Monday, May 31, 2010

Inilah Sikap

Inilah Sikap Kaum Salaf!
Kamis, 06 Mei 2010 15:54 Syaikh Abu Mush’ab Abdul Wadud
Tags Syaikh Abu Mush’ab Abdul Wadud

Mereka itulah orang-orang yang menjihadi kaum murtadin yang tidak merugikan Allah sedikitpun, dan Dia siapkan mereka untuk membela Agama-Nya dan menjaga pilar-pilarnya, Abu Bakar Ash-Shiddieq dan para Sahabatnya Radiyallahu ‘anhuma, di tengah mereka ada auliyaullah dan orang-orang khusus pilihan Allah yang tentangnya Rasulullah. Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “janganlah kalian mencela sahabat ku…”

Dan tentang mereka Abdullah ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘anhu berkata: “siapa yang mencontoh maka hendakalah ia mencontoh terhadap orang-orang yang sudah meninggal…” merekalah orang-orang yang menjaga petunjuk-petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam dan tuntunannya dalam setiap hal besar dan hal kecil, mereka mengamalkannya dan mereka menyampaikannya.

Dan diantara hal itu adalah perintah Allah ‘Azza Wa Jalla kepada kita untuk memerangi orang-orang kafir, orang-orang murtad serta orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya.saw dengan tangan dan lisan secara bersamaan, bersikap kasar terhadap mereka serta tidak mengenal rasa kasihan dan iba terhadap mereka, karena mereka telah menghalangi (orang-orang) dari jalan Allah sehingga mereka sesat dan menyesatkan banyak orang, Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang beriman perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah meerka mendapatkan kekerasan daripadamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa” [QS.At-Taubah:123].

Inilah siroh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam di hadapan kita, dimana para sahabat.ra bila perang berkecamuk dan musuh menghadang, engkau dapatkan mereka di belakang Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam dan melindungi diri dengannya, mereka membentengi diri dengan beliau dan beliau orang yang paling dekat terhadapa musuh, serta yang paling keras dalam peperangan, padahal beliau adalah orang yang paling kasih sayang dan paling santun terhadap mereka, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan tentangnya:
“dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi sekalian alam” [QS.Al-Anbiya’:107].

KAUM MUJAHIDIN MENCONTOH SIKAP KASAR SALAFUL ‘UMMAH TERHADAP KAUM MURTADDIN

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari Diennya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencitai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mu’min, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang di kehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.” [ QS.Al-Mai’dah: 54 ]

Mereka itulah orang-orang yang menjihadi kaum murtadin yang tidak merugikan Allah sedikitpun, dan Dia siapkan mereka untuk membela Agama-Nya dan menjaga pilar-pilarnya, Abu Bakar Ash-Shiddieq dan para Sahabatnya Radiyallahu ‘anhuma, di tengah mereka ada auliyaullah dan orang-orang khusus pilihan Allah yang tentangnya Rasulullah. Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “janganlah kalian mencela sahabat ku…”

Dan tentang mereka Abdullah ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘anhu berkata: “siapa yang mencontoh maka hendakalah ia mencontoh terhadap orang-orang yang sudah meninggal…”
merekalah orang-orang yang menjaga petunjuk-petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam dan tuntunannya dalam setiap hal besar dan hal kecil, mereka mengamalkannya dan mereka menyampaikannya.

Dan diantara hal itu adalah perintah Allah ‘Azza Wa Jalla kepada kita untuk memerangi orang-orang kafir, orang-orang murtad serta orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya.saw dengan tangan dan lisan secara bersamaan, bersikap kasar terhadap mereka serta tidak mengenal rasa kasihan dan iba terhadap mereka, karena mereka telah menghalangi (orang-orang) dari jalan Allah sehingga mereka sesat dan menyesatkan banyak orang, Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang beriman perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah meerka mendapatkan kekerasan daripadamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa” [QS.At-Taubah:123].

Inilah siroh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam di hadapan kita, dimana para sahabat.ra bila perang berkecamuk dan musuh menghadang, engkau dapatkan mereka di belakang Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam dan melindungi diri dengannya, mereka membentengi diri dengan beliau dan beliau orang yang paling dekat terhadapa musuh, serta yang paling keras dalam peperangan, padahal beliau adalah orang yang paling kasih sayang dan paling santun terhadap mereka, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan tentangnya:
“dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi sekalian alam” [QS.Al-Anbiya’:107].

Dan Dia berfirman pula tentangnya:
“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” [QS.Ali-‘Imron:159].

Tidak ada orang yang lebih penyayang terhadap umat ini daripada beliau, tapi apa yang beliau lakukan terhadap ‘Urariyiin ? yaitu orang-orang yang mengeluhkan penyakit kepada beliau, kemudian beliau mengutus mereka untuk berobat dari air susu dan air seni unta, terus mereka murtad dari Islam setelah mereka sembuh dan mereka membunuh si penggembala serta membawa pergi unta-untanya, maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam mengirim orang-orang untuk menyusul mereka, dan merekapun di hadirkan kehadapannya, kemudian beliau memotong tangan dan kaki mereka, dan beliau menusukan paku-paku yang sudah panas di bakar ke mata mereka, kemudian beliau menghempaskan mereka di terik matahari dan tidak di beri air sampai seseorang di antara mereka menjilat-jilat tanah dengan mulutnya saking hausnya sehingga mati semuanya.

Ketahuilah bahwa Allah tidak menurunkan satu ayatpun dalam Al-Qur’an ini dan tidak ada satu hadist pun dari hadist-hadist yang shohih lagi tsabit dari As-Sunnah ini melainkan suatu kaum telah mengamalkannya dan akan mengamalkan dengannya kaum yang lain -senang dengannya orang yang senang dan benci dengannya orang yang benci-.
Orang yang tergolong orang-orang yang bersyukur lagi teguh diatas dien ini dan berupaya keras lagi tabah di atas manhaj yang lurus ini lagi di cintai Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa salam, maka sesungguhnya ia menjihadi setiap orang yang murtad lagi keluar menentang dien ini dan menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Rabbul ‘Alamin, serta ia bersikap kasar terhadap mereka.

Seperti keadaan mereka para thoghut murtaddin musuh-musuh dien ini yang telah melepaskan diri dari Islam secara total –walau mereka sholat, shaum dan mengaku muslim- dan mereka intisab kepada kaum kuffar dan pemikiran-pemikirannya yang busuk, serta mereka membuat Qowanin Wadh’iyyah kemudian mereka di ikuti manusia di dalamnya dan rela dengan kehinaan dalam dien mereka. Mereka hancurkan mesjid-mesjid yang menyiarkan Al-Haq, mereka perangi jama’ahnya, mereka buka pintu-pintu kerusakan dan munkarot selebar-lebarnya, mereka halalkan darah dan kehormatan serta harta kaum muslimin, kemudian mereka membunuh, menahan dan merobek kehormatan. Dan mereak hari ini berlaku biadab terhadap ikhwan kita yang terpenjara dan memperlakukannya dengan perlakuan-perlakuan yang kejam. Kita memohon kepada Allah agar mengadzab mereka dengan tangan-tangan kita di dunia sebelum di akhirat, melegakan dada kami dan menghilangkan panas hati kita.
Kemudian bagaimana kita tidak bersikap kasar terhadap mereka atau kita tidak berupaya menjihadi (mereka) sebagai bentuk pembalasan untuk ikhwan kami apalagi dari memeranginya dalam rangka membela Dien ini serta melindungi keutuhan Islam dan kaum Muslimin, Allah Ta’ala berfirman:
“Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu ? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya, Allah maha Mengetahui lagi maha Bijaksana.” [QS.At-Taubah: 13-15]

Ini adalah support dari Allah Ta’ala penyemangat dan memanas-manasi untuk memerangi kafirin dan membabat mereka, dan terutama kaum murtaddin itu dengan cara yang dilakukan oleh As-Salaf Ash-Sholih dari kalangan Sahabat dan Tabi’in yang mana mereka adalah sebaik-baik manusia untuk manusia.
Dimana Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Khalid ibnul Walid Radiyallahu ‘anhu seraya menyemangatinya, saat datang berita kepada beliau bahwa ia menganggap besar Thulaihah dan orang-orang yang bersamanya, Beliau berkata:
“hendaklah apa yang Allah karuniakan kepadamu menambah bagimu kebaikan, dan taqwalah dalam urusanmu karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat baik, tegarlah dalam urusan mu dan jangan lembek, dan kamu tidak mendapatkan kesempatan menghajar orang-orang musyrik melainkan kamu membabatnya, serta orang yang engkau tangkap dari kalangan menentang Allah atau melawan-Nya, dari kalangan yang engkau pandang bahwa dalam hal itu terdapat penyelesaian maka bunuhlah ! ”.

Maka Khalid Radiyallahu ‘anhu pun mengejar-ngejar mereka satu bulan seraya membalaskan dendam kaum muslimin yang di bunuh mereka, yang berada diantara mereka saat mereka murtad, diantara mereka ada yang Khalid bakar dengan api, ada juga yang ia hancurkan kepalanya dengan batu, dan diantara mereka ada yang di jatuhkan dari atas gunung, kemudian Khalid memanggil Malik ibnu Nuwairoh dan ia kabarkan kepadanya tentang apa yang muncul darinya, berupa sikap mengikuti Sajah -yang mengaku Nabi- dan sikap dia menolak memberikan zakat, dan Khalid berkata: “apa kamu tidak tahu bahwa ia penerta sholat ? Maka ia menjawab: “sesungguhnya sahabat kamu mengklaim itu”.
Maka Khalid berkata: “apa dia sahabat saya dan bukan sahabat mu ? Hai Alirar, penggal lehernya !” maka ia menebas lehernya, kemudian beliau perintahkan agar kepalanya di sertakan dengan jarin (alas jemur kurma) dan di masak pada tiga periuk.

Semua ini agar mengambil pelajaran dengannya orang yang mendengar berita mereka, yaitu orang-orang Arab yang murtad. Sehingga Khalid ibnul Walid Radiyallahu ‘anhu jelas adalah pedang Allah bagi Musyrikin dan murtaddin, dimana Ash-Shiddiq Radiyallahu ‘anhu menugaskannya untuk memerangi mereka, sehingga ia lega dan melegakan.

Inilah Zaid ibnul Khottob Radiyallahu ‘anhu dalam peperangan melawan Ahlul Yamamah, beliau menyemangati para Sahabat untuk terus memerangi seraya berkata: “Hai manusia gigitkan geraham kalian, pukul mundur musuh kalian dan terus maju ke depan !”
Ini juga putra Abu Quhafah Ash-Shiddiq Radiyallahu ‘anhu berkata: “Bakar Fuja’ah di baqi!”. dan sebabnya adalah ia [fuja’ah] datang kepadanya, terus ia mengklaim bahwa ia telah masuk Islam dan meminta beliau agar menyiapkan pasukan bersamanya untuk memerangi kaum murtaddin, maka beliaupun menyiapkan bersamanya pasukan, dan tatkala sudah jadi maka ia tidak melewati seorang muslim pun dan orang murtad melainkan ia membunuhnya dan mengambil hartanya. Tatkala Ash-Shiddiq mendengar berita itu maka ia mengirim pasukan di belakangnya, kemudian pasukan itu membawa dia [fuja’ah] dan tatkala beliau [Ash-Shidiq] menguasainya, maka beliau mengirim dia ke Baqi, terus kedua tangannya di ikat ke belakang dan kemudian di lemparkan ke dalam api dan membakarkanya sedang dia dalam keadaan telungkup.

Ini juga Ali bin Abu Thalib Radiyallahu ‘anhu, saat beliau memberikan support kepada shahabat untuk memerangi khowarij musuh-musuh Allah, maka Shahabat tidak memperlambat diri sedikitpun dalam hal itu. Dan apa yang beliau lakukan terhadap syi’ah adalah dalil yang paling nyata terhadap sikap ini, di mana beliau menyalakan api besar dan melemparkan mereka ke dalamnya.

Sungguh para shahabat Radiyallahu ‘anhuma itu memiliki sikap kasar terhadap kaum murtadin dan sikap cemburu terhadap Dien ini, dan andaikata mereka berada pada zaman ini tentu mereka tidak akan duduk walau sebentar atau libur sesaat dari memerangi mereka dan membabat mereka. Jadi kita mengikuti jejak langkah mereka dan kami ber’azzam kuat menghidupkan sunnah mereka, serta kami akan terus berperang, membunuh, membakar, mencincang musuh-musuh Allah sebagai pembalasan atas apa yang di derita ikhwan kami [semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka] dan bersikap keras terhadap mereka serta mengamalkan setiap apa yang di lakukan oleh Al-Sabiqunal Awwalun terhadap orang-orang yang keluar dari ajaran Rabbul ‘Alamiin, sumpah demi Allah seandainya kami mendapatkan sunnah lain tentang dahsyatnya qital dan teror bagi musuh yang belum kami ketahui tentu kami akan bergegas mangamalkannya dan menghidupkannya sehingga kami benar-benar menjadi SALAFIYIN sesungguhnya da tergolong At-Tabi’ina lahum bi ihsan [orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik yang Allah ridho terhadap mereka dan mereka ridhoi terhadap-Nya serta dia persiapkan bagi mereka Jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai seraya mereka kekal di dalamnya, itulah kemenangan yang besar].
Jadi operasi-operasi Jihad yang di lakukan ikhwan kami hafidzahumullah di banyak tempat berupa peledakan dan penghancuran berbagai markaz para thoghut yang kokoh, beserta antek-antek dan kaki tangan mereka, sekalian juga tempat-tempat kerusakan dan kemungkaran, membakarnya dan memberikan pelajaran terhadap pelakunya, agar memungkinkan untuk menghabisi kaum murtaddin dan memukul mereka secara telak, adalah bukti terbesar atas sikap kasar kaum Mujahidin terhadap orang-orang yang keluar dari Dien ini dan bukti bahwa mereka mencontoh pendahulu mereka yang Sholeh [Salaful ‘Umah], sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.” [QS. Al-Anfal: 67]

Dan Firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:
“sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka.” [QS. Muhammad: 4]
Dan kami akan terus memberikan support demi tetap teguh di atas jalan ini, sebagaimana yang di lakukan oleh Ash-Shiddiq dan di ikuti oleh Khalid dan Shahabat lainnya Radiyallahu ‘anhuma berupa pembunuhan, memberi pelajaran, pembakaran dan sikap kasar.

