Saturday, June 12, 2010

BID'AH DALAM AQIDAH

SEBAGAI tambahan penjelasan bagi kemaksiatan, dalam syariah
agama ini kita mengenal apa yang disebut dengan bid'ah. Yaitu
sesuatu yang diada-adakan oleh manusia dalam urusan agama.
Baik bid'ah yang berkaitan dengan aqidah yang dinamakan dengan
bid'ah ucapan, maupun bid'ah yang berkaitan dengan amalan.

Bid'ah-bid'ah ini merupakan salah satu jenis perkara yang
diharamkan tetapi berbeda dengan kemaksiatan yang biasa.
Sesungguhnya pelaku bid'ah ini mendekatkan diri kepada Allah
SWT dengan bid'ah-bid'ah tersebut, dan berkeyakinan bahwa
dengan bid'ahnya itu dia telah melakukan ketaatan terhadap
Allah dan beribadah kepada-Nya. Dan inilah yang paling
membahayakan.

Bid'ah itu sendiri bisa berupa keyakinan yang bertentangan
dengan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw dan ajaran
yang terdapat di dalam Kitab Allah. Dan bid'ah untuk jenis ini
kita sebut dengan bid'ah dalam aqidah (al-bid'ah
al-i'tiqadiyyah) atau bid'ah dalam ucapan (al-bid'ah
al-qawliyyah); yang sumbernya ialah mengatakan sesuatu tentang
Allah yang tidak didasari dengan ilmu pengetahuan. Perkara ini
termasuk salah satu perkara haram yang sangat besar. Bahkan
Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa perkara ini merupakan perkara
haram yang paling besar. Allah SWT berfirman:

"Katakanlah: 'Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan
yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi,
dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan
yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah
dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah
untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap
Allah apa yang tidak kamu ketahui.'" (al-A'raf: 33)

Termasuk dalam hal ini ialah perbuatan mengharamkan apa yang
dihalalkan oleh Allah, tanpa dasar yang jelas; sebagaimana
difirmankan oleh-Nya:

"Katakanlah: 'Terangkanlah kepadaku tentang rizki yang
diturunkan oleh Allah kepadamu, lalu kamu jadikan
sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.'
Katakanlah: 'Apakah Allah telah memberikan izin
kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja
terhadap Allah?'" (Yunus: 59)

Selain itu, juga perbuatan yang dimaksudkan untuk beribadah
kepada Allah tetapi tidak disyariahkan dalam ajaran agama-Nya,
seperti mengadakan upacara-upacara keagamaan yang tidak
diajarkan oleh agama.

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain
Allah yang mensyariahkan untuk mereka agama yang tidak
diizinkan oleh Allah?..." (as-Syura: 21)

Dalam sebuah hadits disebutkan:

"Jauhilah, hal-hal baru dalam urusan agama, karena
sesungguhnya setiap bid'ah adalah kesesatan."59

"Barangsiapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami,
dan ia tidak ada dalam ajaran kami, maka sesuatu itu
tidak diterima."60

Kedua macam bid'ah di atas --sebagaimana dikatakan oleh Ibn
al-Qayyim-- adalah saling bergantung satu dengan lainnya.
Jarang sekali bid'ah yang terpisah satu dengan lainnya;
sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama: "bid'ah dalam
perkataan berkawin dengan bid'ah amalan; kemudian kedua
"pengantin" itu sibuk merayakan perkawinannya. Lalu keduanya
melahirkan anak-anak zina yang hidup di negeri Islam; kemudian
mereka bersama-sama kaum Muslimin menuju kepada Allah SWT."

Syaikh Islam Ibn Taimiyah berkata, "Hakikat "dikawinkannya"
kekafiran dengan bid'ah adalah lahirnya kerugian di dunia dan
akhirat."

Bid'ah lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan, karena
hal itu bertentangan dengan ajaran agama. Di samping itu,
orang yang melakukan bid'ah tidak merasa perlu bertobat, dan
kembali kepada jalan yang benar. Bahkan dia malah mengajak
orang lain untuk menjalankan bid'ah itu bersama-sama. Seluruh
isi bid'ah itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh
Allah dan Rasul-Nya. bid'ah menolak semua ajaran agama yang
dibenarkan. Ia memberi dukungan kepada orang yang memusuhi
agama, dan memusuhi orang yang mendukung agama ini. Ia
menetapkan apa yang di-nafi-kan oleh agama, dan me-nafi-kan
apa yang telah ditetapkan oleh agama.6,

Seluruh bid'ah tidak berada pada satu tingkatan. Ada bid'ah
yang berat dan ada pula bid'ah yang ringan. Ada bid'ah yang
disepakati dan ada pula bid'ah yang dipertentangkan.

