allah dan tidak mentaatinya selama dalam kemaksiatan kepada Allah.”[15]

[*]- Rasulullah bersabda :

عن عبد الله بن عمر قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:«لا يَحِلُّ لِثَلاثَةِ نَفَرٍ يَكُونُونَ بِفَلَاةٍ مِنَ الأَرْضِ إِلاَّ أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ» و عند أبي هريرة (إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ)

Dari Abdullah bin Amru bahwasanya Rasulullah bersabda,” Tidak halal bagi tiga orang berada di suatu daerah yang kosong (padang pasir) kecuali mereka harus mengangkat salah satu sebagai amir (pemimpin) mereka.”[16]

عن أبي سعيد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إِذَا خَرَجَ ثَلاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ»

Dari Abu Sa’id Al Khudri bahwasanya Rasulullah bersabda,” Jika tiga orang keluar dalam safar hendaklah mereka mengangkat salah satu sebagai pemimpin.”[17]

Imam Syaukani menerangkan makna hadits ini :

“ Hadits-hadits ini menyebutkan disyariatkannya bagi setiap kelompok yang terdiri dari tiga orang atau lebih untuk mengangkat salah seorang mereka sebagai pemimpin karena hal itu membawa keselamatan bagi mereka dari perselisihan yang menyebabkan kehancuran. Dengan tidak adanya kepemimpinan, setiap orang akan memaksakan pendapatnya dan berbuat sesuai hawa nafsunya sendiri sehingga mereka akan binasa. Dengan adanya kepemimpinan ; perselisihan akan sedikit dan tercapailah kesepakatan (persatuan). Jika kepemimpinan ini diperintahkan atas tiga orang yang berada di daerah kosong (padang pasir) atau sedang melakukan safar ; maka perintah untuk mengangkat pemimpin atas kelompok yang terdiri dari lebih dari tiga orang yang tinggal di desa-desa dan kota-kota dan dituntut untuk menunaikan hak-hak dan mencegah kedzaliman di antara sesama mereka ; hukumnya lebih wajib lagi.”[18]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :

“ Harus diketahui bahwa mengendalikan urusan manusia termasuk kewajiban dien yang paling agung, bahkan dien dan dunia tidak akan tegak tanpa adanya kepemimpinan. Kemaslahatan manusia tidak akan sempurna kecuali dengan berkumpul (berorganisasi) di antara mereka, karena satu sama lain saling membutuhkan, dan setiap perkumpulan harus ada pemimpinnya sebagaimana sabda Rasulullah…(beliau menyebutkan hadits-hadits di atas—ed). Rasulullah mewajibkan mengangkat seorang pemimpin dalam sebuah perkumpulan paling kecil (3 orang-ed) dan paling sebentar dalam perjalanan, untuk mengingatkan wajibnya mengangkat pemimpin untuk seluruh perkumpulan lainnya. Allah ta’ala juga telah mewajibkan amar ma’ruf nahi munkar, dan hal itu tidak mungkin sempurna kecuali dengan imarah (kepemimpinan) dan kekuatan. Demikian juga halnya dengan seluruh perintah lain yang Allah wajibkan seperti jihad, menegakkan keadilan, haji, menegakkan sholat Jum’at, menegakkan sholat ied dan menolong orang-orang yang terdzalimi. Maka yang awajib adalah menjadikan kepemimpinan sebagai sebuah dien (ajaran dien), qurbah (sarana mendekatkan diri kepada Allah), karena mendekatkan diri kepada Allah dalam kepemimpinan dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya merupakan bentuk mendekarkan diri yang paling utama.”[19]

عن تميم الداري قال: تَطَاوَلَ النَّاسُ فِي الْبُنْيَانِ زَمَنَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ (يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ اْلأَرْضَ اْلأَرْضَ إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ بِطَاعَةٍ أَلاَ مَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى فِقْهٍ كَانَ ذَلِكَ خَيْرًا لَهُ، وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى غَيْرِ فِقْهٍ كَانَ ذَلِكَ هَلاَكاً لَهُ وَلِمَنِ اتَّبَعَهُ)



Imam Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dari Tamim Ad Daari,” Masyarakat berlomba-lomba meninggikan bangunan pada masa Umar, maka ia berkata,” Wahai penduduk arab, jagalah tanah kalian, jagalah tanah kalian. Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, tidak ada jama’ah kecuali dengan kepemimpinan, tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan. Barang siapa diangkat menjadi pemimpin suatu kaum karena keilmuannya ; maka itu lebih baik baginya. Namun barang siapa diangkat menjadi pemimpin suatu kaum bukan karena keilmuannya ; maka itu kehancuran baginya dan bagi yang ia pimpin.”[20]

Perkataan shahabat Umar ini menunjukkan wajibnya berjama’ah, berkepemimpinan dan ketaatan kepada pemimpin dalam rangka menegakkan syariat Islam. Rasululah juga bersabda :

[*] Rasulullah bersabda ;

عَنِ الْحَارِثِ بْنِ الْحَارِثِ اْلأَشْعَرِي أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال «إِنَّ اللهَ أَمَرَ يَحْيَ بْنَ زَكَرِيَا بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ أَنْ يَعْمَلَ بِهِنَّ وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ اللَّهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ بِالْجَمَاعَةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ فِي سَبِيْلِ اللهِ»

Dari Harits bin Harits al Asy’ari bahwasanya Rasulullah bersabda,” Sesungguhnya Allah telah memerintahkan lima hal kepada nabi Yahya bin Zakariya untuk dikerjakan …dan aku memerintahkan kalian dengan lima hal yang Allah perintahkan kepadaku yaitu; al jama’ah, mendengar, ta’at, hijrah dan berjihad di jalan Allah Ta’ala.”[21]

[*] Sabda Rasulullah :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ r يَقُوْلُ: لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ r فَيَقُولُ أَمِيْرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا، فَيَقُولُ لاَ، إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ.