Dan kami belum melegakan dada kami sama sekali, karena kami belum melakukan pembunuhan seperti yang di lakukan para Shahabat, dimana mereka Radiyallahu ‘anhuma telah membunuh pada perang Yamamah melawan bani hanifah sekitar 10.000 tentara, dan ada yang mengatakan 21.000 tentara, dan di satu hari mereka membunuh 14.000 orang, 7.000 orang di waktu pagi dan 70.000 orang di waktu sore. Dan tatkala Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiyallahu ‘anhu memanggil Khalid bin Walid, maka ia pun datang ke madinah dengan mengenakan baju besinya yang berkarat karena banyak terkena darah, dan pada sorban beliau tertancap anak panah yang berlumuran darah. Begitu juga Ali bin Abi Tholib Radiyallahu ‘anhu pasa masa kekhilafahannya, beliau dalam satu peperangan membunuh 4000 orang khowarij dan tidak selamat darinya kecuali 400 orang, dimana para shahabat tidak mendapatkan pimpinannya karena banyaknya mayat yang bertumpuk satu sama lain, dan begitu pula kepala-kepala mereka di ambil dan di letakan di jalanan menuju masjid Al-Kabir di Damaskus, kemudian di jadikan berumpak-umpak. Dan ini semua karena banyaknya yang di bunuh yang mana kita hari ini masih jauh darinya.

Inilah Sunnah Shahabat Radiyallahu ‘anhuma, jalan mereka dan manhaj mereka bagi orang-orang yang ingin menjadi Salafi sebenarnya, bahkan ini adalah jalan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam. Dan dengan ini Allah Ta’ala memerintahkannya dalam surat At-Taubah, Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hai Nabi perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka itu adalah neraka jahanam dan itu seburuk-buruknya tempat kembali.” [QS. At-Tahrim: 9]

Dan ia adalah sifat mukminin yang jujur, yang sabar lagi berjalan di atas manhaj ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang mereka dalam surat Al-Fath:
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku dan sujud…” [QS. Al-Fath: 29]

Maka antum Ikhwanul Mujahidin teruskan upaya penghancuran para perusak –yang kotor lagi najis- itu serta taqorrub kepada Allah dengan memenggal leher-leher mereka sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang0orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran.” [QS.Al-Anfal: 57]

Dengan hal itu kita mengharap ridho Allah Ta’ala dan kemenangan agar meraih Jannatun Na’im bersama para Nabi, Ash-Shiddiqin, Asy-Syuhada, Ash-Shalihin dan mereka itu sebaik-baiknya teman.

[dan kamu sungguh akan mengetahui (kebenaran) berita ini setelah beberapa waktu lagi ]
Penulis: Syaikh Abu Mush’ab Abdul Wadud
Sumber: Majalah Al-Jama’ah/ Al-Jazair/ edisi 13/ Shafar 1418 H,
Mimbar Tauhid Wal Jihad

Bahaya Ikhtilath

Bahaya Ikhtilat Antara Laki dan Perempuan ( Hati Hati Ikhwan / Akhwat Facebooker ! )Share
Today at 10:58
Bahaya Ikhtilat Antara Laki dan Perempuan

Pembicaraan seputar ikhtilath atau bercampur baur antara laki-laki dan perempuan dengan tanpa hijab (tabir penghalang) sudah pernah kita singgung. Namun karena banyaknya penyimpangan kaum muslimin dalam perkara ini dan adanya sisi-sisi permasalahan yang belum tersentuh maka tak ada salahnya kita bicarakan dan kita ingatkan kembali.

Bukankah Rabbul Izzah telah berfirman:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.' (Adz-Dzariyat: 55)
Dan juga dalam rangka menasihati diri pribadi dan orang lain, karena agama ini adalah nasihat, seperti kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

Agama itu adalah nasihat.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh1 rahimahullahu menyatakan dalam Fatawa dan Rasa`ilnya (10/35-44) bahwa ikhtilath antara laki-laki dengan perempuan ada tiga keadaan:
'Pertama: Ikhtilath para wanita dengan laki-laki dari kalangan mahram mereka, maka ini jelas dibolehkan.
Kedua: Ikhtilath para wanita dengan laki-laki ajnabi (non mahram) untuk tujuan yang rusak, maka hal ini jelas keharamannya.
Ketiga: Ikhtilath para wanita dengan laki-laki ajnabi (non mahram) di tempat pengajaran ilmu, di toko, kantor, rumah sakit, perayaan-perayaan dan semisalnya. Ikhtilath yang seperti ini terkadang disangka tidak akan mengantarkan kepada fitnah di antara lawan jenis, padahal hakikatnya justru sebaliknya. Sehingga bahaya ikhtilath semacam ini perlu diterangkan dengan membawakan dalil-dalil pelarangannya.'
Dalil secara global, kita tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan laki-laki dalam keadaan punya kecenderungan yang kuat terhadap wanita. Demikian pula sebaliknya, wanita punya kecenderungan kepada lelaki. Bila terjadi ikhtilath tentunya akan menimbulkan dampak yang negatif dan mengantarkan kepada kejelekan. Karena, jiwa cenderung mengajak kepada kejelekan dan hawa nafsu itu dapat membutakan dan membuat tuli. Sementara setan mengajak kepada perbuatan keji dan mungkar.
Dalil secara rinci, kita tahu bahwa wanita merupakan tempat laki-laki menunaikan hasratnya. Penetap syariat pun menutup pintu-pintu yang mengantarkan keterkaitan dan keterpautan sepasang insan yang berlawanan jenis di luar jalan pernikahan yang syar'i. Hal ini tampak dari dalil-dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah yang akan kita bawakan di bawah ini.
1. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

'Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya kepadanya dan dia menutup pintu-pintu seraya berkata, 'Marilah ke sini.' Yusuf berkata, 'Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.' Sesungguhnya orang-orang zalim tidak akan beruntung. (Yusuf: 23)
Ketika terjadi ikhtilath antara Nabi Yusuf 'alaihissalam dengan istri Al-Aziz, pembesar Mesir di kala itu, tampaklah dari si wanita apa yang tadinya disembunyikannya. Ia meminta kepada Yusuf untuk menggaulinya. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi Yusuf dengan rahmat-Nya sehingga dia terjaga dari perbuatan keji. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

'Maka Rabbnya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.' (Yusuf: 34)
Demikian pula bila lelaki lain ikhtilath dengan wanita ajnabiyah. Masing-masingnya tentunya menginginkan apa yang dicondongi oleh hawa nafsunya. Berikutnya, dicurahkanlah segala upaya untuk mencapainya.
2. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan lelaki yang beriman untuk menundukkan pandangan dari melihat wanita yang bukan mahramnya, demikian pula sebaliknya seperti termaktub dalam firman-Nya:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ. وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

'Katakanlah (ya Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.' Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka''.' (An-Nur: 30-31)
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada kaum mukminin dan kaum mukminat untuk menundukkan pandangan mereka. Kita tahu dari kaidah yang ada, perintah terhadap sesuatu menunjukkan wajibnya sesuatu tersebut. Berarti menundukkan pandangan dari melihat yang haram itu hukumnya wajib. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menerangkan bahwa hal itu lebih bersih dan lebih suci bagi mereka. Penetap syariat tidak membolehkan lelaki memandang wanita yang bukan mahramnya terkecuali pandangan yang tidak disengaja. Itu pun, pandangan tanpa sengaja itu, tidak boleh disusul dengan pandangan berikutnya. Jarir bin Abdillah radhiyallahu 'anahu berkata:

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ نَظْرِ الْفُجَاءَةِ، فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي

'Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja), maka beliau memerintahkan aku untuk memalingkan pandanganku.' (HR. Muslim no. 5609)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menerangkan, 'Makna نَظْرِ الْفُجَاءَةِ ِ adalah pandangan seorang lelaki kepada wanita ajnabiyah tanpa sengaja. Maka tidak ada dosa baginya pada awal pandangan tersebut, dan wajib baginya memalingkan pandangannya pada saat itu. Jika segera dipalingkannya, maka tidak ada dosa baginya. Namun bila ia terus memandangi si wanita, ia berdosa berdasarkan hadits ini. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan Jarir untuk memalingkan pandangannya. Juga bersamaan dengan adanya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

'Katakanlah (Ya Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata''.' (An-Nur: 30) [Al-Minhaj, 14/364]
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan untuk menundukkan pandangan dari lawan jenis, karena melihat wanita yang haram untuk dilihat, adalah zina. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anahu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَة، فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُُ، وَالنَّفُسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ

'Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina2, dia akan mendapatkannya, tidak bisa terhindarkan. Maka zinanya mata dengan memandang (yang haram), dan zinanya lisan dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.' (HR. Al-Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657)
Dalam lafadz lain disebutkan:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَى، مُدْرِكُ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الْاِسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ

'Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperoleh hal itu, tidak bisa terhindarkan. Kedua mata itu berzina dan zinanya dengan memandang (yang haram). Kedua telinga itu berzina dan zinanya dengan mendengarkan (yang haram). Lisan itu berzina dan zinanya dengan berbicara (yang diharamkan). Tangan itu berzina dan zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina dan zinanya dengan melangkah (kepada apa yang diharamkan). Sementara hati itu berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.' (HR. Muslim no. 2657)
Memandang wanita yang haram teranggap zina, karena seorang lelaki merasakan kenikmatan tatkala melihat keindahan si wanita. Hal ini akan menumbuhkan sebuah 'rasa' di hati si lelaki, sehingga hatinya pun terpaut dan pada akhirnya mendorongnya untuk melakukan perbuatan keji dengan si wanita. Tentunya kita maklumi adanya saling pandang antara lawan jenis bisa terjadi karena adanya ikhtilath antara lawan jenis. Ikhtilath pun dilarang karena akan berujung kepada kejelekan.

3. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

'Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan di dalam dada.' (Ghafir: 19)
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anahuma berkata, 'Ayat ini terkait dengan seorang lelaki yang duduk bersama suatu kaum. Lalu lewatlah seorang wanita. Ia pun mencuri pandang kepada si wanita.' Ibnu Abbas berkata pula, 'Lelaki itu mencuri pandang kepada si wanita. Namun bila teman-temannya melihat dirinya, ia menundukkan pandangannya. Bila ia melihat mereka tidak memerhatikannya (lengah), ia pun memandang si wanita dengan sembunyi-sembunyi. Bila teman-temannya melihatnya lagi, ia kembali menundukkan pandangannya. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala mengetahui keinginannya dirinya. Ia ingin andai dapat melihat aurat si wanita.' (Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, 15/198)
Allah Subhanahu wa Ta'ala mensifatkan mata yang mencuri pandang kepada wanita yang tidak halal untuk dipandang sebagai mata yang khianat. Lalu bagaimana lagi dengan ikhtilath' Bila memandang saja dicap berkhianat sebagai suatu cap yang jelek, apalagi berbaur dan saling bersentuhan dengan wanita ajnabiyah.

4. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

'Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang dahulu.' (Al-Ahzab: 33)
Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada istri-istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang suci lagi menjaga kehormatan diri untuk tetap tinggal di rumah mereka. Hukum ini berlaku umum untuk semua wanita yang beriman, karena tidak ada dalil yang menunjukkan kekhususan ayat ini hanya untuk para istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka diperintah tetap tinggal di dalam rumah, kecuali bila ada kebutuhan darurat untuk keluar rumah. Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa ikhtilath dengan lawan jenis sebagai perkara yang boleh dilakukan, sementara wanita diperintah untuk tidak keluar dari rumahnya'

Adapun dalil dari As-Sunnah yang menunjukkan tidak dibolehkannya ikhtilath, di antaranya:
1. Ummu Humaid radhiyallahu 'anaha istri Abu Humaid As-Sa'idi Al-Anshari radhiyallahu 'anahu datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, sungguh aku senang shalat berjamaah bersamamu.' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّيْنَ الصَّلاَةَ مَعِيْ، وَصَلاَتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاَتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاَتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَتِكِ فِي مَسجدِ قَومِِكِ، وَصَلاَتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاَتِكِ فِي مَسْجِدِي

'Sungguh aku tahu bahwa engkau senang shalat berjamaah bersamaku, akan tetapi shalatmu di kamar khususmu lebih baik daripada shalatmu di kamarmu. Dan shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di rumahmu. Dan shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih utama bagimu daripada shalatmu di masjidku.' (HR. Ahmad 6/371. Al-Haitsami berkata, 'Rijal hadits ini rijal shahih kecuali Abdullah bin Suwaid, ia di-tsiqah-kan oleh Ibnu Hibban.' Demikian pula yang dikatakan Al-Hafizh dalam At-Ta'jil. Lihat catatan kaki Musnad Al-Imam Ahmad, 18/424, cet. Darul Hadits, Al-Qahirah)
Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullahu menyatakan, 'Hadits seperti ini memberi pengertian bahwa shalat wanita di rumahnya lebih utama. Jika mereka (para wanita) berkata, 'Aku ingin shalat di masjid agar dapat berjamaah.' Maka aku katakan, 'Sesungguhnya shalatmu di rumahmu lebih utama dan lebih baik.' Hal itu karena seorang wanita akan terjauh dari ikhtilath dengan lelaki yang bukan mahramnya, sehingga akan menjauhkannya dari fitnah.' (Majmu'ah Durus Fatawa, 2/274)
Beliau rahimahullahu juga mengatakan, 'Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda demikian sementara beliau berada di Madinah. Dan kita tahu shalat di Masjid Nabawi memiliki keutamaan dan nilai lebih. Akan tetapi karena shalat seorang wanita di rumahnya lebih tertutup baginya dan lebih jauh dari fitnah (godaan) maka hal itu lebih utama dan lebih baik.' (Al-Fatawa Al-Makkiyyah, hal. 26-27, sebagaimana dinukil dalam Al-Qaulul Mubin fi Ma'rifati ma Yuhammimul Mushallin, hal. 570)