Bid'ah yang berat ialah bid'ah yang dapat menjadikan pelakunya
sampai kepada tingkat kekufuran. Semoga Allah SWT memberikan
perlindungan kepada kita dari perbuatan tersebut. Misalnya,
kelompok-kelompok yang keluar dari pokok-pokok ajaran agama
ini, dan memisahkan diri dari umat; seperti: Nashiriyah, Druz,
Syi'ah Ekstrim dan Ismailiyah yang beraliran kebatinan, dan
lain-lain; sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ghazali:
"Secara lahiriah mereka menolak, dan secara batiniah mereka
kufur." Syaikh Islam Ibn Taimiyah berkata, "Mereka lebih kufur
daripada orang Yahudi dan Nasrani, dan oleh sebab itu
perempuan mereka tidak boleh dinikahi, sembelihan mereka tidak
boleh dimakan, padahal sembelihan Ahli Kitab boleh dimakan dan
wanita mereka boleh dinikahi."

Bid'ah berat yang tidak sampai membuat pelakunya termasuk ke
dalam kekufuran tetapi hanya sampai kepada kefasiqan. Yaitu
kefasiqan dalam bidang aqidah dan bukan kefasiqan dalam
perilaku mereka. Pelaku bid'ah ini kadang-kadang shalatnya
paling lama dibandingkan dengan orang lain. Mereka palõng
banyak berpuasa dan membaca al-Qur'an; seperti yang dilakukan
oleh orang-orang Khawarij. "Salah seorang di antara kalian
akan meremehkan shalatnya jika dibandingkan dengan shalat
mereka (orang-orang Khawarij), meremehkan puasanya jika
dibandingkan dengan puasa mereka, dan meremehkan tilawahnya
jika dibandingian dengan tilawah mereka." Letak kerusakan
mereka bukan pada perasaan mereka, tetapi pada akal pikiran
mereka yang enggan dan membatu. Sehingga mereka mau membunuh
orang-orang Islam dan membiarkan orang-orang yang menyembah
berhala.

Kelompok yang serupa dengan Khawarij ini sangat banyak,
seperti Rafidhah, Qadariyah, Mu'tazilah dan mayoritas kelompok
Jahmiyah, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Qayyim.62

Ada bid'ah yang termasuk kategori bid'ah yang ringan, yang
sebabnya berasal dari kesalahan dalam melakukan ijtihad, atau
salah dalam mempergunakan dalil, bid'ah seperti ini sama
dengan dosa-dosa kecil dalam kemaksiatan.

Di samping itu, ada pula bid'ah yang masih diperselisihkan.
Artinya, sesuatu kaum yang menetapkan bahwa suatu perkara
termasuk bid'ah tetapi kaum Muslimin yang lainnya tidak
mengatakannya bid'ah. Contohnya, bertawassul dengan Nabi saw,
hamba-hamba Allah yang salih. Perkara ini adalah amalan
furu'iyah dan bukan masalah aqidah dan pokok-pokok agama;
sebagaimana dikatakan oleh Imam Hasan al-Banna, yang dikutip
Imam Muhammad bin Abd al-Wahab.

Contoh lainnya, ialah disiplin melakukan ibadah. Apakah hal
ini termasuk bid'ah atau tidak?

Sesungguhnya, bid' ah tidak berada pada tingkat yang sama, dan
begitu pula orang yang melakukannya. Ada orang yang
menganjurkan kepada bid'ah, dan ada pula orang yang hanya
sekadar ikut melakukan bid'ah dan tidak mengajak orang lain
untuk melakukannya. Semua kelompok memiliki keterkaitan hukum
yang berbeda.

Catatan kaki:

59 Diriwayatkan oleh Ahmad dari Irbad bin Sariyah. 43, 44; dan
Hakim. 1:95; dan Ibn Hibban

60 Munattaq 'Alaih. Diriwayatkan oleh Bukhari, 2697; dan
diriwayatkan oleh Muslim. 1718.

61 Lihat Madarij al-Salikin, I :222-223.

62 Lihat Madarij al-Salikin. 1: 362

------------------------------------------------------
FIQH PRIORITAS
Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah

Bela_lah Agama MU

HUKUM-HUKUM YANG DIBAWA NABI MUHAMMAD SAW MEMBAWA KEBAHAGIAAN BAGI UMAT MANUSIA
Al-Qur’an Menjawab :
Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan Rasul-rasul-Nya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan[1484]. (QS. Ath Thalaaq 65:8)

[1484]. Yang dimaksud dengan hisab dan azab di sini adalah hisab dan azab di akhirat




AZAB ALLAH PASTI DATANG TEPAT PADA WAKTUNYA :
Al-Qur’an Menjawab :
Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan[1157], benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya. (QS. Al ‘Ankabuut 29:53)

[1157]. Yang dimaksud dengan waktu yang telah ditetapkan, ialah: menjanjikan azab itu pada hari Pembalasan, di akhirat.