Dari Jabir bin Abdullah ia mendengar Rasulullah bersabda,” Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka meraih kemenangan sampai hari kiamat. Nabi Isa bin Maryam ‘alaihi salam turun (dari langit), maka amir (pemimpin) kelompok tersebut berkata kepadanya,” Silahkan mengimami kami sholat.” Nabi Isa menjawab,” Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah umara’ (pemimpin) atas sebagian yang lain sebagai bentuk penghormatan Allah kepada umat Islam ini.”[22]



Hadits ini menunjukkan bahwa thaifah manshurah yang berperang di atas kebenaran sampai kelompok terakhir mereka memerangi Dajjal adalah kelompok yang tertandzim rapi, dengan seorang amir. Kepemimpinan kelompok ini disahkan Rasulullah dengan sabda beliau “maka amir (pemimpin) kelompok tersebut berkata kepadanya ”, juga berdasar perkataan nabi Isa “Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah umara’ (pemimpin) atas sebagian yang lain .“

Kepemimpinan thaifah manshurah ini tidak terkhusus untuk kelompok terakhir (imam Mahdi dan nabi Isa) yang bertempur melawan Dajjal semata, namun juga berlaku untuk seluruh thaifah manshurah sejak zaman nubuwah sampai hari kiamat, berdasar penisbahan amir kepada kelompok (amiiruhum) “maka amir (pemimpin) kelompok tersebut” dan penyebutan sifat thaifah yang berkesinambungan (laa tazaalu) “akan senantiasa”. Dalam hadits–hadits lain seperti hadits shahabat Hudzaifah bin Yaman dijelaskan bahwa umat Islam akan mengalami masa tidak mempunyai khilafah. Tidak adanya khilafah yang disertai sahnya kepemimpinan umara’ thaifah manshurah ini (padahal ia bukan khalifah) menunjukkan bahwa kepemimpinan umara’ tandzim jihad adalah sah secara syar’i.

Dalam hadits ini juga disebutkan cara pengangkatan umara’ thaifah manshurah melalui perkataan nabi Isa “sesungguhnya sebagian kalian adalah umara’ (pemimpin) atas sebagian yang lain sebagai bentuk penghormatan Allah kepada umat Islam ini. “ Yaitu thaifah manshurah mengangkat sebagian mereka sebagai amir (pemimpin). Ini sebuah bentuk penghormatan Allah Ta’ala kepada umat Islam. Hal ini berlaku sejak zaman nubuwah sampai zaman imam Mahdi dan nabi Isa yang merupakan thaifah manshurah terakhir. Ini sama persis dengan peristiwa perang Mu’tah. Ketika ketiga komandan yang ditunjuk Rasulullah (Zaid bin Haritsah-Ja’far bin abi Thalib-Abdulllah bin Rawahah) terbunuh, para shahabat sepakat mengangkat Khalid bin Walid sebagai komandan perang thaifah manshurah, padahal ia tidak ditunjuk oleh Rasulullah. Ketika pulang ke Madinah, Rasulullah merestui mereka dan menggelari shahabat Khalid sebagai saifullah.

Imam Ibnu hajar berkata :

فِيْهِ جَوَازُ التَّأَمُّرِ فِي الْحَرْبِ بِغَيْرِ تَأْمِيْرٍ، قَالَ الطَّحَاوِي: هَذاَ أَصْلٌ يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ أَنْ يُقَدِّمُوا رَجُلاً إِذَا غَابَ اْلإِمَامُ يَقُوْمُ مَقَامَهُ إِلَى أَنْ يَحْضُرَ.



“ Hadits ini menunjukkan bolehnya mengangkat komandan perang meski tidak diangkat (ditunjuk) oleh khalifah. Imam Ath Thahawi mengatakan,” Hadits ini menjadi dasar bahwa kaum muslimin harus mengangkat salah seorang di antara mereka sebagai komandan yang menggantikan posisi khalifah sampai khalifah datang.”[23]

Bila menganggkat komandan tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada khalifah dengan alasan kondisi genting dan jauhnya khalifah dari pasukan diperbolehkan, maka tentunya mengangkat komandan jihad di saat tidak ada khhalifah lebih boleh lagi.

[*] Sabda Rasulullah :

عَنْ بَشَرِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ مَالِكٍ ـ مِنْ رَهْطِهِ ـ قَالَ: بَعَثَ النَّبِيُّ r سَرِيَّةً فَسَلَحَتْ رَجُلاً مِنْهُمْ سَيْفاً، فَلَمَّا رَجَعَ قَالَ: لَوْ رَأَيْتَ مَا لاَمَنَا رَسُولُ اللهِ r قَالَ:" أَعَجَزْتُمْ إِذْ بَعَثْتُ رَجُلاً مِنْكُمْ فَلَمْ يَمْضِ لأَِمْرِي، أَنْ تَجْعَلُوا مَكَانَهُ مَنْ يَمْضِي لِأَمْرِي؟!.



Dari Uqbah bin Malik bahwasanya Rasululah nabi mengutus sebuah pasukan perang kemudian pasukan ini mempersenjatai salah seorang di antara mereka dengan pedang. Ketika pulang, Uqbah berkata,” Seandainya anda melihat ketika Rasulullah mencela habis-habisan kami. Beliau bersabda,” Apakah kalian tidak bisa mengangkat salah seorang di antara kalian sebagai pemimpin ketika pemimpin yang kutunjuk tidak menjalankan perintahku ?”[24]

Hadits ini menunjukkan, ketika seorang komandan pasukan yang ditunjuk oleh imam tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya, pasukan berhak mengangkat seorang di antara mereka yang mempunyai kemampuan memimpin tugas sebagai komandan baru, tanpa mesti harus menunggu pengangkatan komandan baru dari imam. Jika demikian halnya dengan pasukan jihad yang diberangkatkan oleh imam, bukankah dengan pasukan jihad di zaman tidak ada imam lebih berhak lagi ?