2. Abu Hurairah radhiyallahu 'anahu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

'Sebaik-baik shaf (jamaah) lelaki adalah shaf yang awal dan sejelek-jelek shaf (jamaah) lelaki adalah yang akhirnya. Sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang terakhir dan sejelek-jelek shaf wanita adalah yang paling awal.' (HR. Muslim no. 440)
Al-Imam Nawawi rahimahullahu berkata, 'Adapun shaf-shaf lelaki maka secara umum selama-lamanya yang terbaik adalah shaf awal, dan selama-lamanya yang paling jelek adalah shaf akhir. Beda halnya dengan shaf wanita. Yang dimaukan dalam hadits ini adalah shaf wanita yang shalat bersama kaum lelaki. Adapun bila mereka (kaum wanita) shalat terpisah dari jamaah lelaki, tidak bersama dengan lelaki, maka shaf mereka sama dengan lelaki. Yakni, yang terbaik adalah shaf yang awal sementara yang paling jelek adalah shaf yang paling akhir. Yang dimaksud shaf yang jelek bagi lelaki dan wanita adalah yang paling sedikit pahalanya dan keutamaannya, serta paling jauh dari tuntunan syar'i. Sedangkan maksud shaf yang terbaik adalah sebaliknya. Shaf yang paling akhir bagi wanita yang hadir shalat berjamaah bersama lelaki memiliki keutamaan karena wanita yang berdiri dalam shaf tersebut akan jauh dari bercampur baur dengan lelaki dan melihat mereka. Di samping jauhnya mereka dari berhubungan dengan kaum lelaki dan memikirkan mereka ketika melihat gerakan mereka, mendengar ucapannya, dan semisalnya. Shaf yang awal dianggap jelek bagi wanita karena alasan yang sebaliknya dari yang telah disebutkan.' (Syarh Shahih Muslim, 4/159-160)
Al-Imam Ash-Shan'ani rahimahullahu menyatakan, 'Dalam hadits ini ada petunjuk bolehnya wanita berbaris dalam shaf-shaf. Dan zahir hadits ini menunjukkan sama saja baik shalat mereka itu bersama kaum lelaki atau bersama wanita lainnya. Alasan baiknya shaf akhir bagi wanita karena dalam keadaan demikian mereka jauh dari kaum lelaki, jauh dari melihat dan mendengar ucapan mereka. Namun alasan ini tidaklah terwujud kecuali bila mereka shalat bersama lelaki. Adapun bila mereka shalat dengan diimami seorang wanita maka shaf mereka sama dengan shaf lelaki, yang paling utama adalah shaf yang awal.' (Subulus Salam, 2/49)
Apabila penetap syariat menjaga jangan sampai campur baur dan keterpautan antara lelaki dan wanita terjadi pada tempat ibadah, padahal dalam shalat jelas terpisah antara shaf lelaki dengan shaf wanita dan umumnya mereka yang datang memang ingin menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, jauh dari keinginan untuk berbuat jelek, maka tentunya di tempat lain yang terjadi ikhtilath lebih utama lagi pelarangannya.

3. Zainab radhiyallahu 'anaha istri Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anahu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada kami:

إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَلاَ تَمَسَّ طِيْبًا

'Apabila salah seorang dari kalian menghadiri shalat berjamaah di masjid maka jangan ia menyentuh (memakai) minyak wangi.' (HR. Muslim no. 996)
Abu Hurairah radhiyallahu 'anahu menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah dari mendatangi masjid- masjid Allah. Akan tetapi hendaklah mereka keluar rumah dalam keadaan tidak memakai wangi-wangian.' (HR. Abu Dawud no. 565. Kata Al-Imam Al Albani rahimahullahu, 'Hadits ini hasan shahih.')
Ibnu Daqiqil Id rahimahullahu berkata, 'Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang para wanita keluar menuju masjid bila mereka memakai wangi-wangian atau dupa-dupaan, karena akan membuat fitnah bagi lelaki dengan aroma semerbak mereka, sehingga menggerakkan hati dan syahwat lelaki. Tentunya pelarangan memakai wangi-wangian bagi wanita selain keluar menuju ke masjid lebih utama lagi (keluar ke pasar, misalnya, pent.).'
Beliau mengatakan pula, 'Termasuk dalam makna wangi-wangian adalah menampakkan perhiasan, pakaian yang bagus, suara gelang kaki, dan perhiasan.' (Al-Ikmal, 2/355)
Keluar rumah memakai wangi-wangian saja dilarang bagi wanita, apalagi bercampur baur dengan lelaki ajnabi.

4. Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anahuma menyampaikan hadits dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَا تَرَكْتُ فِتْنَةً بَعْدِيْ هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

'Tidaklah aku meninggalkan fitnah (ujian) sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi lelaki daripada fitnah wanita.' (HR. Al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 6880)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits di atas menyatakan wanita sebagai fitnah (ujian/ cobaan) bagi lelaki. Lalu apa persangkaan kita bila yang menjadi fitnah dan yang terfitnah berkumpul pada satu tempat'

5. Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anahu mengatakan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَنَاظِرٌ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

'Sesungguhnya dunia ini manis lagi hijau, dan sungguh Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di atasnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena awal fitnah yang menimpa Bani Israil dari wanitanya.' (HR. Muslim no. 6883)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan lelaki untuk berhati-hati dari wanita. Lalu bagaimana perintah beliau ini dapat terealisir bila ikhtilath dianggap boleh' Bila demikian keadaannya maka jelaslah keharaman ikhtilath.

60 Kriteria Laki-laki Idaman (Ideal) menurut Islam

Rasulullah saw bersabda :“Dan perumpamaan mukmin itu seperti lebah, ia hinggap di tempat yang baik, memakan yang baik, tetapi tidak merusaknya”. (HR. Thabrani)

Yang dimaksud Orang mukmin (orang beriman) yang seperti lebah itu adalah orang mukmin baik laki-laki maupun perempuan.

60 Kriteria Laki-laki Idaman (Ideal) menurut Islam adalah laki laki mukmin (beriman) yang …:

1) Islam menjadi pedoman hidupnya yang utama (QS.6:153);
2) Ikhlas menjadi dasar hidupnya (QS.2:207);
3) Taqwa menjadi bekal hidupnya (QS.2:197);
4) Taat menjadi karakteristik khasnya (QS.3.132);
5) Shalat dan sabar merupakan kekuatannya (QS.8:56;32:24);
6) Tsabat (teguh) merupakan sikap hidupnya (QS.8:45);
7) Ukhuwah Islamiyah menjadi pengikat hatinya (QS.49:10;43:67);
8) Tidak mengenal sikap palsu, kamuflase, banyak tingkah dan takabur (QS.25:63);
9) Ruang jiwanya dipenuhi oleh perhatian dan kepedulian yang besar dan penuh kesungguhan dalam mencapai hadaf (tujuan baik) mereka (QS.28:55);

10) Detik-detik malamnya amat berharga, diisi dengan ibadah Qiyamul Lail/Muraaqabatullah (QS.25:64 : 17:79. 76:26);

11) Senantiasa risau dan amat takut akan azab Neraka Jahanam (QS.25:65-66);
12) Punya ukuran-ukuran yang jelas atas kebenaran dalam kehidupannya (QS.25:67.17:29);
13) Tidak menyekutukan Allah, dan tidak menantang (menyalahi) perintah Allah (QS.25:68-71);
14) Tidak menyia-nyiakan hak orang lain dan tidak menzalimi seorangpun (QS.25:72);
15) Hatinya lurus dan hidup subur, dengan iman yang benar (QS.25:73);
16) Senantiasa menginginkan kebaikan yang dilakukan menjamah dan berlanjut untuk setiap generasi (QS.25:74-76);

17) Senantiasa Jujur dalam perkataan dan perbuatan;
18) Senantiasa menjaga tali silaturrahmi;
19) Senantiasa menjaga amanah yang diberikan;
20) Senantiasa menjaga hak tetangga;
21) Senantiasa memberi kepada yang membutuhkan;
22) Senantiasa membalas kebaikan orang lain;
23) Senantiasa memuliakan tamu;
24) Memiliki sifat malu;
25) Senantiasa menepati janji;
26) Tubuhnya sehat dan kuat (Qowiyyul jismi);
27) Berakhlak baik/mulia kepada sesama makhluk Allah; (Matiinul khuluqi);
28) Senantiasa Shalat tepat pada waktunya;
29) Senantiasa memautkan hatinya ke masjid /Cinta Shalat berjamaah di Masjid;
30) Senantiasa membaca dan mempelajari Al Qur’an dan mengamalkannya;
31) Sederhana dalam urusan dunia dan paling cinta pada urusan akhirat;
32) Paling suka melakukan amar ma’ruf nahi munkar;
33) Paling berhati-hati dengan lidahnya (menjaga lidah);
34) Senantiasa cinta pada keluarganya;
35) Paling lambat marahnya;
36) Senantiasa memperbanyak istighfar, berdzikir dan mengingat Allah swt dan memperbanyak Shalawat Nabi;

37) Senantiasa suka dan ringan berzakat, infaq dan bersedekah;
38) Senantiasa menjaga wudhu;
39) Senantiasa menjaga Shalatnya terutama Shalat wajib;
40) Senantiasa menjaga Shalat sunnat Tahajjud dan Shalat Dhuha;
41) Paling cinta dan hormat pada kedua orang tuanya, terutama ibunya;
42) Cerdas / Pikirannya intelek (Mutsaqoful fikri);
43) Aqidahnya bersih/lurus (Saliimul ‘aqiidah);
44) Ibadahnya benar (Shohiihul ‘ibaadah);
45) Rendah hati (Tawadhu’);
46) Jiwanya bersungguh-sungguh (Mujaahadatun nafsi);
47) Mampu mencari nafkah (Qaadirun’alal kasbi);
48) Senantiasa menjaga dan memelihara lidah/lisan (Hifdzul lisaan);
49) Senantiasa istiqomah dalam kebenaran (Istiqoomatun filhaqqi);
50) Senantiasa menundukkan pandangan terhadap lawan jenis dan memelihara kehormatan (Goddhul bashor wahifdzul hurumat);

51) Senantiasa lemah lembut dan suka memaafkan kesalahan orang lain (Latiifun wahubbul’afwi);
52) Benar, jujur, berani dan tegas (Al-haq, Al-amanah-wasyaja’ah);
53) Selalu yakin dalam tindakan yang sesuai ajaran Islam (Mutayaqqinun fil’amal);
54) Senantiasa pandai memanfaatkan waktu (untuk dunia dan akhirat) (Hariisun’alal waqti);
55) Sebanyak-banyaknya bermanfaat bagi orang lain (Naafi’un lighoirihi);
56) Senantiasa menghindari perkara yang samar-samar (Ba’iidun’anisy syubuhat);
57) Senantiasa berpikir positif dan membangun (Al-fikru wal-bina’);
58) Senantiasa siap menolong orang yang lemah (Mutanaashirun lighoirihi);
59) Senantiasa berani bersikap keras terhadap orang-orang kafir yang memusuhi kita (Asysyidda’u’alal kuffar);

60) Senantiasa mengingat akan datangnya kematian;

Apakah anda atau suami atau (calon) suami/pasangan Anda telah memenuhi ciri-ciri pria idaman menurut Islam seperti di atas ?

Apabila sudah sebagian maka sempurnakanlah dan pertahankanlah, namun apabila belum senantiasa berusahalah untuk menyempurnakannya, karena memang Tidak ada insan yang sempurna, kecuali Rasulullah saw, tapi senantiasa berusahalah menjadi yang mendekati kriteria-kriteria tersebut.

Semoga kita semua dan anak keturunan kita senantiasa diberikan petunjuk dan bimbingan oleh Allah swt untuk bisa menjadi insan dan laki-laki yang baik menurut Islam dan bagi akhwat semoga diberi Allah swt atau bagi akhwat (perempuan) dapat diberikan Allah swt pasangan laki-laki mukmin yang baik menurut Islam seperti disebutkan di atas. Amiin

Wallahualam bissawab

Membedah Makna ''Fi Sabililah'' dalam Al-Qur'an dan Hadits

Bismillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya.

Banyak pertanyaan seputar makna syar'i Fi Sabilillah yang terdapat di dalam Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulillah shallallahu 'alaihi wasallam. Karenanya harus ada upaya menjelaskannya secara gamblang menurut pemahaman pada Salafus Shalih Ridwanullah 'alaihim.