TEGURAN ALLAH BAGI CUCU ADAM AS YANG SELALU BERFOYA-FOYA
Al-Qur’an Menjawab :
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu[1598],(QS. At Takaatsur 102:1)

[1598]. Maksudnya: bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya telah melalaikan kamu dari ketaatan.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (S.102:1-2) turun berkenaan dengan dua qabilah Anshar. Bani Haritsah dan Bani Harts yang saling menyombongkan diri dengan kekayaan dan keturunannya dengan saling bertanya: "Apakah kalian mempunyai pahlawan yang segagah dan secekatan si Anu?" Mereka menyombongkan diri pula dengan kedudukan dan kekayaan orang-orang yang masih hidup. Mereka mengajak pula pergi ke kubur untuk menyombongkan kepahlawanan dari golongannya yang sudah gugur, dengan menunjukkan keburannya. Ayat ini (S.102:1-2) turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hidup bermegah-megah sehingga terlalaikan ibadahnya kepada Allah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Buraidah.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Ali pernah berkata: "Pada mulanya kami sangsi akan siksa qubur. Setelah turunnya ayat ini (S.102:1-4) hilanglah kesangsian itu."
(Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari Ali.)


Al-Qur’an Menjawab :
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[1485] (QS. At Tahrim 66:1)

[1485]. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw pernah mengharamkan dirinya minum madu untuk menyenangkan hati isteri-isterinya. Maka turunlah ayat teguran ini kepada Nabi.


Al-Qur’an Menjawab :
Dan tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mukjizat kecuali mukjizat itu lebih besar dari mukjizat-mukjizat yang sebelumnya. Dan Kami timpakan kepada mereka azab[1359] supaya mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Az Zukhruf 43:48)

[1359]. Yang dimaksud azab di sini ialah azab duniawi sebagai cobaan dari Tuhan seperti kurangnya makanan, berjangkitnya hama tumbuh-tumbuhan dan lain-lain.




DZIKIR AKBAR BISA DILAKUKAN KAPAN PUN
Al-Qur’an Menjawab :
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[839] dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An Nahl 16:97)

[839]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.


Al-Qur’an Menjawab :
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia[236] dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali 'Imran 3 : 148)

[236]. Pahala dunia dapat berupa kemenangan-kemenangan, memperoleh harta rampasan, pujian-pujian dan lain-lain.




SEGALA SESUATU YANG BERMANFAAT KENAPA HARUS TAKUT BID’AH
Al-Qur’an Menjawab :
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[56], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[57], hari kemudian dan beramal saleh[58], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah 2:62)

[56]. Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari'at Nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa.

[57]. Orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.

[58]. Ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama Islam, baik yang berhubungan dengan agama atau tidak.




SEGALA SESUATU PASTI ADA RINTANGANNYA
Al-Qur’an Menjawab :
Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad 47:9)




SABAR
Al-Qur’an Menjawab :
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. (QS. Fushshilat 41:35)


AZAB BAGI ORANG YANG SYIRIK
Al-Qur’an Menjawab :
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. Az Zumar 39:3)


Al-Qur’an Menjawab :
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisaa' 4:48)




LANJUTKAN DAKWAH DALAM MEMPERJUANGKAN AKIDAH ISLAM
Al-Qur’an Menjawab :
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar." (QS. Al Qashash 28:80)





Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah………… (QS. Al Baqarah 2:203)

………"Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (QS. Al Baqarah 2:200)

MUTIARA NASEHAT SYAIKH IBNU BAZZ TERHADAP THOLIBUL ‘ILMU

Oleh :Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Segala puji bagi Allah, Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya. Adapun setelah itu :

Adalah tidak diragukan lagi, bahwasanya menuntut ilmu termasuk seutama-utama amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, termasuk sebab-sebab kesuksesan meraih surga dan kemuliaan bagi pelakunya. Termasuk hal yang terpenting dari perkara-perkara yang penting adalah mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu, menjadikan menuntutnya karena Allah bukan karena selain-Nya. Dikarenakan yang demikian ini merupakan jalan yang bermanfaat baginya dan juga merupakan sebab diperolehnya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat.

Dan sungguh telah datang sebuah hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu dengan mengharap wajah Allah, tidaklah ia mempelajarinya melainkan untuk memperoleh harta dunia, dia takkan mendapatkan harumnya bau surga di hari kiamat." [Dekeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang hasan}.

Dan dikeluarkan pula oleh Turmudzi dengan sanad yang di dalamnya ada kelemahan, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa menuntut ilmu dengan maksud untuk membantah ulama, atau mengumpulkan orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah manusia kepada-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.".