Imamul Haramain Al Juwaini mengatakan :

Sebagian ulama telah mengatakan,” Jika suatu masa vacum dari seorang imam, maka menjadi kewajiban penduduk setiap daerah untuk mengangkat seorang imam dari kalangan orang yang berkemampuan ; mereka melaksanakan arahan dan perintahnya serta menjauhi larangannya. Jika mereka tidak melakukan hal itu, mereka akan ragu-ragu dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban penting dan kebingungan dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi.”[25]

Wallahu A’lam Bish Shawab.







Yang bikin aslant maskadov


--------------------------------------------------------------------------------

[1] - Shahih Sunan Nasa’i 3333, Silsilah Ahadits Shahihah no. 1991.

[2] - HR. Muslim.

[3] - Syarhu Shahih Muslim 13/67.

[4] - Majmu’ Fatawa 28/531.

[5] - Majmu’ Fatawa 26/416-417.

[6] - HR. Ahmad dan Al-Thabrani. Dishahihkan syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 2831 dan Irwaul Ghalil Takhriju Manari Sabil no. 1269.

[7] - Ibnu Taimiyah, Minhaju Sunah An Nabawiyah Fi Naqdhi Kalami Syi’ah Al Qadariyah 1/531-532, cet 1 : 1406 /1986 M, tahqiq ; Dr. Muhammad Rasyad Salim.

8- Majmu’ Fatawa 35/36.

9- Majmu’ Fatawa 25/365.

10- Majmu’ Fatawa 28/396.

[8] - HR. Ahmad. Silsilah Ahadits Shahihah no. 1674.

[9] - HR. Ahmad dan Abu Daud. Shahih Jami’ Shaghir no. 7469.

[10] - Silsilah Ahadits Shahihah no. 1273, 1619.

[11] - HR. Muslim.

[12] - HR. Tirmidzi, dishahihkan syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi no. 1758.

[13] - HR. Shahih Sunan Tirmidzi no. 1760.

[14] - HR. Ibnu Abi ‘Ashim, dishahihkan syaikh Al Albani.

[15] - Majmu Fatawa 28/180.

[16] - HR. Al Bazzar dan Al Haitsami dalam Majma’u Zawaid 5/255. Dishahihkan syaikh Al Albani dalam Irwaul Ghalil 8/106 no. 2454. Juga dari Abu Hurairah ; HR. Baihaqi, dishahihkan syaikh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 763.

[17] - HR. Abu Daud no. 2608 dan Abu ‘Iwanah, juga dari Abu Hurairah ; HR. Abu Daud, Abu Ya’la Al Maushili 1/295. Dishahihkan syaikh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 500 dan Silsilah Ahadits Shahihah no. 1322.

[18] - Nailul Authar 8/257.

[19] - Majmu’ Fatawa 28/390-392.

[20] - Jami-u bayanil Ilmi wa Fadhlihi 1/63, juga Ad Darimi dengan sanad lemah.

[21] - HR, Ahmad, Tirmidzi, Nasa-I, Ibnu Hibban, Al Hakim dan Bukari dalam at tarikh. Dishahihkan syaikh Al Albani dalam Shahih jami’ Shaghir no. 1721, Shahih Targhib wa Tarhib no. 5530 dan Takhriju Misykatul Mashabih no. 3694 dari Ath Thayalisi dan Ibnu Khuzaimah.

[22] - HR. Muslim.

[23] - Fathul Baari Syarhu Shahih Bukhari 7/653, HR. Bukhari no. 4262.

[24] - Shahih Sunan Abu Daud no. 2387 .

[25] - Ghiyatsul Umam Fi At Tiyatsi Adh Dhulam hal. 387.

Friday, May 21, 2010

Dampak Negatif Dosa

Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa. Beberapa di antaranya bisa kita sebutkan di sini sebagai peringatan & pelajaran bagi kita semua :

1. Terhalang dari ilmu yang haq. Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan memadamkan cahaya.

Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu belajar kepada Al-Imam Malik rahimahullahu, Al-Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i. Al-Imam Malik pun berpesan pada muridnya ini, “Aku memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pernah bersajak:

“Aku mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada Waki’

Maka ia memberi bimbingan kepadaku agar meninggalkan maksiat

Ia berkata, “Ketahuilah ilmu itu merupakan keutamaan

dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat."

2. Terhalang dari beroleh rizki dan urusannya dipersulit.

Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba sebagaimana firman-Nya:

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar (dari permasalahannya) dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq: 4)

Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

3. Hati terasa jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa asing dengan-Nya, sebagaimana jauhnya pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekatnya dia dengan setan.

4. Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelapnya malam. Karena ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan.

Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati, akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam bid’ah, kesesatan, dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tandanya di mata si hamba. Terus demikian, hingga tampak di wajahnya yang menghitam yang terlihat oleh semua orang.

5. Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh, karena kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya.

Semakin kuat hatinya semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa, sekalipun badannya tampak kuat, namun sebenarnya ia selemah-lemah manusia.

6. Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan keberkahannya, sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya.

Mengapa demikian? Karena kehidupan yang hakiki dari seorang hamba diperoleh bila hatinya hidup. Sementara, orang yang hatinya mati walaupun masih berjalan di muka bumi, hakikatnya ia telah mati. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan orang kafir adalah mayat dalam keadaan mereka masih berkeliaran di muka bumi:

“Mereka itu adalah orang-orang mati yang tidak hidup.” (An-Nahl: 21)

Dengan demikian, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Sedangkan umur manusia adalah hitungan kehidupannya. Berarti, umurnya tidak lain adalah waktu-waktu kehidupannya yang dijalani karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghadap kepada-Nya, mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu, tidaklah terhitung sebagai umurnya.

Bila seorang hamba berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyibukkan diri dengan maksiat, berarti hilanglah hari-hari kehidupannya yang hakiki. Di mana suatu hari nanti akan jadi penyesalan baginya:

“Aduhai kiranya dahulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 24)

7. Satu maksiat akan mengundang maksiat lainnya, sehingga terasa berat bagi si hamba untuk meninggalkan kemaksiatan.

Sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Termasuk hukuman perbuatan jelek adalah pelakunya akan jatuh ke dalam kejelekan yang lain. Dan termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang lain. Seorang hamba bila berbuat satu kebaikan maka kebaikan yang lain akan berkata, ‘Lakukan pula aku.’ Bila si hamba melakukan kebaikan yang kedua tersebut, maka kebaikan ketiga akan berucap yang sama. Demikian seterusnya. Hingga menjadi berlipatgandalah keuntungannya, kian bertambahlah kebaikannya. Demikian pula kejelekan….”

8. Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba untuk bertaubat dari maksiat, hingga pada akhirnya keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.

9. Orang yang sering berbuat dosa dan maksiat, hatinya tidak lagi merasakan jeleknya perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan.

Dia tidak lagi peduli dengan pandangan manusia dan acuh dengan ucapan mereka. Bahkan ia bangga dengan maksiat yang dilakukannya.

Bila sudah seperti ini model seorang hamba, ia tidak akan dimaafkan, sebagaimana berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosanya kecuali orang-orang yang berbuat dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yang dilakukannya tersebut namun di pagi harinya ia berkata pada orang lain, “Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dalam keadaan Rabbnya menutupi kejelekan yang diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan (tabir) Allah yang menutupi dirinya.” (HR. Al-Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 7410)

10. Setiap maksiat yang dilakukan di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

- Perbuatan homoseksual adalah warisan kaum Luth.

- Mengambil hak sendiri lebih dari yang semestinya dan memberi hak orang lain dengan menguranginya, adalah warisan kaum Syu’aib.

- Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adalah warisan dari kaum Fir’aun.

- Sombong dan tinggi hati adalah warisan kaum Hud.

11. Maksiat merupakan sebab dihinakannya seorang hamba oleh Rabbnya.

Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan seorang hamba maka tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.

“Siapa yang dihinakan Allah niscaya tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.” (Al-Hajj: 18 )

Walaupun mungkin secara zhahir manusia menghormatinya karena kebutuhan mereka terhadapnya atau mereka takut dari kejelekannya, namun di hati manusia ia dianggap sebagai sesuatu yang paling rendah dan hina.

12. Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa, pada akhirnya ia akan meremehkan dosa tersebut dan menganggapnya kecil.

Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil maka akan semakin besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya (no. 6308 ) menyebutkan ucapan sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”

13. Maksiat akan merusak akal. Karena akal memiliki cahaya, sementara maksiat pasti akan memadamkan cahaya akal. Bila cahayanya telah padam, akal menjadi lemah dan kurang.

Sebagian salaf berkata: “Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hilang akalnya.”

Hal ini jelas sekali, karena orang yang hadir akalnya tentunya akan menghalangi dirinya dari berbuat maksiat. Ia sadar sedang berada dalam pengawasan-Nya, di bawah kekuasaan-Nya, ia berada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala, di bawah langit-Nya dan para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala menyaksikan perbuatannya.

14. Bila dosa telah menumpuk, hatipun akan tertutup dan mati, hingga ia termasuk orang-orang yang lalai.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”
(Al-Muthaffifin: 14)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata menafsirkan ayat di atas: “Itu adalah dosa di atas dosa (bertumpuk-tumpuk) hingga mati hatinya.”

15. Bila si pelaku dosa enggan untuk bertaubat dari dosanya, ia akan terhalang dari mendapatkan doa para malaikat. Karena malaikat hanya mendoakan orang-orang yang beriman, yang suka bertaubat, yang selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Malaikat-malaikat yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, seraya berucap, ‘Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha memiliki hikmah. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu maka sungguh telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (Ghafir: 7-9)

Demikian beberapa pengaruh negatif dari perbuatan dosa dan maksiat yang kami ringkaskan dari kitab Ad-Da`u wad Dawa`, karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu hal. 85-99.
Semoga dapat menjadi peringatan bagi kita semua.....

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Tuesday, May 18, 2010

Kumpulan Doa

DOA KESELAMATAN ~AL-BAQARAH 286:
RABBANA LA TU-AKHIDZNA IN NASINA AU AKHTHA’NA RABBANA WALA TAHMIL ‘ALAINA ISHRAN KAMA HAMALTAHU ‘ALALLADZINA MIN QABLINA, RABBANA WALA TUHAMMILNA MA LA THAQATA LANA BIH, WA’FU ‘ANNA WAGHFIRLANA WARHAMNA ANTA MAULANA FANSHURNA ‘ALAL QAUMIL KAFIRIN.
“YA TUHAN KAMI, JANGANLAH ENGKAU HUKUM KAMI JIKA KAMI LUPA ATAU KAMI TERSALAH. YA TUHAN KAMI, JANGANLAH ENGKAU BEBANKAN KEPADA KAMI BEBAN YANG BERAT SEBAGAIMANA ENGKAU BEBANKAN KEPADA ORANG-ORANG SEBELUM KAMI. YA TUHAN KAMI, JANGANLAH ENGKAU PIKULKAN KEPADA KAMI APA YANG TAK SANGGUP KAMI MEMIKULNYA. BERI MA’AFLAH KAMI; AMPUNILAH KAMI; DAN RAHMATILAH KAMI. ENGKAULAH PENOLONG KAMI, MAKA TOLONGLAH KAMI TERHADAP KAUM YANG KAFIR.”)


DOA KETABAHAN~ AL- BAQARAH 250:
RABBANA AFRIG ‘ALAINA SHABRAW WA SABBIT AQDAAMANA WANSHURNA ‘ALAL-QAUMIL-KAFIRIIN..
“YA TUHAN KAMI, TUANGKANLAH KESABARAN ATAS DIRI KAMI, DAN KOKOHKANLAH PENDIRIAN KAMI DAN TOLONGLAH KAMI TERHADAP ORANG-ORANG KAFIR.”