Infak Fi Sabilillah

Kita awali pembahasan ini dengan sebuah ayat yang sering disalah pahami,

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195)

Sebab turunnya ayat ini yaitu ketika para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari kaum Anshar mulai enggan berinfak untuk Jihad fi sabilillah dan mereka lebih mengutamakan urusan pertanian mereka untuk memperbaikinya dan meninggalkan jihad, maka datanglah larangan dari Allah Ta'ala sebagaimana yang dijelaskan Abu Ayyub al-Anshari dalam sebuah hadits. Karenanya, makna menjerumuskan diri ke dalam kehancuran adalah sibuk mengumpulkan harta dan mengurusinya serta meninggalkan jihad. (HR. Muslim, al-Nasai, Abu Dawud dan al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dari jalur Aslam bin 'Imran. Lihat Fathul Baari, Kitab al-Tafsir, VIII/185. Dan keterangan lebih lanjut silahkan baca: Meninggalkan Jihad: Menjerumuskan Diri dalam Kebinasaan).

Imam Bukhari menjelaskan dalam shahihnya tentang ayat di atas, "Ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan nafaqah (infak). Kemudian dijelaskan oleh Ibnul Hajar dalam Fathul Baari tentang ucapan Imam al-Bukhari di atas, yaitu meninggalkan infak fi sabilillah 'Azza wa Jalla. (Fathul Baari: VIII/185)

Makna yang serupa dengan ayat di atas juga terdapat dalam firman Allah,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya fi sabilillah (di jalan Allah. . ." (QS. Al-Baqarah: 261) melalui penafsiran Ibnu Abbas dan Makhul radliyallah 'anhum. Ibnu Abbas berkata, "Dalam jihad dan haji, maka dirham yang diinfakkan dalam keduanya akan dilipatgandakan menjadi 700 kali lipat. Karena inilah Allah Ta'ala berfirman, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji . . ."

Makhul berkata, "Yakni berinfak dalam urusan jihad, seperti menyiapkan kuda yang ditambat untuk berperang, menyiapkan persenjataan, dan selainnya." (Lihat tafsir Ibnu Katsir pada ayat tersebut).

Hijrah dan Jihad

Sebagaimana yang firman Allah Ta'laa:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

"Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak." (QS. Al-Nisa': 100)

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya, bahwa Fadhalah bin Ubaid al Anshari, salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam- melewati dua jenazah. Salah seorang mereka meninggal dunia dalam medan perang terkena lemparan Manjanik dan seorang lainnya, meninggal (bukan karena serangan musuh). Orang-orang condong mengerumuni kuburan seorang yang terbunuh tadi, sementara Fadhalah duduk di sisi kuburan orang yang meninggal satunya. Lalu dikatakan kepada Fadhalah, "Engkau meninggalkan orang yang syahid dan tidak duduk di sisinya?" kamudian Fadhalah menjawab, "Aku tidak perduli akan dibangkitkan dari dua kuburan mana. Sesungguhnya Allah berfirman,

وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوا أَوْ مَاتُوا لَيَرْزُقَنَّهُمُ اللَّهُ رِزْقًا حَسَنًا وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ لَيُدْخِلَنَّهُمْ مُدْخَلًا يَرْضَوْنَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَعَلِيمٌ حَلِيمٌ

"Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun." (Tafsri IbnuKatsir III/201. Kisah ini juga diriwayatkan Ibnul Mubarak dalam kitabul Jihad)

Kalau kita perhatikan dalam kitabullah, kita dapatkan bahwa kalimat hijrah dan jihad sering bergandengan. Berikut ini beberapa hadits Rasulillah shallallahu 'alaihi wasallam yang menjelaskan bahwa hijrah itu untuk jihad.

Dari Abil Khair, Junadah bin Umayyah menyampaikan kepadanya bahwa beberapa laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berincang-bincang. Salah seorang mereka berkata, "Sesungguhnya hijrah telah selesai." Lalu mereka berbeda pandangan tentang hal itu. Kemudian Junadah pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Ya Rasulallah, sesungguhnya orang-orang berkata bahwa hijrah telah selesai. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya hijrah tidak akan terputus selama jihad masih ada." (Hadits shahih riwayat Ahmad)

Dari Abdullah bin Umar radliyallah 'anhuma berkata, Kami datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Para sahabatku masuk terlebih dahulu dan menyampaikan hajatnya, sementara aku pada urutan terakhir. Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apa hajatmu?" Aku menjawab, "Ya Rasulallah, kapan hijrah selesai?" Beliau menjawab, "Hijrah tidak akan terputus selama orang kafir masih diperangi." (HR. Nasai dan Ahmad)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, namun yang ada adalah jihad dan niat. Apabila kalian diperintahkan berjihad, maka keluarlah berjihad'." (HR. Muslim)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Maksud tidak ada hijrah sesudah al-Fathu (penaklukan) adalah Fathu Makkah. Al-Khathabi dan lainnya berkata, "Hijrah adalah kewajiban diawal Islam bagi orang yang telah masuk Islam karena sedikitnya jumlah kaum muslimin di Madinah dan kebutuhan untuk bersama-sama. Ketika Allah sudah menaklukkan Makkah, maka manusia masuk Islam dengan berbondong-bondong. Karenanya, kewajiban hijrah ke Madinah telah habis dan hanya tersisa kewajiban jihad dan niat bagi orang yang melaksanakannya atau ketika musuh masuk menyerang."

Imam al-Thibbi rahimahullah dan lainnya berkata, "Bahwa hijrah yang bermakna meninggalkan negeri yang telah ditentukan (Makkah) menuju Madinah telah selesai, hanya saja meninggalkan negeri karena jihad akan tetap ada."

Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Sesungguhnya kebaikan yang terputus dengan selesainya hijrah dari Makkah menuju Madinah bisa diperoleh dengan jihad dan niat yang baik. . . (Fathul Baari: VI/38-39)

"Fi Sabilillah" Menurut Pemahaman Salafus Shalih

Kita wajib menafsirkan Al-Qur'an dan Sunnah dnegan pemahaman para Salafus Shalih. Artinya, istilah-istilah ini harus kita sesuai dengan pemahaman orang-orang yang memiliki istilah tersebut. Misalnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikan salah satu kelompok penerima zakat adalah fi sabilillah. Kalimat ini secara bahasa maknanya global, yaitu setiap amal yang dilakukan seseorang untuk mendapat pahala dari Allah. Dari sini, seseorang yang memberi makan (menafkahi) istrinya dengan mengharap pahala dari Allah termasuk fi sabilillah. Seseorang yang makan makanan dengan niatan untuk menguatkan badannya guna ibadah kepada Allah juga termasuk fi sabilillah. Maka apabila kita tafsirkan kalimat fi sabilillah seperti itu, maka seseorang boleh memberikan zakat kepada istrinya dengan niatan berharap pahala dari Allah, dan sudah termasuk fi sabilillah. Penafsiran secara linguistik atau lughawi semacam ini bisa menyebabkan kekufuran karena tidak boleh seseorang memberikan zakat untuk dirinya sendiri atau istrinya. Dan ini akan bisa merusak agama Allah.

Karenanya, dalam menafsirkan lafadz lughawi wajib mengembalikan dan mengikatnya dengan pemahaman generasi awal umat ini dan membatasinya dengan makna yang berlaku di tengah-tengah mereka.

Lalu apa pembatas dan ikatan yang digunakan syari'at dalam memaknakan kalimat "fi sabilillah?" pembatas dan pengikatnya adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Dirham yang engkau nafkahkan untuk dirimu sendiri, dan dirham yang engkau nafkahkan untuk istrimu, dan dirham yang engkau nafkahkan fi sabilillah. . . " dari sini kita pahami bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah membedakan antara apa yang dimakan sendiri oleh seseorang dan apa yang dinafkahkannya untuk istrinya serta apa yang dia infakkan fi sabilillah (di jalan Allah). Jadi, menurut istilah syari'at, apa yang dia nafkahkan untuk istrinya bukan termasuk fi sabilillah, walaupun menurut bahasa dia masuk kategori fi sabilillah.

Apa makna istilah yang berlaku di kalangan ulama salaf ketika mereka mengucapkan kalimat "fi sabilillah"? Apa makna yang berlaku dikalangan sahabat ketika mereka mengucapkan kalimat "fi sabilillah"? Kemudian ikatan apa yang ditentukan oleh syariat terhadap lafadz ini ketika kita mengucapkan "fi sabilillah"? jawabannya adalah jihad fi sabilillah. Inilah pendapat yang tepat dalam masalah ini.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memperluas masalah ini ketika ditanya, "Apakah boleh seseorang memberikan hartanya dari zakat mallnya untuk berhaji? Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Haji adalah fi sabilillah." Karenanya, kalimat fi sabilillah dipakai untuk haji dalam kondisi ini saja, tidak dalam setiap kondisi. Para sahabat bertanya tentang haji, karena mereka memahami haji, pada dasarnya, bukan termasuk fi sabilillah. Lalu mereka bertanya tentang haji, bolehkan berinfak untuk haji? Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Haji adalah fi sabilillah." Karenanya, dalam kondisi ini haji termasuk fi sabilillah dan haji tidak selamanya masuk dalam kalimat fi sabilillah menurut Al-Qur'an dan Sunnah, karena adat yang berlaku dikalangan sahabat dalam memahami fi sabilillah adalah jihad. (Disarikan dari khutbah Syaikh Abu Qatadah al Falisthini dengan judul 'Urf al-Shahabah fii fahmi Al-Qur'an)

. . . karena adat yang berlaku dikalangan sahabat dalam memahami fi sabilillah adalah jihad.

Menurut Syaikh Abdullah Azzam rahimahullah, "Adapun kalimat Fi Sabilillah memiliki makna syar'i sendiri, yaitu qitaal (perang). Karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

لَغَدْوَةٌ أَوْ رَوْحَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

"Sungguh pagi-pagi hari atau sore hari berangkat berjihad di jalan Allah lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) dari sini, engkau keluar dari masjidmu lalu mendakwahi manusia termasuk fi sabilillah ... tidak, ini termasuk mengeluarkan nash-nash dari maknanya yang syar'i. Makna pergi pagi-pagi atau di sore hari di jalan Allah adalah pergi pagi-pagi atau pada sore hari ke peperangan, itu lebih baik dari dunia dan apa saja yang ada di dalamnya.

Makna pergi pagi-pagi atau di sore hari di jalan Allah adalah pergi pagi-pagi atau pada sore hari ke peperangan, itu lebih baik dari dunia dan apa saja yang ada di dalamnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,





مَنْ شَابَ شَيْبَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى كَانَتْ لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ



"Barangsiapa yang tumbuh satu uban fi sabilillah (di jalan Allah), dia akan memiliki cahaya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, al-Nasai, dan al-Baihaqi dalam Sunan Kubranya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Shahihah, no. 2555) maknanya adalah di jalan jihad, yang sampai beruban karena menghadapi hiruk pikuk jihad.

Rasullullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَاعَدَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ بِذَلِكَ الْيَوْمِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barangsiapa yang berpuasa satu hari fi sabilillah (di jalan Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka dengan puasanya tersebut sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Ahmad, Nasai, Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan al-Nasai, no. 2245) maknanya adalah di jalan jihad, puasa di dalam jihad. Jika tidak demikian maknanya, maka puasa orang muslim yang benar adalah fi sabilillah.

Kalau begitu, kalimat fi sabilillah, apabila dikehendaki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai makna tunggal adalah perang. (Tarbiyah Jihadiyah, Syaikh Abdullah Azam, II/117-118)

Kalau begitu, kalimat fi sabilillah, apabila dikehendaki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai makna tunggal adalah perang.

Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Apabila kalimat fi sabilillah disebutkan secara global di dalam Al-Kitab dan Sunnah, akan bermakna jihad.” (Tafahiim al-Bukhari: II/80. Disebutkan oleh Syaikh Al-Mujahid Azhar dalam kitabnya Fadhail al-Jihad, hal. 56)

Ibnu Rusyd rahimahullah dalam Bidayatul Mujtahid menyebutkan, “Apabila kalimat fi sabilillah disebutkan secara global akan bermakna jihad.”

Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Ibnul Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari, bahwa kalimat fi sabilillah jika disebutkan secara global, pasti bermakna jihad.

Ibnul Jauzi berkata, “Apabila fi sabilillah disebutkan secara global, maka maksudnya adalah jihad.” (disebutkan oleh Ibnul Hajar dalam Fathul Baari)

Ibnu Daqiq al-‘Ied rahimahullah berkata, “Kebiasaan yang paling sering dalam pemakaiannya (fi sabilillah) adalah dalam jihad.” (Disebutkan dala fathul Baari jilid VI)

Al-Sarkhasi berkata, “Secara global, dipahami darinya (maksud fi sabilillah) adalah jihad.” Disebutkan sendiri oleh al-Sarkhasi dalam Syarah al-Siyar al-Kabir, jilid VI)

Imam Nawawi rahimahullaah berkata, “Secara dzahir maknanya (hadits pergi berjihad di pagi dan sore hari) tidak khusus pada pergi di waktu pagi dan sore hari dari negerinya, tapi pahala ini akan diperoleh pada setiap pagi dan sore hari dalam perjalanannya menuju peperangan. Begitu juga berada di medan peperangan pada waktu pagi dan sore hari, karena semuanya dinamakan fi sabilillah.” (Syarah Shahih Muslim, jilid ke-13) yakni dengan menggabung makna: Di jalan menuju perang dan di medan peperangan itu sendiri. (Dinukil dari Tarbiyah Jihadiyah wal Bina, DR. Abdullah Azam, II/118)

Makna Jihad

Jihad secara bahasa adalah bersungguh-sungguh, berberat-berat, dan bercapek-capek. Adapun menurut syar’i, maknanya adalah qital (perang).

