Monday, February 25, 2013

Hadits Jihad Kecil Ke Jihad Besar

Didalam sebuah hadits Rasulullah mengatakan bahwa “Kami telah kembali dari jihad yang paling kecil menuju jihad yang paling besar.”

Syeikh Al Albani didalam “as Silisilah adh Dha’ifah wa al Maudhu’ah” (5/478) mengatakan bahwa hadits itu adalah hadits munkar.


Al Hafizh al ‘Iraqi didalam “Takhrij al Ihyaa” (2/6) mengatakan bahwa hadits itu diriwayatkan oleh al Baihaqi didalam ‘Az Zuhd” dari hadits Jabir dan dia mengatakan bahwa didalamnya terdapat kelemahan.

Al Hafizh Ibnu Hajar didalam “Takhrij al Kasyaf” (4/114 No. 33) : setelah menceritakan perkataan al Baihaqi mengatakan bahwa ia adalah riwayat dari Isa bin Ibrahim dari Yahya bin Ya’la dari Laits bin Abi Salim dan ketiganya termasuk orang-orang lemah. An Nasai juga mencantumkan hal ini didalam “al Kunna” dari perkataan Ibrahim bin Abi Ablah, salah seorang tabi’in dari penduduk Syam.

Al Albani juga mencantumkan pendapat as Suyuthi didalam “ad Durar” (hal 170) bahwa al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan didalam “Tasdid al Qous” bahwa hadits itu sering diucapkan dan ia adalah dari perkataan Ibrahim bin Abi Ablah di dalam kitab “al Kunna” miliki An Nasa’i.

Asy Syeikh Zakaria al Anshari dalam catatannya terhadap “Tafsir ath Thabari” (1/110) dari Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,”Hadits itu tidak memiki dasar” yang dikuatkan olehnya.

Didalam kesempatan yang lain (1/202) beliau mengatakan bahwa hadits itu diriwayatkan oleh al Baihaqi dan sanadnya lemah. Dan yang lainnya mengatakan,”hadits itu tidak ada sandarannya.”

Adapun perkataan al Khafaji didalam catatan pinggirnya terhadap al Baidhawi (3/316) mengatakan,”didalam sanadnya lemah….”

Hadits itu tidaklah lurus karena tampak lahiriyahnya baik, bagaimana mungkin padahal didalam sanadnya terdapat tiga orang yang lemah. Dan orang-orang yang berbicara tentang itu telah bersepakat dengan kelemahannya?! (As Silsilah adh Dha’ifah juz V hal 459)

Apakah Jihad Yang Paling Besar?

Adapun jihad yang paling besar adalah jihad melawan orang-orang kafir seperti yang dikatakan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah,”Adapun hadits yang diriwayatkan oleh sebagian orang bahwa beliau saw mengatakan saat peperangan tabuk,”Kami kembali dari jihad yang paling kecil menuju jihad yang paling besar” adalah tidak berdasar dan tidak seorang pun yang dikenal meriwayatkan itu dari perkataan maupun perbuatan Nabi saw.”

Syikhul Islam juga mengatakan bahwa jihad melawan orang-orang kafir adalah amal yang paling besar bahkan hal itu adalah yang paling afdhal (utama) yang dianjurkan kepada manusia, firman Allah swt :

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya : “Tidaklah sama antara orang yang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS. An Nisaa : 95)

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya : “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (QS. At Taubah : 19)

Syeikhul Islam juga mencantumkan hadits didalam ash Shahihain yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud berkata,”Aku bertanya,’Wahai Rasulullah amal apakah yang paling utama di sisi Allah?’ Beliau saw menjawab,’shalat pada waktunya.’ Aku bertanya,’kemudian apa?’ beliau saw menjawab,berbuat baik kepada kedua orang tua.” Aku bertanya,’kemudian apa?’ beliau saw menjawab,’’berjihad di jalan Allah.”

Didalam Ash Shahihain juga disebutkan sabda Rasulullah saw saat ditanya tentang amal yang paling utama? Beliau saw menjawab,”Beriman kepada Allah dan berjihad dijalan-Nya.’ Beliau ditanya lagi,’kemudian apa.’ Beliau saw menjawab,’haji yang mabrur.” (Majmu al Fatawa, juz XI hal 198 – 199)

Wallahu A’lam

No comments:

Post a Comment