Kumpulan Doa Taken from http://tajung.blogspot.com/2010/05/kumpulan-doa.html

MENGHINDARI KESESATAN ~ ALI-IMRAN 8:
RABBANA LA TUZIGH QULUBANA BA’DA IZ HADAITANA WAHAB LANA MIL LADUNKA RAHMAH, INNAKA ANTAL WAHAB.
“YA TUHAN KAMI, JANGANLAH ENGKAU JADIKAN HATI KAMI CONDONG KEPADA KESESATAN SESUDAH ENGKAU BERI PETUNJUK KEPADA KAMI, DAN KARUNIAKANLAH KEPADA KAMI RAHMAT DARI SISI ENGKAU; KARENA SESUNGGUHNYA ENGKAU-LAH MAHA PEMBERI (KARUNIA)”.


KEKUATAN IMAN ~ ALI IMRAN 16:
RABBANA INNANA AMANNA FAGFIR LANA ZUNUBANA WA QINA ‘AZABAN-NAR.
(YA TUHAN KAMI, SESUNGGUHNYA KAMI TELAH BERIMAN, MAKA AMPUNILAH SEGALA DOSA KAMI DAN PELIHARALAH KAMI DARI SIKSA NERAKA,”)
KEKUATAN IMAN ~ ALI IMRAN 53:
RABBANA AMANNA BIMA ANZALTA WATTABA’NAR RASULA FAKTUBNA MA’ASY-SYAHIDIN.
(. YA TUHAN KAMI, KAMI TELAH BERIMAN KEPADA APA YANG TELAH ENGKAU TURUNKAN DAN TELAH KAMI IKUTI RASUL, KARENA ITU MASUKANLAH KAMI KE DALAM GOLONGAN ORANG-ORANG YANG MENJADI SAKSI (TENTANG KEESAAN ALLAH)”.


KESEMPURNAAN CAHAYA IMAN ~ AT-TAHRIM 8:
RABBANA ATMIN LANA NURANA WAGFIR LANA INNAKA ‘ALA KULLI SYAI’IN QADIR.
(YA RABB KAMI, SEMPURNAKANLAH BAGI KAMI CAHAYA KAMI DAN AMPUNILAH KAMI; SESUNGGUHNYA ENGKAU MAHA KUASA ATAS SEGALA SESUATU


KEKUATAN IMAN ~ ALI IMRAN 147:
RABBANAGHFIR LANA ZHUNUBANA WA ISRAFANA FI AMRINA WA SABBIT AQDAMANA WANSURNA ‘ALAL QAUMIL KAFIRIN.
( “YA TUHAN KAMI, AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN TINDAKAN-TINDAKAN KAMI YANG BERLEBIH-LEBIHAN DALAM URUSAN KAMI[235] DAN TETAPKANLAH PENDIRIAN KAMI, DAN TOLONGLAH KAMI TERHADAP KAUM YANG KAFIR”.)


HUSNUL KHATIMAH ~ ALI IMRAN 193-194:
RABBANA INNANA SAMI’NA MUNADIYAY YUNADI LIL IMANI AN AMINU BIRABBIKUM FA-AMANNA. RABBANA FAGHFIRLANA ZUNUBANA WA KAFFIR ‘ANNA SAYYI’ATINA WATAFFANA MA’AL ABRAR. RABBANA WA ATINA MA WA’ATTANA ‘ALA RASULIKA WA LA TUKHZINA YAUMAL-QIYAMAH, INNAKA LA TUKHLIFUL MI’AD.
( YA TUHAN KAMI, SESUNGGUHNYA KAMI MENDENGAR (SERUAN) YANG MENYERU KEPADA IMAN, “BERIMANLAH KAMU KEPADA TUHANMU”, MAKA KAMIPUN BERIMAN. YA TUHAN KAMI, AMPUNILAH BAGI KAMI DOSA-DOSA KAMI DAN HAPUSKANLAH DARI KAMI KESALAHAN-KESALAHAN KAMI, DAN WAFATKANLAH KAMI BESERTA ORANG-ORANG YANG BANYAK BERBAKTI. YA TUHAN KAMI, BERILAH KAMI APA YANG TELAH ENGKAU JANJIKAN KEPADA KAMI DENGAN PERANTARAAN RASUL-RASUL ENGKAU. DAN JANGANLAH ENGKAU HINAKAN KAMI DI HARI KIAMAT. SESUNGGUHNYA ENGKAU TIDAK MENYALAHI JANJI.”)


PENYESALAN ~ AL-A’RAF 23:
RABBANA ZALAMNA ANFUSANA WA ILLAM TAGFIRLANA WA TARHAMNA LANAKUNANNA MINAL KHASIRIN.
“YA TUHAN, KAMI TELAH MENGANIAYA DIRI KAMI SENDIRI, DAN JIKA ENGKAU TIDAK MENGAMPUNI KAMI DAN MEMBERI RAHMAT KEPADA KAMI, NISCAYA PASTILAH KAMI TERMASUK ORANG-ORANG YANG MERUGI).

Kumpulan Doa Taken from http://tajung.blogspot.com/2010/05/kumpulan-doa.html

MOHON KESELAMATAN ~ YUNUS 85-86:
RABBANA LA TAJ’ALNA FITNATAN LIL QAUMIZH ZALIMIN, WA NAJJINA BIRAHMATIKA MINAL QAUMIL KAFIRIN.
( YA TUHAN KAMI; JANGANLAH ENGKAU JADIKAN KAMI SASARAN FITNAH BAGI KAUM YANG’ZALIM. DAN SELAMATKANLAH KAMI DENGAN RAHMAT ENGKAU DARI (TIPU DAYA) ORANG-ORANG YANG KAFIR.”)



MOHON PERLINDUNGAN ~ HUD 47 :
RABBI INNI A’UZUBIKA AN AS-‘ALAKA MA LAISA LIBIHI ‘ILMUN, WA ILLA TAGFIR LI WA TARHAMNI AKUN MINAL KHASIRIN.
(YA TUHANKU, SESUNGGUHNYA AKU BERLINDUNG KEPADA ENGKAU DARI MEMOHON KEPADA ENGKAU SESUATU YANG AKU TIADA MENGETAHUI (HAKEKAT)NYA. DAN SEKIRANYA ENGKAU TIDAK MEMBERI AMPUN KEPADAKU, DAN (TIDAK) MENARUH BELAS KASIHAN KEPADAKU, NISCAYA AKU AKAN TERMASUK ORANG-ORANG YANG MERUGI.”)