Dari Amru bin ‘Anbasah radliyallaahu 'anhu berkata, ada seorang laki-laki bertanya, “Hijrah apa yang paling utama?” Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, “Jihad.” Dia bertanya lagi, “Apa itu jihad?” beliau menjawab, “Engkau memerangi orang kafir apabila engkau bertemu dengannya.” Dia bertanya lagi, “Jihad apa yang paling utama?” Beliau menjwab, “Siapa yang mengorbankan seluruh hartanya dan dialirkan darahnya.” (Disebutkan secara ringkas dari hadits shahih yang panjang yang marfu’ kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Imam al-Shan’ani berkata, Jihad adalah bentuk masdar dari jaahadta jihaadan, artinya telah sampai pada puncak bersusah-susah. Ini adalah makna lughawi. Sedangkan menurut syar’i, “Mengerahkan seluruh kemampuan/kesungguhan dalam memerangi orang kafir atau pemberontak.” (Subulus Salam: IV/41)

Ibnu Rusyd berkata, “Setiap orang yang mencapekkan dirinya dalam beribadah kepada Allah, sungguh telah berjihad di jalan-Nya. Hanya saja, bahwa jihad Fi Sabilillah apabila disebutkan secara global tidak berlaku kecuali pada memerangi orang-orang kafir dengan pedang sehingga mereka masuk Islam atau menyerahkan jizyah.” (Lihat ‘Umdah al Fiqh hal. 166 dan Muntaha al-Iradaat: I/302)

Setiap orang yang mencapekkan dirinya dalam beribadah kepada Allah, sungguh telah berjihad di jalan-Nya.

Hanya saja, bahwa jihad Fi Sabilillah apabila disebutkan secara global tidak berlaku kecuali pada memerangi orang-orang kafir dengan pedang sehingga mereka masuk Islam atau menyerahkan jizyah.

Ibnu ‘Arafah al-Maliki berkata, “Jihad adalah perangnya orang Islam terhadap orang kafir yang tidak memiliki ikatan perjanjian, untuk meninggikan kalimat Allah atau bertemu dengannya (di medan perang) atau dia memasuki negerinya (orang muslim).” (Haasyiyah Al-Banani ‘ala Syarah khalil II/106)

Ibnu Najam al Hanafi berkata, “Jihad adalah menyeru kepada agama al-Haq (Islam) dan berperang terhadap orang yang tidak mau menerima (menyambut seruan) dengan jiwa atau harta.” (Al-Bahru al-Raa’iq: V/76 juga dalam Fathul Qadiir milik Ibnu Hammam: V/187)

Imam al-Syairazi berkata, “Jihad adalah qital (perang).” (Al-Muhadzab: II/227)

Imam al-Baajuuri al-Syaafi’i berkata, “Jihad: maknanya perang di jalan Allah." Lalu Ibnul Hajar berkata, “Dan menurut syara’: mengerahkan kesungguhan di jalan Allah.” (Fathul Baari, jilid VI)

Syaikh Abu al Mundzir al-Saa’idi hafidzahullah berkata, “Setiap kata jihad yang disebutkan oleh nash tentang makna jihad dengan selain makna ini (qital/perang) harus disertakan qarinah (keterangan) yang menunjukkan makna yang dimaksud. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا

"Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengannya (Al-Qur'an) dengan jihad yang besar." (QS. Al-Furqan: 52) Qarinahya kata ganti dalam Bihi yang kembali kepada Al-Qur’an dan juga ayat ini adalah Makkiyah, pada saat itu belum disyariatkan jihad.

Contoh lainnya dalam sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, ففيهما فجاهد, “Pada keduanya kamu berjihad”, ditujukan bagi laki-laki yang datang kepada beliau ingin berjihad. (Mutafaq ‘alaih dari Abdillah bin Amru radliyallaahu 'anhu.

Mencapekkan diri dengan mengurusi kedua orang tua disebut jihad ditinjau dari masalah yang akan ditimbulkan ketika dia pergi berjihad dengan meninggalkan kedua orang tuanya yang sudah tua, setelah minta izin kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Seolah-olah ada kiasan di antara keduanya, bahwa fungsi dari jihad adalah menghilangkan bahaya yang ditimbulkan musuh sedangkan mengurusi orang tua mendatangkan manfaat terhadap orang tua.

Bahwa kalimat jihad, apabila disebutkan secara global dalam kitabullah dan Sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dan perkataan fuqaha’, maka dibawa kecuali kepada perang.

Abu Qatadah al-Falisthini berkata, “Ijma’ itu terakui sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rusyd. Bahwa kalimat jihad, apabila disebutkan secara global dalam kitabullah dan Sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dan perkataan fuqaha’, maka dibawa kecuali kepada perang. Walau kalimat jihad secara bahasa bermakna mengerahkan kesungguhan dalam rangka menggapai sesuatu atau menolak sesuatu, yang diikat fi sabilillah untuk menunjukkan membela Allah. Kalau begitu, segala sesuatu yang diusahakan seseorang untuk menggapai sesuatu dengan niatan mendapat ridla Allah masuk dalam pengertian jihad secara bahasa. Namun, tidak boleh dijadikan makna pokok. Karenanya, tidak boleh menggunakan makna umum ini untuk menyebut jihad. Seharusnya makna lafadz jihad fi sabilillah dibawa kepada makna yang dipahami dan berlaku penggunaan oleh generasi awal umat ini. Wallahu a’lam bil shawab.

(PurWD/voa-islam.com)

Ditulis oleh Zaid Mahmud dari Majalah Nida’ul Islam. Diterjemahkan dengan sedikit tambahan oleh Badrul Tamam.

Tulisan Terkait:

* Makna Jihad ''Alladzina Jaahaduu Fiinaa''

* Meninggalkan Jihad: Menjerumuskan Diri dalam Kebinasaan

* Jihad: Kewajiban yang Hilang

* Misi Jihad fi Sabilillah

* Harus Ada Niat Untuk Berjihad

Thursday, May 27, 2010

The Taliban From Their Own Words

During wars and after them, the real voice of the enemy is rarely heard. Propaganda is plentiful, as are prideful boasts—and the Taliban have certainly been quick studies at the modern art of information warfare. But the fears and ambitions of ordinary fighters are too often buried under statistics and theories propounded from thousands of miles away. That's been even more true in Iraq and Afghanistan, where reporters who might accurately convey the other side's perspective are at risk of being kidnapped or killed for their efforts.

After eight long years of war in Afghanistan, however, America and its allies can ill afford not to understand who the enemy is and why they fight. To put together this remarkable oral history, told through the words of the Taliban themselves, NEWSWEEK turned to contributing correspondent Sami Yousafzai, who has been covering the conflict for the magazine since 2001. Over that time he has developed and maintained contact with dozens of Afghan insurgents, including the six whose stories are told here.

Working with NEWSWEEK's Ron Moreau, Yousafzai spent more than a month crisscrossing Afghanistan and Pakistan to meet these sources. He has known them all for some time, and in the past their information has generally proved reliable. Their accounts may sometimes be self-serving—most Afghan civilians recall the Taliban regime far less fondly, for one thing—but the facts are consistent with what Yousafzai knows about the men from earlier reporting. While it's impossible to confirm the credibility of everything they say, their stories offer a rare chance to understand how the insurgents see this war, from the collapse of the Taliban, through their revival and, now, their budding ascendancy.

Chapter One: The Fall

'The bombs cut down our men like a reaper harvesting wheat. it felt like judgment day.'
—Maulvi Abdul Rehman Akhundzada

HAQQANI: Two days before the September 11 attacks on America, we were all celebrating the death of [Northern Alliance commander Ahmed Shah] Masood, [who was assassinated by Qaeda agents posing as television reporters]. His forces were already on the verge of defeat, so his death all but assured us of total victory in Afghanistan. But the September 11 attacks turned our cheer into deep concern. We gave those camels [a derogatory Afghan term for Arabs] free run of our country, and they brought us face to face with disaster. We knew the Americans would attack us in revenge.

Realizing the danger, I immediately sent my wife and children to Pakistan. The entire government started to fall apart. I never thought the Taliban would collapse so quickly and cruelly under U.S. bombs. Everyone began trying to save themselves and their families. When the bombing began, I changed out of my usual white mullah's garb, put on an old brown shalwar kameez, and headed for Pakistan. I crossed the mountains on foot, and at the top I turned around and said: "God bless you, Afghanistan. I'll never come back to you under our Islamic regime."

AKHUNDZADA: When the bombing started, I was commanding some 400 fighters on the front lines near Mazar-e Sharif. The bombs cut down our men like a reaper harvesting wheat. Bodies were dismembered. Dazed fighters were bleeding from the ears and nose from the bombs' concussions. We couldn't bury the dead. Our reinforcements died in their trenches.

I couldn't bring myself to surrender, so I retreated with a few of my men in the confusion. Everything was against us. The highway south to Kabul through the Salang Tunnel was blocked. We walked four days in the deep snow without food or water. Kids started shooting at us from the hilltops, hunting us like wild animals.
By the fifth day I could barely walk. I hid my weapon and walked to a village, saying I was a lost traveler and asking for food. The villagers fed me, but I had lost touch with my comrades. I walked on until a minibus came along; I aimed my gun at the driver and forced him to stop. The van was full of Taliban. They said they had no room for me, but I threatened to shoot out their tires unless they took me. I had to lie on the floor with their feet on my body. It was uncomfortable, but I was warm for the first time in days.

A group of local militiamen captured us the next morning at a checkpoint on the Kabul-Kandahar highway. We were nearly dead. Our mouths were dry and cracked, our lips bleeding. It felt like Judgment Day. I lay in their filthy jail for a month before they let me go free, just after the Eid holidays. With the strength I had left, I made it to Peshawar. Our Islamic Emirate had collapsed with less than 40 days of resistance—I couldn't accept that. Allah would let us rise again, I thought, because of all the blood we had spilled for Islam.

KHAN: After the mujahedin began retreating, Arabs, Chechens, and Taliban raced by our house and mosque in Ghazni in convoys of cars, pickups, and trucks, headed to Pakistan. Almost immediately they started getting bombed. So they abandoned their vehicles and started walking, even the wounded. Some injured Taliban, and Arabs with their families, came to seek shelter at my father's mosque. Other villagers wouldn't help them. Only my father and I brought them food.
YOUNAS: When I was a child, my father was a mujahedin commander in the jihad against the Russians, and he sent our family for safety to an Afghan refugee camp in Wana, South Waziristan. After the Taliban's victory [in 1996], he became an official in a ministry in Kabul. I used to visit him on holidays from Wana. The Islamic Emirate's collapse was like a nightmare.

I watched as wounded, disabled, and defeated Taliban fighters straggled into Wana and the surrounding villages, along with Arabs, Chechens, and Uzbeks. Every morning as I went to school I could see them wandering around town, almost like homeless beggars. Little by little, the tribal people started helping them, giving them food. Some people even took them into their houses; at first these once proud jihadis survived, thanks to the people's charity.

The Arabs were disappointed the Taliban hadn't stood and fought. They told me they had wanted to fight to the death. They were clearly not as distressed as the Afghans. That was understandable. The Arabs felt they had lost a battle. But the Afghans were much more devastated—they had lost their country.

MASIHUDDIN: When the Taliban fell, I was a madrassa student in Nuristan. Since all the Taliban officials and militiamen had fled, I decided to continue my studies in Pakistan.

[Then-Pakistani president Pervez] Musharraf imposed new rules on the Pakistani madrassas [in 2002], including a ban on foreign students. So I went to a mosque in an outlying village [near Peshawar] to study and wait for the situation to improve. We were 10 students studying and sleeping in one small room. The people couldn't afford to bring us food, so we often went without dinner. We rarely had electricity. Without a fan it was hard to study, even to sleep. To make matters worse, the Peshawar police were harassing and arresting us. They didn't hold us for long, though—I think they just wanted to frighten us. We began praying for the survival of the Taliban who had fled. There was no reason to pray for victory, since such a return seemed inconceivable.

HAQQANI:My father, brother, and family were at Mansehra [a town in northwestern Pakistan that is home to several Afghan refugee camps]. But I realized it wouldn't be wise to move in with them. Too many people knew who I was, and some had no love for the Taliban. Instead I found a place to stay at a mosque nearby. I had to sneak over at midnight just to see my kids, like a thief. When I was visiting my daughter one night, she asked me about our Kabul home, why we didn't have a car anymore. She complained that it was too hot in the refugee camp, and that she wanted to move back to the cool climate of Kabul. I couldn't answer her. But she could tell from my eyes how sad I was. I was a wreck—nervous, worried, and almost panic-stricken.

AKHUNDZADA: Once proud Taliban mullahs and fighters changed the way they dressed so they wouldn't be recognized. No one wanted to be identified as a Talib. Friends and relatives who had respected me while I was a commander now turned away. I had no money or job. I moved my family to a village in Punjab, far from Afghanistan, to become a day laborer, but I was a failure at it. I couldn't speak the local language, and no one would hire me. So I returned to Peshawar and started selling vegetables from a basket in the market. I began making money. But I couldn't get over the Taliban's collapse, the death of my men. My wife said I was crying in my sleep. I went to a doctor, who gave me some medicine. I was so distracted that when a customer would ask me for potatoes, I'd give him tomatoes.


Chapter Two: The Rebirth

'The end of the Taliban was the start of my Jihadi career.'
—Mullah Aga Mohammad


KHAN: Mullahs like my father became depressed. Under the Taliban they had been very influential, but after the collapse people paid less attention to them. My father was so upset, he had a stroke that left him partially paralyzed. At the end of 2002 the Afghan police raided our mosque. They grabbed my father and hauled him in front of the villagers, accusing him of being with the Taliban. They demanded to know where the Taliban's weapons were stored. They personally insulted him and then threw him in jail. He was 70.

The faithful at our mosque went to the police and complained. People who a few months before seemed to have turned against my father now supported him. They said it was a disgrace for the police to have entered the mosque wearing their shoes, and to have arrested an old, crippled imam. In early 2003 he died.