Maka kunasehatkan kepada tiap-tiap penuntut ilmu dan kepada setiap muslim –yang mengetahui perkataan ini- untuk senantiasa mengikhlaskan segala macam amalan karena Allah, sebagai pengejawantahan firman Allah :

"Artinya : Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia beramal sholih dan tidak mensekutukan Allah di dalam peribadatan sedikitpun.". [Al-Kahfi : 110].

Dan di dalam shohih Muslim dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda :

"Artinya : Allah Azza wa Jalla berfirman, Aku tidak butuh kepada sekutu-sekutu dari kesyirikan, barangsiapa yang beramal suatu amalan yang mensekutukan-Ku dengan selain-Ku, kutinggalkan ia dengan sekutu-Nya."

Aku wasiatkan pula kepada tiap tholibul ‘ilm dan tiap muslim untuk takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa segala urusannya diawasi oleh-Nya, sebagai implementasi firman Allah.

"Artinya :Sesungguhnya orang-orang yang takut dengan Rabb mereka yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar." [Al-Mulk : 12]

Dan firmanNya.

"Artinya : Dan bagi orang-orang yang takut dengan Tuhannya disediakan dua surga.” [Ar-Rahman : 46].

Berkata sebagian salaf, "Inti dari ilmu adalah takut kepada Allah".

Berkata Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, "Cukuplah takut kepada Allah itu dikatakan sebagai ilmu dan cukuplah membangkang dari-Nya
dikatakan sebagai kejahilan.".

Berkata sebagian salaf : "Barangsiapa yang lebih mengenal Allah nsicaya dia lebih takut kepada-Nya". Dan menunjukkan kebenaran makna ini sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

"Artinya : Adapun aku, demi Allah, adalah orang yang lebih takut kepada Allah daripada kalian dan aku lebih bertakwa kepada-Nya daripada kalian". [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim].

Oleh karena itulah, kekuatan ilmu seorang hamba terhadap Allah adalah merupakan sebab kesempurnaan takwa dan keikhlasannya, wuqufnya (berhentinya) dia dari batasan-batasan Allah dan kehati-hatiannya dari kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman,

"Artinya : Sesungguhnya orang yang paling takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya adalah ulama". [Fathir : 28].

Maka ulama yang mengetahui Allah dan agamanya, mereka adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, serta mereka adalah orang yang paling mampu menegakkan agama-Nya. Di atas mereka ada pemimpin-pemimpin mereka dari kalangan Rasul dan Nabi ‘alaihimush sholaatu was salaam- kemudian para pengikut mereka dengan lebih baik.

Nabi mengabarkan termasuk tanda-tanda kebahagiaan adalah fahamnya seorang hamba akan agama Allah. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

"Artinya : Barangsiapa dikehendaki Allah atasnya kebaikan niscaya ia akan difahamkan akan agamanya" [Dikeluarkan di dalam shahihain dari hadits Mu’awiyah Rahiallahu ‘anhu]

Tidaklah hal yang demikian ini melainkan dikarenakan faham terhadap agama akan mendorong seorang hamba untuk menegakkan perintah Allah, untuk takut kepada-Nya dan memenuhi kewajiban-kewajiban-Nya, menghindari apa-apa yang membuat-Nya murka. Faham terhadap agama akan membawanya kepada akhlak yang mulia, amal yang baik, dan sebagai nasehat kepada Allah dan hamba-hamba-Nya.

Aku memohon kepada Allah Azza wa jalla untuk menganugerahkan kita, seluruh penuntut ilmu dan kaum muslimin seluruhnya, dengan pemahaman di dalam agama-Nya dan istiqomah di atasnya. Semoga Allah melindungi kita dari seluruh keburukan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amal-amal kita, sesunggunya Allahlah pelindung dari hal ini dan Ia maha memiliki kemampuan atasnya. Wallahu a'lam

Wassalam

KEUTAMAAN DAKWAH TAUHID

Bismillahhirrohmanirrohim

KEUTAMAAN MENYAMPAIKAN DAN MENGAJAK KEPADA TAUHID

Para Ikhwah fillah yang Insya Allah di Rahmati oleh Allah SWT. Pada kali ini Admin akan menyampaikan dan mengajak kepada tauhid karena itu adalah cabang Iman yang paling utama dan paling mulia. Menyampaikan dan mengajak tauhid berarti mengajak kepada derajat keimanan yang paling tinggi. Inya Allah sangat bermanfaat untuk Admin pribadi dan Ikhwah Fillah pada umumnya.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau lebih dari enam puluh cabang, cabang yang paling tinggi adalah perkataan: ‘Laa ilaaha illallaah’, yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (rintangan) dari jalan dan malu adalah salah satu cabang Iman.”(Lihat Madaarijus Saalikiin (III/462), cet. Daarul Hadits.)

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahwasanya cabang-cabang keimanan lainnya tidak akan sah dan tidak diterima kecuali setelah sahnya cabang yang paling utama ini (tauhid).