KELUARGA MASLAHAH ~ IBRAHIM 40-41:
RABBIJ’ALNI MUQIMAS SALATI WA MIN ZURRIYYATI, RABBANA WA TAQABBAL DU’A. RABBANAGFIRLI WA LIWALIDAYYA WALIL MU’MININA YAUMA YAQUMUL HISAB.
(YA TUHANKU, JADIKANLAH AKU DAN ANAK CUCUKU ORANG-ORANG YANG TETAP MENDIRIKAN SHALAT, YA TUHAN KAMI, PERKENANKANLAH DOAKU. YA TUHAN KAMI, BERI AMPUNLAH AKU DAN KEDUA IBU BAPAKU DAN SEKALIAN ORANG-ORANG MUKMIN PADA HARI TERJADINYA HISAB (HARI KIAMAT)”.




MOHON TEMPAT YG BAIK ~ AL-ISRA’ 80:
RABBI ADKHILNI MUDKHALA SIDQIW WA AKHRIJNI MUKHRAJA SIDQIW WAJ’ALLI MIL LADUNKA SULTANAN NASHIRA.
(“YA TUHAN-KU, MASUKKANLAH AKU SECARA MASUK YANG BENAR DAN KELUARKANLAH (PULA) AKU SECARA KELUAR YANG BENAR DAN BERIKANLAH KEPADAKU DARI SISI ENGKAU KEKUASAAN YANG MENOLONG).



DIBERI KEMUDAHAN ~ AL-KAHFI 10:
RABBANA ATINA MIL LADUNKA RAHMATAW, WA HAYYI’ LANA MIN AMRINA RASYADA.
( “WAHAI TUHAN KAMI, BERIKANLAH RAHMAT KEPADA KAMI DARI SISI-MU DAN SEMPURNAKANLAH BAGI KAMI PETUNJUK YANG LURUS DALAM URUSAN KAMI (INI).”




KELAPANGAN HATI ~ THAHA 25-27:
RABBISYRAHLI SADRI, WA YASSIRLI AMRI, WAHLUL ‘UQDATAM MIL LISANI YAFQAHU QAULI.
(“YA TUHANKU, LAPANGKANLAH UNTUKKU DADAKU, DAN MUDAHKANLAH UNTUKKU URUSANKU, DAN LEPASKANLAH KEKAKUAN DARI LIDAHKU,)

Kumpulan Doa Taken from http://tajung.blogspot.com/2010/05/kumpulan-doa.html

TERHINDAR MUSIBAH ~ AL-MUKMINUN 97-98:
RABBI A’UZU BIKA MIN HAMAZATISY SYAYATINI WA A’UZU BIKA RABBI AY YAHDURUN.
(“YA TUHANKU AKU BERLINDUNG KEPADA ENGKAU DARI BISIKAN-BISIKAN SYAITAN. DAN AKU BERLINDUNG (PULA) KEPADA ENGKAU YA TUHANKU, DARI KEDATANGAN MEREKA KEPADAKU”)



MOHON KEMULIAAN ~ AL-FURQAN 65:
RABBANASRIF ‘ANNA ‘AZABA JAHANNAM(A) INNA ‘AZABAHA KANA GARAMA.
(“YA TUHAN KAMI, JAUHKAN AZAB JAHANNAM DARI KAMI, SESUNGGUHNYA AZABNYA ITU ADALAH KEBINASAAN YANG KEKAL”).



KELUARGA YG TAQWA~ AL-FURQAN 74 :
RABBANA HABLANA MIN AZWAJINA WA ZURRIYATINA QURRATA A’YUNIW WAJ’ALNA LIL MUTTAQINA IMAMA.
(“YA TUHAN KAMI, ANUGRAHKANLAH KEPADA KAMI ISTERI-ISTERI KAMI DAN KETURUNAN KAMI SEBAGAI PENYENANG HATI (KAMI), DAN JADIKANLAH KAMI IMAM BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA).



MENSYUKURI NIKMAT~ AN-NAML 19:
RABBI AUZI’NI AN ASYKURA NI’MATAKALLATI AN’AMTA’ALAYYA WA ‘ALA WALIDAYYA WA AN A’MALA SALIHAN TARDAHU, WA ADKHILNI BIRAHMATIKA FI’IBADIKAS-SALIHIN.
(“YA TUHANKU BERILAH AKU ILHAM UNTUK TETAP MENSYUKURI NIKMAT MU YANG TELAH ENGKAU ANUGERAHKAN KEPADAKU DAN KEPADA DUA ORANG IBU BAPAKKU DAN UNTUK MENGERJAKAN AMAL SALEH YANG ENGKAU RIDHAI; DAN MASUKKANLAH AKU DENGAN RAHMAT-MU KE DALAM GOLONGAN HAMBA-HAMBA-MU YANG SALEH”).