I was a just a kid, but the police arrested me too, twice—once from my house, once from the mosque. They interrogated me, asking stupid questions like: "Where are the Taliban?" "Where are the weapons hidden?" My family sold our motorbike to raise the money to free me. The police also arrested my brother, who was a schoolteacher. The police even arrested, insulted, and manhandled a 90-year-old mullah in our district. People's attitudes were changing; they were becoming angry at the police and the local officials for the disrespect they were showing toward mosques and mullahs.

YOUNAS: At first I didn't hear the Afghans talking about going back to fight. But the Arabs did, and they encouraged the Afghans and the local tribal people not to give up. Nothing much happened for the first year or so, but then the Arabs started organizing some training camps. The first one I heard about was at Shin Warsak village, near Wana. When I had some time off from school, I decided to visit. I was really impressed. There was more than one camp. One was run by Arabs, and another by Chechens and Uzbeks.

Thanks to my madrassa studies I could speak Arabic; I made friends with Egyptians, Saudis, Libyans, and Yemenis. Nek Mohammad Wazir [a pro-Taliban Pakistani tribal leader who was killed by a June 2004 Predator strike] gave the Arabs places to train and access to weapons and other supplies. They moved openly on the main roads and in the towns and villages, showing no concern about security. I decided to leave my studies and join their resistance.

MOHAMMAD:The end of the Taliban was the start of my jihadi career. My father died in 1994, leaving me to take care of my mother, brothers, and sisters. So I'd had no time to join Mullah Omar's movement. For years I had a very heavy conscience for having missed the jihad. After the collapse of the Taliban in late 2001, many injured and traumatized mujahedin began coming to the mosque in Peshawar where I was the imam. Some of the worshipers asked me outright why I hadn't fought in the jihad like these men.

I needed to make up for not joining the fight. I started asking around if the mujahedin were still active, but no one could give me a real answer. Then one day I heard about a young Afghan named Azizullah who had been in the resistance—he's in jail now in Afghanistan. I went to his house, and told him I wanted to help the resistance against the Americans if it was forming. He lied, saying he was only a poor man and had nothing to do with jihad. Then one day I saw him walking to the mosque. I joined him. He was still hesitant, but finally he said he could help. He gave me directions to a militant camp in Waziristan and a letter of introduction.

HAQQANI: In early 2003 my family and I moved to a rented house near Peshawar. It was
the first time I was living in my own house since 2001. I put my white clerical outfit back on. And suddenly the Taliban's defense minister, Mullah Obaidullah, came to see me—the first senior Taliban leader I had seen since our collapse. He was traveling around Pakistan to rally our dispersed forces. Half the Taliban leadership was back in touch with each other, he said, and they were determined to start a resistance movement to expel the Americans. I didn't think it was possible, but he assured me I could help.

He said to meet him again in two weeks, and gave me an address. I was surprised at the number and rank of the people I found at the meeting. There were former senior ministers and military commanders, all sitting together, all eager to resist the Americans. Obaidullah told me: "We don't need you as a deputy minister or bureaucrat. We want you to bring as many fighters as you can into the field."

AKHUNDZADA: One day a man came to buy vegetables—a mullah who had worked with our jihad in northern Afghanistan for years. We recognized each other. He asked me what I wanted to do: keep selling potatoes or go back to the jihad. I was making about 2,000 rupees [$33] a day, which was good, but I wanted to rejoin the struggle. We went to a meeting at night near Peshawar, and I couldn't believe what I saw: my top commander

[from the northern front], Mullah Dadullah! He was my ideal; his name meant victory for us. My interest in the vegetable business disappeared. After six or seven months I was called to Miran Shah [in North Waziristan]. Dadullah [who would be killed in May 2007] was there; so were Akhtar Mohammad Osmani [who would be killed in December 2006] and our defense minister, Mullah Obaidullah [who would be captured by Pakistani forces in March 2007]. It was decided that each commander should go find his former soldiers and prepare to return to Afghanistan to fight.

I was sent to Quetta, where survivors from my unit had settled. There had been 400 fighters under my command. In Quetta I found 15 of them. They embraced me and the idea of returning to free our land of the American invaders. In North Waziristan we trained, re-equipped, recruited more men, and got ready to return to Afghanistan.

MOHAMMAD:I left my family in the care of my younger brother and traveled to South Waziristan. I ended up at a mosque in a remote mountain village, where a mullah looked at Azizullah's letter of introduction and led me farther into the rugged countryside to a secret place, well hidden among the hills, rocks, bushes, and trees. There were checkpoints guarded by armed men who would not even let locals pass by. A group of 20 or 30 Arab fighters from Saudi Arabia, Yemen, and Egypt met me there, with a few Afghans and Chechens. They were very distrustful and questioned me rather roughly.

Another more senior Arab interviewed me at length. The biggest question he wanted answered was why I hadn't fought in Mullah Omar's jihad. After a few hours I was taken to their leader, Abu Khabab [al-Masri, a senior Qaeda operative and bombmaker who was killed in a July 2008 Predator strike]. He was welcoming, not hostile like the others. He sat by my side on the floor of a mud-brick house and asked me why I wanted to join their struggle and what I thought I could contribute.

Only a few select Arabs and other jihadis were allowed up a mountain near the camp. That's where most of the leadership lived. Some big jihadi stars were there besides Abu Khabab, like Abu Laith al-Libi [a guerrilla-war expert who was killed by a January 2008 Predator strike] and Abu Hamza Rabia [a senior Qaeda planner who was killed by a Predator in late 2005]. Even so, there wasn't much food or money. I thought the mujahedin at the camp seemed disappointed at times because they had little to do. But the Arabs slowly grew friendlier with the locals. Soon local tribesmen were being welcomed into certain sectors of the camp, bringing food, supplies, and money. Some even brought us AK-47s and RPGs.

YOUNAS:In our camp there were about 150 Arabs, along with some Afghans, Chechens, and local tribal militants. The Arab instructors taught us how to fire Kalashnikovs, especially in close-range fighting; how to gather intelligence on the enemy; and how to fire mortars and rockets accurately. It was a friendly place; we all felt a commitment to help and sacrifice for each other. At the start of 2003, the weather became bitterly cold, and the camp closed. But the commander called me back that March. He told me he was working with Nek Mohammad to arrange for one of the first cross-border attacks against American forces in Afghanistan. Even with Nek Mohammad's help, we only had usable weapons for 50 of the roughly 200 mujahedin who had been trained. But 50 of us—a couple dozen Arabs, three or four Afghans like myself, and some Waziri and Mehsud tribals—were armed and ready to go.

MOHAMMAD: The first thing I learned was to shoot, field-strip, and maintain an AK-47. Then we did ambush and guerrilla-war exercises day and night in the hills. The Arabs taught us how to make an IED by mixing nitrate fertilizer and diesel fuel, and how to pack plastic explosives and to connect them to detonators and remote-control devices like mobile phones. We learned how to do this blindfolded so we could safely plant IEDs in the dark.

Discipline was strict. Any trainee who broke the rules could get a severe beating. You had to wake up before dawn every morning for physical exercises and to run in the mountains. Recruits were awakened at all hours of the night so they would learn to be alert in an emergency. I don't see this kind of discipline in camps run by the Afghan Taliban today.

After two months of hard training, we graduated. There were 200 of us: about 160 local tribals, a few Punjabis, and about 40 Afghans like me. We were divided up into 10 groups. Each had two or three Arabs assigned to it as commanders and instructors.

We split up: some groups went to Khost and Paktia provinces, and others to Ghazni and Kandahar. Three of our groups were bombed by the Americans crossing the border. It was very dangerous back then. We had to run quickly and stay out of sight. We didn't want villagers to see us. At that time they weren't very supportive, and there were spies looking for us. We wanted to reach the cover of ravines, rocks, and trees before the sun rose.


Chapter Three: The Taliban Surge

'After these first few attacks, God seems to have opened channels of money for us.'
—Qari Younas

YOUNAS: One night in April [2003], we crossed the border in five pickups and one larger truck. Once we were safely across, we sent the vehicles back to wait for us on the Pakistan side. Our target was a U.S. base just across the border at Machda in Paktika province. We attacked at dawn. I think we really surprised them. We shelled them with 122mm rockets and mortars for about 30 minutes. But we didn't get close enough to fire our Kalashnikovs; before we could move in, American helicopters came, raining rockets and bullets on us. Terrified, I crawled and ran to escape death. Amid the noise and explosions, dust and smoke, I remember seeing six of us cut down and killed: two Arabs, three tribals, and an Afghan.
Still, I was strangely exhilarated. We showed our resolve by fighting, by taking a stand. We knew we'd be back. We carried the stiff and bloodied bodies of our martyrs back to Wana. Thousands of locals attended their funerals, saying it was an honor to witness the burial of these martyrs. People brought flowers, ribbons, colored cloth, and flags to decorate their graves. As the news traveled, a lot of former Taliban began returning to Wana to join us.

HAQQANI:Arab and Iraqi mujahedin began visiting us, transferring the latest IED
technology and suicide-bomber tactics they had learned in the Iraqi resistance during combat with U.S. forces. The American invasion of Iraq was very positive for us. It distracted the United States from Afghanistan. Until 2004 or so, we were using traditional means of fighting like we used against the Soviets—AK-47s and RPGs. But then our resistance became more lethal, with new weapons and techniques: bigger and better IEDs for roadside bombings, and suicide attacks.

KHAN:By the middle of 2004, we were hearing rumors that the Taliban were operating once again in Ghazni. Friends and relatives in other rural districts were saying that armed men were beginning to show up in villages at night on motorbikes. Within a few months, signs of them began appearing everywhere. At first we saw shabnama ["night letters"] that the Taliban were leaving in shops, mosques, and other public places warning people not to cooperate with [Afghan President Hamid] Karzai and the Americans. By the beginning of 2005 the Taliban began targeted killings of police officers, government officials, spies, and elders who were working with the Americans.

One night around midnight someone knocked on the door of our house. We were terrified, fearing that the police had come back to arrest me or my brother once again. But when we opened the door, it was one of my father's former students. He had a Kalashnikov on his shoulder and was a Taliban subcommander already. The two other Taliban he was with also carried AKs and had several hand grenades attached to their belts. This was my first encounter with the Taliban since the defeat. We invited them to spend the night. Early the next morning I accompanied them to the mosque. My father's former student read out the names of those he accused of having betrayed Islam by following Karzai and the infidels. He warned them to cease all contact and to quit any job they may have had with the government or the Americans. He ended by saying he would return in one week.

MOHAMMAD:Those first groups crossing the border were almost totally sponsored, organized, and led by Arab mujahedin. The Afghan Taliban were weak and disorganized. But slowly the situation began to change. American operations that harassed villagers, bombings that killed civilians, and Karzai's corrupt police and officials were alienating villagers and turning them in our favor. Soon we didn't have to hide so much on our raids. We came openly. When they saw us, villagers started preparing green tea and food for us. The tables were turning. Karzai's police and officials mostly hid in their district compounds like prisoners.

YOUNAS: After these first few attacks, God seems to have opened channels of money for us. I was told money was flowing from the Gulf to the Arabs.
Our real jihad was beginning by the start of 2005. Jalaluddin Haqqani's tribal fighters came actively back to our side because the Americans and the Pakistanis had arrested his brother and other relatives. He appointed his son Sirajuddin to lead the resistance. That was a real turning point. Until then villagers in Paktia, Paktika, and Khost thought the Taliban was defeated and finished. They had started joining the militias formed by the Americans and local warlords, and were informing on us and working against us. But with the support of Haqqani's men we began capturing, judging, and beheading some of those Afghans who worked with the Americans and Karzai. Terrorized, their families and relatives left the villages and moved to the towns, even to Kabul. Our control was slowly being restored.

KHAN: My father's former student returned as promised a week later. I decided to join him. I helped assassinate those people who had continued their contacts with the government and the Americans. I didn't want to kill, but I was determined to bring back our Islamic regime and get rid of the Americans and the traitors allied with them.

By the end of 2005 the Taliban's ranks in Ghazni were increasing. There were new recruits like me and more former Taliban returning home from Pakistan. At the same time, we started receiving shipments of RPGs, rockets, mines, and bombs, most of which were old and rusty. My group only had three RPG launchers and only one mortar tube, and a few rounds for each. We had a few rusty Russian mines that only worked about 30 percent of the time. So we could only carry out very quick and limited attacks on convoys, construction crews, and district compounds. At first we didn't have much success. But we were learning. Just firing a mortar, even if it didn't hit the target, was a big deal: it proved to everyone we were there and were a force to be respected.

The Americans and their Afghan allies made mistakes after mistake, killing and arresting innocent people. There was one village in Dayak district near Ghazni City where the people had communist backgrounds, from the days of the Russians, and had never supported us. But the police raided the village, beat the elders at a mosque and arrested them, accusing them of being Taliban. They were freed after heavy bribes were paid. After that incident the whole village sent us a message asking forgiveness for the abuses of the communist era.

AKHUNDZADA: There are famous Taliban poems about how mujahedin come to free villages from occupiers at the point of a bayonet. I began living that poem. My body and mind got stronger and my mental problems disappeared. As word of our success traveled, I was able to organize another group of new, young recruits. They were smarter, more spirited, and better motivated than my former Taliban fighters.
Still, we lacked weapons and money. So I visited Mullah Dadullah. He had gone into Helmand province in early 2006 with 30 people. When he returned months later, he had organized 300 sub-commanders who each had dozens of troops. He had also signed up and was training hundreds of suicide-bomb volunteers. His return was like the arrival of rain after five years of drought.

I gave him a list of our needs. Even before he read the list, he smiled and said: "Whether I am alive or dead, remember this: the resistance will become greater than your greatest expectations. We will return to control Afghanistan." The next day he called me, took a page out of a notebook, wrote something on it, and gave it to me. The note said to go and see this guy and he will help you. Back in Pakistan, I found the man. He kissed Dadullah's letter. After two weeks this man had provided me with all the guns, weapons, and supplies I had requested. Dadullah gave such letters to many people.

MOHAMMAD:Once we sent a shipment for the making of IEDs to our forces in Zabul province. For some reason we forgot to include the remote-control devices. I got an urgent call from the commander asking me to quickly send the missing items. So I hid the remotes among some books and clothes in several travel bags. At Torkham [the Khyber Pass crossing], the police asked me to open the bags. At first I thought I should flee. But where could I run? I started searching for the key to open the bags. There was a long customs queue. The impatient policeman finally said: "You're taking too long. Get out of here."

Another night I was in a hotel in Kabul on a mission to smuggle remote devices and explosives. Afghan police and intelligence were checking all the travelers staying in the hotel. My fellow mujahedin and I hid the bags containing the remotes in the bathroom. The police checked our luggage and pockets. But God blinded their eyes to the bathroom. If they had found the devices I would have ended up in jail for life. All these close calls strengthened my faith and my commitment to the jihad.

HAQQANI: In 2007 I returned to Afghanistan for the first time. I visited the south and spoke to Taliban units, to elders and villagers, and raised new recruits. Mullah Omar has entrusted me with the job of touring towns and villages on both sides of the border to encourage people to support, contribute to, and join the jihad. Between 2006 and 2009 I have personally raised hundreds of new recruits to join the resistance. [In August] I traveled to eight Afghan provinces in 20 days. The unpopularity of the Karzai regime helps us immensely. In 2005 some Afghans thought Karzai would bring positive change. But now most Afghans believe the Taliban are the future. The resistance is getting stronger day by day.


Chapter Four: You Have the Watches, We Have the Time


'We were born here. We will die here. We aren't going anywhere.'
—Mullah Aga Mohammad

MASIHUDDIN: That base on top of the mountain [in Barge Matal] had to go. The Americans there were monitoring our phone calls and walkie-talkies, and they ran intelligence operations with Afghan spies from there. So [last June] we began carefully planning an attack. One of our men said that the mission would be hard even if the Americans only threw stones at us, as we'd be attacking up a steep mountain. Everyone laughed at him, but we knew there was some truth in what he said.
I asked for volunteers, and everyone signed up. As usual we prepared a medical team, including donkeys and stretchers to evacuate our wounded. But as I divided up weapons, ammunition, explosives, and communications gear, it started to rain heavily. The Americans have heavy boots and other mountain equipment that allows them to move up and down the steep rocks. But our men mostly wear leather sandals that don't give us any grip. So we postponed the attack for two weeks.

KHAN: Fighting the Americans is not easy. One night in the summer of 2007, my commander, Mullah Nurla, was killed in an American raid on his house. Other Americans killed 12 of our commanders. All the raids came between midnight and dawn. We found out that the Americans were finding us by tracing our cell-phone calls, and by calls from spies giving away our locations. So we forced the cell companies to stop all transmissions from 6 p.m. to 7 a.m. We still worry about helicopters and bombers, but we are suffering fewer American night raids. I think they just don't have the intelligence they used to have. Fewer people are willing to cooperate with them and betray us.

Our men, on the other hand, are watching American bases 24 hours a day. They inform us of American movements. We used to hit the Americans with roadside bombs and then disappear. Now when we explode an IED, we follow that with AK and RPG fire. We now have more destructive IEDs, mostly ammonium-nitrate bombs that we mix with aluminum shards. We get regular deliveries of these fertilizers, explosives, fuses, detonators, and remote controls. One heavy shipment is on its way right now. I think we are better at making IEDs now than the Arabs who first taught us.

HAQQANI: I admit Taliban commanders are being captured and killed, but that hasn't stopped us, and it won't. Our jihad is more solid and deep than individual commanders and fighters—and we are not dependent on foreigners, on the ISI [Pakistan's intelligence agency], or Al Qaeda. Personally I think all this talk about Al Qaeda being strong is U.S. propaganda. As far as I know, Al Qaeda is weak, and they are few in numbers. Now that we control large amounts of territory, we should have a strict code of conduct for any foreigners working with us. We can no longer allow these camels to roam freely without bridles and control.

MASIHUDDIN: Late Friday afternoon, after prayers, we began to move. We slowly sent our people up the mountain as the shadows lengthened. The mujahedin climbed slowly, steadily. We waited quietly on the ridgeline overnight without fires for warmth or to cook food. We've learned that the Americans are always listening for the smallest sound.

I gave the signal to attack just before sunrise. We started with our mortar and rocket teams shelling the base from the surrounding hilltops. By dawn our mujahedin were almost hugging the base's outer walls. We killed a number of Afghan Army soldiers, and one U.S. soldier who may have been hit in a guard tower. As we fought, our video team filmed our advance. Our mortars, rockets, and RPGs destroyed most of one outer defensive wall. We yelled to those inside to come out and surrender. No one came out. So we set fire to one side of the post and moved around to wait on the opposite side. The smoke forced some, if not all, of the soldiers to abandon the post. During the attack we didn't lose any fighters.
Then American helicopters arrived, firing rockets and machine guns. We fought until sunset. We lost 12 Taliban to martyrdom, largely to the helicopter fire that comes down like heavy rain. We cannot compare our military strength to that of the Americans. But we have learned how to stay protected behind rocks and mountains. Even with all their advanced technology, we forced them to withdraw and captured that base. [Coalition forces retook the post three days later and later abandoned it; a U.S. chronology of the battle differs in some details.]

YOUNAS: Not long ago, when one of my younger brothers got married, my mother asked me: "Boy, when will you marry?" I told her that the day I help to bring the Taliban back to Kabul and restore the Islamic Emirate is the day I will marry. That day may be far away, but I know it will come.
KHAN: The Americans talk about getting Taliban to leave the jihad for their dollars. That's ridiculous. I was engaged to be married a year ago, but I don't have the $1,500 bride price to give to the girl's father or the $500 for the wedding. If I had money, I would not delay my marriage. Who would marry me? You'd be surprised. The people here are not worried about giving their daughter or sister to Taliban, who can get killed within one week of the wedding. They are happy to be part of the jihad.
It's not easy being in the Taliban. It's like wearing a jacket of fire. You have to leave your family and live with the knowledge that you can be killed at any time. The Americans can capture you and put you in dog cages in Bagram and Guantánamo. You can't expect any quick medical treatment if you're wounded. You don't have any money. Yet when I tell new recruits what they are facing they still freely put on this jacket of fire. All this builds my confidence that we will never lose this war.
MOHAMMAD: We never worry about time. We will fight until victory no matter how long it takes. The U.S. has the weapons, but we are prepared for a long and tireless jihad. We were born here. We will die here. We aren't going anywhere.

MASIHUDDIN: In the south the mujahedin have adjusted to Obama's new crusade by making some small strategic withdrawals and fighting back mostly with IEDs. But we mujahedin in Kunar and Nuristan are lucky. These mountains and forests are our protectors. Trees and rocks shelter us everywhere. The Americans can't match us here.
Two or three years ago, U.S. soldiers in the region acted as if they were on holiday. They were taking videos and photos of themselves and walking in the mountains for fun. They were playing games in the open. Those days are over. Now they are forced to keep their fingers on their triggers 24 hours a day.

AKHUNDZADA: Sometimes I think what's happened is like a dream. I thought my beard would be white by the time I saw what I am seeing now, but my beard is still black, and we get stronger every day.

Monday, May 24, 2010

Menggapai Mardhatillah

slam bukan hanya Agama rumus, bukan hanya agama pola dan formula.

Islam adalah Agama perjuangan, agama kesungguhan.

Menjadi seorang Muslim sekaligus menjadi pahlawan yang sanggup berjuang.

Seluruh ajaran Islam, segenap kalimat dan semangat dalam Al-Qur-an dan Hadits Nabi yang menjadi tafsir Al-Kitab itu, semuanya ada tali-temalinya dengan perjuangan, tidak ada yang lepas dari matarantai perjuangan.

Jika Islam bukanlah Agama perjuangan, tidak berhak ia menyatakan diri sebagai Agama yang terachir didunia, tidak berhak dia mengakui Agama yang paling sempurna untuk menjawab seluruh persoalan dunia dan kemanusiaan.

Seorang Muslim menyatakan keyakinan Tauhidnya, membahas upacara per’ibadahan Islam, pergaulan hidup Islam, perdamaian dan persaudaraan manusia, kerukunan antar bangsa, perluasan daerah, susunan masyarakat dan politik-kenegaraan, semuanya itu berhubungan langsung dengan perjuangan, tidak lagi yang lepas daripadanya.

Dikala cahaya fajar menyingsing diufuk Timur, ayam jantan berkokok memuja Tuhannya, segera menggema suara Bilal dari Masjid Nabawy. Gema adzan itu bersambung dari menara kemenara, disegala Masjid dan Mushala seluruh dunia.

Jutaan muadzin yang menyambung suara Bilal memanggil Ummat yang ber Iman.

Adzan dan panggilan itu dibuka dengan kalimat Takbir, Allahu Akbar (Allah Maha Besar), disusul dengan kalimat militan : Hayya ‘alal Falaah ! (Mari merebut Menang !).

Antara kalimat Takbir yang membuka adzan dengan kalimat Hayya ‘alal falaah yang menyusulnya, ada sesuatu yang tidak diucapkan, tapi terasa dalam jiwa daya dan adanya, ............ ialah perjuangan.

Perjuangan membela Kebesaran Tuhan, mempertahankan Keesaan Tuhan, perjuangan merebut dan menegakkan Kehidupan Menang didunia.

Allahu Akbar, laa ilaha illallaah !

Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan kecuali Dia !

Itu kalimat Tauhid !

Kalimat Tauhid itu yang telah mengikat dan menyusun uchuwwah dan jama’ah Islamiyah masa dahulu.

Kalimat Tauhid itu yang telah membentuk Quwwah Islamiyah, kekuatan Islam yang telah menggoncangkan kerajaan Persi dan Rumawi.

Atsarut Tauhid itu yang telah memancarkan kemampuan membangun dan menciptakan sesuatu yang berarti dalam dunia, karya dan jasa Ummat Islam.

Ruhut Tauhid itu yang telah melahirkan pahlawan dan perwira Islam pada abad pertama.

Ajaran Tauhid itu yang telah menuntun Nuh, Ibrahim, Musa dan ‘Isa dalam menunaikan risalah Tuhannya, menghadapi segala manusia dan segala kekuasaan yang menentang.

Kalimat dan semangat Tauhid itu yang telah mengendalikan Nabi Yang Terachir, Muhammad SAW, Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali dalam perjuangan dan pertarungan keyakinan, menghadapi segala manusia dan segala kekuasaan yang hendak memusnahkan dia.

Allahu Akbar !

Dengan kalimat itu Mu’min dipanggil untuk menegakkan Shalat.

Dengan kalimat itu pula Mu’min memulai Shalatnya. Shalat yang dimulai dengan Takbir dan ditutup dengan Salaam (seruan damai dan sejahtera bagi seluruh isi alam)

Mu’min sadar, antara Takbir dan Salaam itu terbentang jalan perjuangan yang jauh, terbuka medan dan gelanggang perjuangan yang luas entah dimana tepinya.

Allahu Akbar !

Kalimat itu juga yang telah menggerakkan Ummat Islam Indonesia dalam Revolusi Agustus yang besar, mengurbankan apa saja yang dimilikinya untuk memenangkan perjuangan bangsa.

Puluhan kali kalimat itu dibaca dan diulang dikala adzan dan iqamat, diwaktu shalat dan dzikir; memperingatkan kepada Ummat Tauhid bahwa mereka adalah Ummat yang berjuang.

Berjuang membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan didunia. Berjuang melepaskan sijelata dari belenggu kezaliman. Berjuang menahan tangan sewenang-wenang dari manusia yang kuat yang hendak menelan dan memusnahkan kaum yang lemah. Berjuang mengembalikan perjalanan seluruh isi alam ini kepada garis-ketentuan kekal, harmoni dan abadi.

Muslim dan Mu’min memantangkan dan mengharamkan dirinya tinggal diam menonton kezaliman, penghisapan oleh manusia atas manusia, pemerasan dan penindasan dari golongan yang kuat berkuasa atas golongan yang lemah, sijelata yang papa.

Hanyalah Iman yang sudah kering dan Tauhid yang sudah layu, yang tidak ambil peduli dengan segala kezaliman dan kesewenang-wenangan.

Iman yang sudah kering dan Tauhid yang sudah layu, itulah tanda dan alamat kemusnahan dan keruntuhan yang pasti tibanya kepada kaum Muslimin.

Jiwa yang segan berjuang, enggan berkurban, takut kulit terkelupas, takut kematian, cinta dunia dan benda, diperhamba oleh dunia dan benda, segala itu adalah alamat telah lenyapnya kuasa Iman dari dada manusia.

Mari pembaca saya ajak menikmati ucapan Sayid Abdurrahman Al-Kawakiby memesankan amanat jihad kepada sahabat-perjuangannya untuk menentang imperialisme Barat, yang dirangkainya dalam bukunya Thabaai’ul Istabdaad :

Wahai bangsaku !

Semoga Tuhan menjauhkan kamu sekalian daripada siksa dan bencana.

Mudah-mudahan Ia melimpahkan kecerdasan kepadamu untuk kehidupan terang mendatang.

Sekiranya para penzalim dan penindas bangsa Barat telah membelenggu tanganmu, telah menyesakkan nafasmu dan menyempitnya dadamu, sehingga merendahkan dirimu dan menghinakan kamu dalam pergaulan hidup ini, sehingga engkau tidak tahan lagi, apakah kamu masih hidup atau sudah menjadi bangkai ?