Kumpulan Doa Taken from http://tajung.blogspot.com/2010/05/kumpulan-doa.html

KELUASAN RAHMAT ~ AL-MUKMIN 7-9:
RABBANA WASI’TA KULLA SYAI-IR RAHMATAW WA’ILMAN, FAGHIR LILLAZINA TABU WATTABBA‘U SABILAKA WA QIHIM ‘AZABAL JAHIM. RABBANA WA ADKHILHUM JANNATI ‘ADNINILLATI WA’ATTAHUM WA MAN SALAHA MIN ABA’IHIM WA AZWAJIHIM WA ZURRIYYATIHIM INNAKA ANTAL ‘AZIZUL HAKIM. WA QIHIMUSSAYYI’AT(I) WA MAN TAQIS SAYYI’ATI YAUMA’IZIN FAQAD RAHIMTAH(U) WA ZALIKA HUWAL FAUZUL ‘AZIM.
(“YA TUHAN KAMI, RAHMAT DAN ILMU ENGKAU MELIPUTI SEGALA SESUATU, MAKA BERILAH AMPUNAN KEPADA ORANG-ORANG YANG BERTAUBAT DAN MENGIKUTI JALAN ENGKAU DAN PELIHARALAH MEREKA DARI SIKSAAN NERAKA YANG MENYALA-NYALA. YA TUHAN KAMI, DAN MASUKKANLAH MEREKA KE DALAM SYURGA ‘ADN YANG TELAH ENGKAU JANJIKAN KEPADA MEREKA DAN ORANG-ORANG YANG SALEH DI ANTARA BAPAK-BAPAK MEREKA, DAN ISTERI-ISTERI MEREKA, DAN KETURUNAN MEREKA SEMUA. SESUNGGUHNYA ENGKAULAH YANG MAHA PERKASA LAGI MAHA BIJAKSANA. DAN PELIHARALAH MEREKA DARI (BALASAN) KEJAHATAN. DAN ORANG-ORANG YANG ENGKAU PELIHARA DARI (PEMBALASAN) KEJAHATAN PADA HARI ITU MAKA SESUNGGUHNYA TELAH ENGKAU ANUGERAHKAN RAHMAT KEPADANYA DAN ITULAH KEMENANGAN YANG BESAR”).



JAUH DARI DENGKI ~ AL-HASYR 10:
RABBANAGHFIR LANA WA LI-IKHWANINAL LAZINA SABAQUNA BIL IMAN(I), WALA TAJ’AL FI QULUBINA GILLAN LILLAZINA AMANU, RABBANA INNAKA RA’UFUR RAHIM.
(“YA RABB KAMI, BERI AMPUNLAH KAMI DAN SAUDARA-SAUDARA KAMI YANG TELAH BERIMAN LEBIH DULU DARI KAMI, DAN JANGANLAH ENGKAU MEMBIARKAN KEDENGKIAN DALAM HATI KAMI TERHADAP ORANG-ORANG YANG BERIMAN; YA RABB KAMI, SESUNGGUHNYA ENGKAU MAHA PENYANTUN LAGI MAHA PENYAYANG”).




TAWAKAL PADA ALLAH ~ AL-MUMTAHANAH 4-5:
RABBANA ‘ALAIKA TAWAKKALNA WA ILAIKA ANABNA WA ILAIKAL MASHIR. RABBANA LA TAJ’ALNA FITNAL LILLADZINA KAFARU, WAGHFIR LANA, RABBANA INNAKA ANTAL ‘AZIZUL HAKIM.
(“YA TUHAN KAMI HANYA KEPADA ENGKAULAH KAMI BERTAWAKKAL DAN HANYA KEPADA ENGKAULAH KAMI BERTAUBAT DAN HANYA KEPADA ENGKAULAH KAMI KEMBALI. “YA TUHAN KAMI, JANGANLAH ENGKAU JADIKAN KAMI (SASARAN) FITNAH BAGI ORANG-ORANG KAFIR. DAN AMPUNILAH KAMI YA TUHAN KAMI. SESUNGGUHNYA ENGKAULAH YANG MAHA PERKASA LAGI MAHA BIJAKSANA”).



LINGKUNGAN YG BAIK ~ AN-NISA 75:
RABBANA AKHRIJNA MIN HAZIHIL QARYATIZH ZALIMI AHLUHA WAJ’AL LANA MIL LADUNKA WALIYYAN WAJ’AL LANA MIN LADUNKA NASIRA.
(“YA TUHAN KAMI, KELUARKANLAH KAMI DARI NEGERI INI YANG ZALIM PENDUDUKNYA DAN BERILAH KAMI PELINDUNG DARI SISI ENGKAU, DAN BERILAH KAMI PENOLONG DARI SISI ENGKAU!”).

Kumpulan Doa Taken from http://tajung.blogspot.com/2010/05/kumpulan-doa.html

DICINTAI UMAT ~ QS.IBRAHIM 37:
RABBANA INNI ASKANTU MIN ZURRIYYATI BI WADIN GAIRI ZI ZAR’IN ‘INDA BAITIKAL MUHARRAM, RABBANA LIYUQIMUS SALATA FAJ’AL AF-IDATAN MINAN NASI TAHWI ILAIHIM WARZUQHUM MINAS SAMARATI LA’ALLAHUM YASYKURUN.
(YA TUHAN KAMI, SESUNGGUHNYA AKU TELAH MENEMPATKAN SEBAHAGIAN KETURUNANKU DI LEMBAH YANG TIDAK MEMPUNYAI TANAM-TANAMAN DI DEKAT RUMAH ENGKAU YANG DIHORMATI, YA TUHAN KAMI (YANG DEMIKIAN ITU) AGAR MEREKA MENDIRIKAN SHALAT, MAKA JADIKANLAH HATI SEBAGIAN MANUSIA CENDERUNG KEPADA MEREKA DAN BERI REZKILAH MEREKA DARI BUAH-BUAHAN, MUDAH-MUDAHAN MEREKA BERSYUKUR).


Kumpulan Doa Taken from http://tajung.blogspot.com/2010/05/kumpulan-doa.html

KEDUDUKAN MULIA ~ AL-MUKMINUN 29:
RABBI ANZILNI MUNZALAM MUBARAKAW WA ANTA KHAIRUL MUNZILIN.
(YA TUHANKU, TEMPATKANLAH AKU PADA TEMPAT YANG DIBERKATI, DAN ENGKAU ADALAH SEBAIK-BAIK YANG MEMBERI TEMPAT“).



DIBERI HIKMAH ~ ASY-SYU’ARA 83-85:
RABBI HABLI HUKMAW WA ALHIQNI BIS SALIHIN, WAJ’AL LI LISANA SIDQIN FIL AKHIRIN, WAJ’ALNI MIW WARASATI JANNATIN NA’IM. (“YA TUHANKU, BERIKANLAH KEPADAKU HIKMAH DAN MASUKKANLAH AKU KE DALAM GOLONGAN ORANG-ORANG YANG SALEH, DAN JADIKANLAH AKU BUAH TUTUR YANG BAIK BAGI ORANG-ORANG (YANG DATANG) KEMUDIAN, DAN JADIKANLAH AKU TERMASUK ORANG-ORANG YANG MEMPUSAKAI SURGA YANG PENUH KENIKMATAN).