Sudikah kau memberitakan kepadaku ?

Mengapa kamu rela menerima pimpinan kamu yang zalim dan penindas, sehingga kamu dilemparkan kepada maut-kematian ?

Tidakkah kamu berkuasa menentukan pilihan sendiri, agar kamu mati menurut kehendakmu, tidak menurut kemauan kaum penindas dan pemeras ?

Ataukah memang penganiayaan dan penindasan itu kamu kehendaki, sehingga datang kematian kepadamu ?

Demi Allah, tidak sekali-sekali begitu, tidak !

Jika aku rindu kepada kematian, baik dalam kehinaan atau dalam kemuliaan, baik mati biasa atau mati dalam perjuangan, mati dan kematian itu adalah sama dan tidak berbeda.

Mati adalah kemestian, tak guna ditakuti.

Jika aku merindui kematian, datanglah kematian itu hari ini, jangan ditangguhkan sampai besok, dan hendaklah kematian itu ditanganku sendiri, tidak ditangan musuh-musuhku.

Wahai sahabat perjuangan !

Dengan asma Allah aku menyampaikan harapan kepada kamu semua.

Ketahuilah, aku berkata benar kepadamu.

Aku tahu dan mengerti, bahwa kamu tidak ingin Maut karena mencintai Hidup.

Akan tetapi engkau dungu dan bebal. Kami tidak tahu jalan kearah kematian. Kamu lari mengelakkan Maut, padahal kamu menuju kearah itu.

Jikalau kalian mengerti jalan yang benar, tentulah kamu insaf, bahwa lari dari mati adalah kematian yang sejati; dan tak gentar menghadapi Maut adalah Hidup.

Sesungguhnya takut akan kepayahan, akan mengekalkan kita dalam paya kepayahan itu.

Berani menempuh kepayahan dan mengatasi kesulitan, adalah kesenangan dan kegembiraan yang kekal.

Ketahuilah olehmu, wahai bangsaku, sesungguhnya kemerdekaan, bebas dari belenggu dan cengkraman kaum penindas dan pemeras, sehingga kamu merdeka menjalankan segala perintah Ilahy dan menjauhi laranganNya, adalah laksana syajaratulchuldi (pohon yang kekal abadi dalam sorga jannatunna’im), tetapi pohon itu harus disiram dengan tetesan darah pengurbanan.

Adapun perbudakan dan perhambaan, adalah laksana syajaratuzzaqqum (pohon yang kekal dalam neraka jahim); ia harus disiram dengan pengaliran darah kotor, penghinaan dan jiratan leher selama-lamanya.

Alangkah indah, dalam dan tajamnya ucapan pejuang Islam itu !

Ruh jihad dan semangat kurban yang dipupuk oleh ajaran Tauhid; dengan senyum simpul mencari Maut untuk menemani Hidup yang kekal, langsung mendapat kedudukan terhormat disisi Rabbul Jalil, dalam jannah yang dijanjikan dan dicadangkan buat Mu’minin dan Mujahidin.

Kaum Mu’minin telah menjual diri dan hartanya untuk menebus kehidupan yang kekal itu. Jiwanya telah naik terbang meninggalkan duniawy dan materi.

Sesungguhnya Allah telah membeli dari Mu’minin jiwa dan harta mereka, dengan harga-balasan, bahwa untuk mereka disediakan sorga; tapi hendaklah mereka berjuang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh, itu suatu ketentuan yang dijanjikan, tersebut dalam Taurat, Injil dan Qur-an. Bukankah tidak ada yang sempurna janjinya lebih daripada Allah ? Oleh sebab itu, bergembiralah dengan perjanjian kamu yang janjikan kepadaNya, karena yang demikian adalah bahagia yang besar. ( QS. Al Baraah : 111 )

Wahai Ummat Mu’min !

Apa sebabnya, jika kamu diseru berjuang pada jalan Allah, kamu berat kepada bumi ? Apakah kamu lebih menyukai penghidupan dunia yang rendah ini daripada kehidupan Achirat, padahal penghidupan dunia itu amatlah sedikitnya jika dibandingkan dengan penghidupan Achirat ?

Kalau kamu tidak mau berjuang, Ia akan menurunkan adzab, siksa dan bencana kepadamu, dan Ia akan menggantikan kamu dengan kaum yang tidak serupa dengan kamu, sedangkan kamu tidak kuasa membahayai Dia sedikitpun, karena Allah itu berkuasa atas segala sesuatu.

Berangkatlah dalam keadaan ringan atau berat berjuang dengan harta dan jiwamu dijalan Allah, yang demikian itu adalah baik bagimu, jika kamu tahu.

Orang-orang yang ber-Iman kepada Allah dan Hari Kemudian tidak akan minta tangguh kepadamu untuk mundur daripada berjuang dengan harta dan jiwa mereka, Allah mengetahui orang-orang yang berbakti.

Hanya yang akan minta izin kepadamu yalah orang-orang yang tidak percaya kepada Allah dan Hari Kemudian dan ragu-ragu hati mereka.

Lantaran itu mereka akan bingung dalam keraguan mereka.

( QS. Al-Baraah : 38-39, 41, 44-45 )

Mengapa kamu tidak mau berjuang pada jalan Allah, membela kaum yang lemah, wanita dan pria serta anak-anak (yang karena tak tahan menanggungkan kezaliman) mereka berdu’a kepada Tuhan :

Wahai Tuhan kami ! Keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya zalim ini, dan kirimlah untuk kami langsung daripada Mu Pemimpin dan Pembela kami dalam perjuangan.

( QS. An-Nisa’ : 75 )

Itulah sebagian dari suara Wahyu yang memberi komando kepada Ummat Islam untuk berjuang pada jalan Allah, membela keadilan dan kebenaran, membela kaum yang tertindas dan lemah.

Filosofi Jihad dalam Islam luas maknanya. Keluasan makna Jihad mencakup segala kegiatan dan perjuangan.

Ia bisa meningkat ketaraf Qital (perang) berkuah darah menyabung nyawa, merelakan jiwa berpisah dengan jasad, berpisah ruhani dan jasmani.

Dimedan perang para pejuang hanya mengenal kata-pilihan : binasa atau jaya.

Binasa artinya sorga, dan si Syahid langsung sampai kepangkuan Tuhannya, tidak melalui hisab atau perhitungan. Bau yang harum semerbak dari jannah tempat kaum shalihin itu hinggap keujung hidung para mujahiddin, dan lambaian tangan para bidadari dari taman-firdaus memanggil mereka untuk cepat berangkat kesana, ridla Ilahy menanti, janji Tuhan menunggu dia datang.

Jihad dalam arti yang luas, ialah ketekunan dan kesungguhan berjuang, membela kebenaran dan keadilan dibumi, membela kaum yang lemah dan tertindas, memusnahkan penghisapan dan pemerasan dalam segala bentuknya.

Mengawal dan mengamankan berjalannya Da’wah Islamiyah, melancarkan seruan wahyu keseluruh isi bumi.

Mujahid Islam memulai perjuangan dari dirinya sendiri, melalui riyadlah dan mujahadah, latihan dan kesungguhan, membentuk diri menjadi manusia-teladan bagi segenap manusia lainnya.

Mu’min yang belum merampungkan dalam dirinya, tidak mungkin akan berbuat baik dalam masyarakat bangsanya.

Hanyalah dari manusia yang shaleh akan keluar kreasi yang shaleh pula.

Manusia fasik, bernoda dan durjana, hanya akan menaburkan bencana didunia.

Ruhul Jihad dan ruhul-qurban, itulah tenaga yang menggerakkan segenap Mu’minin dalam mematuhi segenap amar Ilahy, memimpin masyarakat kejalan suci, jalan kebenaran.

Mu’min yang telah merampungkan perjuangan dalam dirinya, meng-Islamkan dirinya, mendapat tugas untuk meluaskan kegiatannya, meng-Islamkan manusia diluar dirinya.

Itulah Alifbata perjuangan yang berhasil : mikro-sistem, bukan makro-sistem.

Sistem yang begitu adalah ajaran Sunnah Ilahy dan Sunnah Nabi.

Mengaji dari Alif, menghitung dari Satu.

Menyusun dari bawah, membersihkan dari atas.

Demikianlah Islam penuntun pemeluknya, mendidik Muslim menjadi pejuang.

Pejuang terhadap dirinya sendiri, menguasai diri sendiri; berjuang dalam masyarakat manusia.

Dihadapinya masyarakat dengan prinsip hidup, keyakinan dan kebenaran.

Keyakinan itu dibelanya dengan segala apa yang dimilikinya, diperjuangkannya dengan segala kesungguhan dan kepenuhan.

Semangat jihad dan jiwa sabil yang dimilikinya, memantangkan dirinya untuk mundur walau setapak. Baginya mundur adalah kematian dan kemusnahan.

Jika niat sudah dipasang, tujuan sudah ditentukan, langkah sudah diayunkan, keadaan sudah diperhitungkan, dia bergerak dan berjuang tiada hentinya.

Esa hilang dua terbilang !, itulah devis pejuang dalam gelanggang.

Memperhitungkan situasi, mengetahui cuaca dan suasana, menyadari kenyataan yang ada.

Pejuang yang sejati, bukan saja hanya memiliki keyakinan, semangat dan ruh berkurban dan berjuang, tetapi juga mengetahui Undang-undang perjuangan dan Undang-undang perhitungan.

Disinilah terletak nilai teori dalam berjuang, Teori merumuskan chiththah perjuangan, meletakkan strategi dan taktik berjuang.

Berjuang tanpa teori, tanpa strategi yang benar, akan menenggelamkan sipejuang itu kelembah politik tambal-sulam dan opportunisme.

Politik tambal sulam yalah memetik hasil-hasil kecil yang dekat, laba sementara; enerzinya habis disitu. Tidak ada kemampuan menciptakan yang asasi, nilai kerja yang seukuran dengan keyakinan perjuangan.

Opportunisme yalah sikap petualangan, halauan perjuangan yang ditentukan oleh gerak angin, kejadian kecil yang terjadi dalam gerak hidup; dia telah menyerah kepada keadaan, menjadi hamba kenyataan.

Amir Syakib Arsalan menyebutkan manusia yang begitu Mustaslim bukan Muslim.

Dihalaman yang lalu kita banyak menggunakan istilah pemikir dan pejuang.

Kedua kata itu kita senafaskan !

Pengalaman masalalu memberi ajaran kepada kita, bahwa banyak terdapat dalam masyarakat kaum Muslimin para pemikir tapi bukan pejuang, dan pejuang bukan pemikir.

Suatu pemikiran yang tidak ada manfa’atnya buat perjuangan, nilainya hanya seharga sampah, hampa. Perjuangan yang tidak dikendalikan oleh pikiran yang jernih dan perhitungan yang matang adalah buta.

Ruh Jihad harus didampingi oleh pemikiran. Semangat Sabil harus disoroti oleh otak Sabil.

Semangat yang meluap-luap yang mau mengepal dunia dan manusia ini dalam tangan sendiri, pasti membawa manusia kepada kalap dan gelap mata; bertindak tanpa perhitungan.

Dia sudah tidak berbuat menurut Sunnah Ilahy dan Sunnah Nabi.

Sunnah Ilahy dan Sunnah Nabi telah menetapkan hukum dan undang-undang perjuangan, hukum dan undang-undang kehidupan, hukum dan undang-undang perhitungan.

Shahibud Da’wah memikul tugas bukan saja menghidupkan ruhul jihad dan ruhul qurban, tetapi memberikan didikan dan pengertian, teori perjuangan dan perhitungan pengurbanan.

Salah satu dari kelemahan perjuangan Ummat Islam sejak puluhan tahun sampai kini yalah, tidak memiliki teori perjuangan dan strategi perjuangan.

Ideologi berjuang tidak disertai teori berjuang, telah membuat kita terkurung dalam lingkaran yang tidak berujung dan berpangkal : disitu-disitu juga, seperti menghesta kain sarung.

Ummat ini harus kita persiapkan bukan saja dalam lapangan semangat, ruh dan jiwa jihad, tapi harus kita persiapkan dengan perlengkapan dan pensyaratan berjuang, tahu membuat perhitungan.

Risalatud Da’wah Islam harus bergerak kearah itu. Mempersiapkan Ummat dengan didikan dengan pengertian, yang menerangi jalan perjuangan.

Mengembalikan ruhul jihad dan ruhul qurban kedalam jantung dan budinya, meningkatkan taraf perjuangan dan memperbesar kemampuan berkurban.

Islam meminta pembelaan dari pemeluknya; keyakinan menuntut pengurbanan.

Kalimatul Haq memanggil segenap Mu’minin dan Mu’minat untuk tanpa-cadangan berjuang menyampaikan dan memperjuangkan dia ditengah-tengah manusia.

Kalimatul Haq itu yang telah membuka daerah dunia yang luas di Timur dan di Barat abad-abad yang silam, karena keperwiraan dan kepahlawanan Juru Da’wah, yang telah mengantarkan seruan Islam sampai ketepi ufuk dunia.

Pahlawan Da’wah yang demikian itu yang dinantikan oleh pemeluk Islam dibumi, yang menghidupkan ruhul jihad dan ruhul qurban dalam jiwa dan sukma Ummat Muhammad SAW.

Mudah-mudahan bertambah banyak didunia golongan angkatan yang digambarkan oleh Nabi dalam Haditsnya :

Akan selalu ada segolongan dari Ummatku yang tegak melahirkan Agama yang benar ini dan tidak merusak kepada mereka penghinaan-penghinaan yang dilancarkan musuh, sehingga datang pembelaan dari Allah.