BANGUNAN INDAH DLM SURGA ~ AT-TAHRIM 11:
RABBIBNI LI ‘INDAKA BAITAN FIL JANNATI WA NAJJINI MIN FIR’AUNA WA ’AMALIHI WA NAJJINI MINAL QAUMIZ ZALIMIN.
(“YA RABBKU, BANGUNKANLAH UNTUKKU SEBUAH RUMAH DI SISI-MU DALAM FIRDAUS, DAN SELAMATKANLAH AKU DARI FIR’AUN DAN PERBUATANNYA, DAN SELAMATKANLAH AKU DARI KAUM YANG ZHALIM).

Kumpulan Doa Taken from http://tajung.blogspot.com/2010/05/kumpulan-doa.html

MOHON CURAHAN RIZKI ~ AL-MAIDAH 114:
ALLAHUMMA RABBANA ANZIL ‘ALAINA MA-IDATAM MINAS SAMA’I TAKUNU LANA ‘IDAN LI AWWALINA WA AKHIRINA WA AYATAM MINKA WARZUQNA WA ANTA KHAIRUR RAZIQIN.
“YA TUHAN KAMI TURUNKANLAH KIRANYA KEPADA KAMI SUATU HIDANGAN DARI LANGIT (YANG HARI TURUNNYA) AKAN MENJADI HARI RAYA BAGI KAMI YAITU ORANG-ORANG YANG BERSAMA KAMI DAN YANG DATANG SESUDAH KAMI, DAN MENJADI TANDA BAGI KEKUASAAN ENGKAU; BERI RZEKILAH KAMI, DAN ENGKAULAH PEMBERI REZKI YANG PALING UTAMA”).

Kumpulan Doa Taken from http://tajung.blogspot.com/2010/05/kumpulan-doa.html

AMPUNAN DOSA AL-HADIS :
ALLAHUMMAQH FIRLI KHATHI-ATI WA JAHLI WA ISRAFI FI AMRI KULLIH, WAMA ANTA A’LAMU BIHI MINNI. ALLAHUMMAQH FIRLI KHATHAYAYA WA ‘AMDI WA JAHLI WA HAZLI WA KULLU DZALIKA ‘INDI. ALLAHUMMAQH FIRLI MA QADDAMTU WAMA AKHKHARTU WAMA ASRARTU WAMA A’LANTU, ANTAL MUQADDIMU, WA ANTAL MUAKHKHIRU, WA ANTA ‘ALA KULLI SYAI-IN QADIR.
(YA ALLAH, AMPUNILAH KESALAHAN, KEBODOHAN DAN KETERLALUANKU DALAM SEGALA URUSAN DAN AMPUNI PULA SEGALA DOSA YANG ENGKAU LEBIH MENGETAHUI DARIPADA AKU. YA ALLAH, AMPUNI KESALAHAN, KESENGAJAAN, KEBODOHAN DAN KETERLALUANKU, SERTA SEGALA DOSA YG TERDAPAT PADA DIRIKU. YA, ALLAH AMPUI DOSAKU YG TELAH LALU MAUPUN YG AKAN DATANG, YG RAHASIA MAUPUN YG TERANG2AN. ENGKAU MAHA TERDAHULU DAN MAHA TERAKHIR DAN ENGKAU MAHA KUASA SEGALA SESUATU).

Kumpulan Doa Taken from http://tajung.blogspot.com/2010/05/kumpulan-doa.html

KEBAIKAN DUNIA AKHIRAT :
ALLAHUMMA ASHLIH LI DINI ALLAZI HUWA ‘ISHMATU AMRI WA ASHLIH LI DUN-YAYA ALLATI FIHA MA’ASYI, WA ASHLIH LI AKHIRATI ALLATI FIHA MA’ADI, WAJ’ALLIL HAYATA ZIYADATAN LI FI KULLI KHAIRIN, WAJ’ALIL MAUTA RAHATAN LI MIN KULLI SYARRIN.
(YA ALLAH PERBAIKILAH URUSAN AGAMAKU YG MENJADI PEGANGAN BAGI SETIAP URUSANKU, PERBAIKILAH DUNIAKU YG DISITULAH URUSAN KEHIDUPANKU. PERBAIKILAH AKHIRATKU YG KESANALAH AKU AKAN KEMBALI. JADIKANLAH KEHIDUPANKU INI SEBAGAI TAMBAHAN KESEMPATAN UTK MEMPERBANYAK AMAL KEBAJIKAN, DAN JADILANKAH KEMAITIANKU SEBAGAI TEMPAT PERISTIRAHATAN DARI SETIAP KEJAHATAN).


LEPAS DARI KESULITAN ~ AL-ANBIYA 87: 87.
LA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINAZ ZALIMIN (“TIDAK ADA TUHAN SELAIN ENGKAU. MAHA SUCI ENGKAU, SESUNGGUHNYA AKU ADALAH TERMASUK ORANG-ORANG YANG ZALIM.”


Kumpulan Doa Taken from http://tajung.blogspot.com/2010/05/kumpulan-doa.html

DOA UNTUK KESEMBUHAN :
“ALLAHUMMA RABBANNAAS, ISYFI ANTA ASSYAAFI, WA AAFI ANTAL MU’AAFII, LAA SYIFAA’ ILLA SYIFAA’UK, SYIFAA’AN LAA YUGHAADIRU SAQAMAN WALA ALAMA”
(WAHAI ALLAH TUHAN SELURUH MANUSIA, SEMBUHKANLAH DAN ENGKAU MAHA MENYEMBUHKAN, DAN SEHATKAN DAN MAAFKANLAH KARENA ENGKAULAH YANG MAHA MEMAAFKAN DAN MENYEHATKAN, TiIADA KESEMBUHAN KECUALI KESEMBUHAN YANG DATANG DARIMU, KESEMBUHAN YANG TAK MEMBAWA KESIALAN DAN KESAKITAN“).